JAKARTA (Suara Karya): Kepedulian terhadap masa depan pendidikan Indonesia ditegaskan pengurus DPP Beyond Profesional (Bepro) melalui peluncuran program besar bertajuk Sekolah Tanah Air.
Inisiatif itu diumumkan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Bepro yang dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo, di Jakarta, Jumat (27/2/26) malam.
Acara tersebut juga dihadiri Utusan Khusus Presiden RI Bidang Pembinaan Generasi Muda & Pekerja Seni Raffi Ahmad; Anggota DPR RI Komisi VI Kawendra Lukistian; VPCorporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi; serta VP Brand & Marketing Communications Telkomsel, Emir Gema Surya.
Hadir pula tamu VVIP dan VIP, serta jajaran pengurus DPP Bepro dari berbagai wilayah.
Ketua Umum Bepro, Lutfi Dipa menjelaskan, Rapimnas Bepro 2026
menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi, karena bukan saja konsolidasi nasional, tetapi juga penguatan solidaritas antar anggota Bepro dari berbagai daerah di Indonesia.
Bepro yang kini hadir di 23 provinsi akan bergerak melampaui momentum seremonial menuju kontribusi nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kami percaya masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh satu figur, tetapi oleh kekuatan kolektif generasi muda seperti Bepro,” ujar Lutfi.
Melalui program Sekolah Tanah Air, Bepro mengusung Gerakan Gotong Royong 1000 sekolah sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan pendidikan pasca bencana.

Program itu akan dimulai dari wilayah terdampak di Sumatera, dengan menghadirkan sekolah darurat, penguatan kapasitas guru, pembangunan fasilitas belajar, hingga pemberdayaan komunitas lokal agar proses pendidikan tetap berjalan secara berkelanjutan.
“Bagi kami, pendidikan bukan sekadar ruang kelas. Ia adalah fondasi peradaban. Ketika sekolah berhenti, masa depan ikut terancam,” tegas Lutfi.
Ia menambahkan, Bepro memilih hadir secara terukur dan berkelanjutan. Tidak hanya mendukung, tetapi membangun. Tidak hanya bersuara, tetapi bekerja dan memberi dampak nyata.
Rapimnas menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis organisasi, termasuk penyesuaian batas usia maksimal pengurus menjadi 40 tahun serta fleksibilitas penetapan struktur kepengurusan melalui Surat Keputusan Pengurus (SKP).
Langkah itu dinilai Lutfi sebagai upaya memperluas ruang partisipasi profesional muda dan memperkuat efektivitas gerak organisasi.
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha mengapresiasi semangat Bepro dalam menghadirkan wadah kolaborasi bagi profesional muda. Karena generasi muda butuh ruang untuk membangun jejaring dan bekerja lintas sektor demi kemajuan bangsa.
Dalam sambutannya, Giring juga menekankan pentingnya memasukkan nilai-nilai kebudayaan dalam program pendidikan, termasuk Sekolah Tanah Air. Ia mencontohkan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
“Nilai-nilai ini harus menjadi dasar kepemimpinan dan pendidikan kita. Pendidikan tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi juga karakter dan harmoni,” ujarnya.
Bepro sendiri membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, komunitas pendidikan, dan sektor swasta untuk memastikan program Sekolah Tanah Air berjalan optimal.
Target jangka panjangnya bukan hanya membangun fasilitas, tetapi membangun ekosistem pendidikan yang tangguh, inklusif, dan berakar pada nilai gotong royong.
Rangkaian kegiatan RAPIMNAS juga diisi dengan buka puasa bersama dan santunan anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial. Momentum itu menegaskan, bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang arah kebijakan, tetapi juga tentang keberanian memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Bepro berharap semangat solidaritas dan persaudaraan yang terbangun dalam RAPIMNAS 2026 dapat terus terjaga dalam langkah menuju program-program berikutnya yang lebih solid dan berdampak luas bagi Indonesia. (Tri Wahyuni)
