BOGOR (Suara Karya): Setelah terpilih sebagai Sekolah Garuda, kepercayaan diri siswa SMA Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (IBS) Bogor untuk menembus perguruan tinggi top dunia kian meningkat.
Hal itu terlihat pada prestasi puluhan siswa kelas XII yang berhasil mendapat LoA (Letter of Acceptance) dari kampus ternama di berbagai negara seperti Kanada, Australia dan Amerika Serikat. LoA tersebut diajukan untuk mendapat beasiswa dari pemerintah.
“Jika sebelumnya sebagian siswa melihat kampus seperti Harvard, MIT, atau Stanford sebagai mimpi yang terlalu jauh, kini mereka justru melihatnya sebagai target realistis yang bisa diperjuangkan,” kata Direktur Pendidikan Sekolah Cahaya Rancamaya IBS Bogor, Ari Rosandi di area sekolahnya yang luas, di kawasan Rancamaya, Bogor, Rabu (11/2/26).
Ari dalam kesempatan itu didampingi Kepala SMA Cahaya Rancamaya IBS, Sandra Susanto dan Kepala SMP Cahaya Rancamaya IBS, Irwansyah.
Penerimaan itu, menurut Ari, sekaligus menjadi bukti bahwa penguatan sistem akademik, pembinaan portofolio prestasi, serta ekosistem pembelajaran global yang ditawarkan Sekolah Garuda telah membuka akses bagi siswa Indonesia ke kampus-kampus terbaik dunia.
“Pendampingan akademik global, kurikulum internasional, serta exposure terhadap standar seleksi universitas dunia yang dilakukan tim dari Sekolah Garuda membuat siswa lebih siap menghadapi tes internasional, mulai dari kemampuan akademik, bahasa asing, hingga portofolio prestasi,” ungkapnya.
Kepercayaan diri itu tumbuh karena siswa tidak hanya didorong untuk pintar secara akademik, tetapi juga dilatih berpikir kritis, riset mandiri, serta berani berkompetisi di tingkat global.
Sekolah Cahaya Rancamaya terpilih dalam Program Sekolah Garuda yang diinisiasi Pemerintah, karena sejak awal memiliki orientasi global. Hal itu terlihat dalam penerapan dua kurikulum, yaitu nasional dan internasional, yaitu Cambridge serta penguatan pada bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
“Pendekatan yang dilakukan Cahaya Rancamaya selama ini sebenarnya sudah diarahkan berorientasi global. Berkat Sekolah Garuda, standar global tersebut menjadi budaya sekolah,” ucapnya.
Karena itu, lanjut Ari Rosandi, siswa Cahaya Rancamata tidak lagi hanya menargetkan lulus SMA atau masuk PTN dalam negeri, tetapi mulai membidik universitas ranking dunia.
Pendampingan itu tak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru dan manajemen sekolah.
“Dengan demikian, standar global mencakup secara keseluruhan mulai dari siswa, guru hingga manajemen sekolah,” katanya.
Ditanya soal prestasi siswa terkini, Ari Rosandi menyebut, salah satu siswanya baru saja meraih medali emas Absolute Winner Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi dan saat ini mengikuti pelatnas tahap akhir untuk persiapan kompetisi internasional.
Di tingkat internasional, siswa Cahaya Rancamaya juga meraih medali perak dalam kompetisi proyek sains Global Youth Invention and Innovation Fair bidang Biologi yang digelar di IPB.
“Prestasi-prestasi ini menjadi bagian penting dalam membangun portofolio global siswa, mengingat tren seleksi perguruan tinggi dunia kini semakin menekankan rekam jejak prestasi, riset, dan proyek inovasi,” ungkapnya.
Ari Rosandi mengaku senang atas perubahan yang terjadi di kampus ternama dalam negeri seperti ITB dan UI yang membuka jalur khusus bagi para peraih medali olimpiade nasional.
Jika sebelumnya pemenang OSN masih harus bersaing ketat melalui jalur tes umum, kini prestasi tersebut menjadi pertimbangan utama dalam seleksi masuk.
Kebijakan itu dinilai Ari Rosandi memberi keadilan bagi siswa berprestasi tinggi yang selama ini memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata, namun belum tentu unggul dalam sistem tes standar. (Tri Wahyuni)
