Di Kompetisi FSB 2020, Kemampuan Meneliti Siswa Makin Mumpuni

0

JAKARTA (Suara Karya): Kemampuan siswa Indonesia dalam dunia penelitian semakin mumpuni. Hal itu terlihat dalam kompetisi Festival Sains dan Budaya (FSB) 2020 di Sekolah Kharisma Bangsa. Siswa tak hanya paham metodologi penelitian, tetapi juga jago dalam mencari literatur dan pendukung lainnya.

“Hal yang diteliti juga selaras dengan masalah yang ada di masyarakat, seperti pelapis makanan dari getah buah pepaya, teknik mengawetkan daging dan rumput untuk meningkatkan hemoglobin,” kata Presiden Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) Riri Fitri Sari dalam pidatonya menutup FSB 2020 di Sekolah Kharisma Bangsa Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Minggu (23/2/20).

Hadir dalam kesempatan itu Budayawan Emha Ainun Nadjib atau dikenal sebagai Cak Nun, Staf Ahli Bidang Sosial, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Min Usihen serta Staf Ahli Bidang Ketahanan Nasional, Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Marsda TNI Ahmad Sajili.

Sebagai informasi, FSB merupakan penggabungan dua kompetisi besar yaitu Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) yang ke-12 dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (OSEBI) yang ke-6. Ada sekitar 540 siswa usia 6-18 tahun terpilih sebagai finalis tingkat nasional dari 20 provinsi se-Indonesia.

ISPO merupakan olimpiade proyek penelitian dalam bidang sains, teknologi, lingkungan dan komputer. Sementara OSEBI adalah ajang penggalian bakat, kemampuan dan kecerdasan siswa dalam bidang seni dan bahasa Indonesia.

Dengan kemampuan riset yang baik pada siswa, lanjut Guru Besar Teknologi Informasi Universitas Indonesia, bukan mustahil akan banyak tumbuh peneliti di Indonesia. Hal itu diperlukan negara di masa depan, jika merujuk pada tindakan Amerika Serikat yang mencabut nama Indonesia dari daftar negara berkembang.

“Dicabutnya nama Indonesia dari daftar negara berkembang oleh Amerika, pada dua pekan lalu membawa konsekuensi bagi kita. Indonesia harus mulai dengan kebiasaan sebagai negara maju, seperti pemenuhan jam kerja dan produktivitas serta budaya penelitian yang semakin luas.

“Jika kemampuan meneliti siswa didukung orangtua dan sekolah, maka budaya riset akan tumbuh di kalangan mudq. Apalagi mereka bisa menjadi “pahlawan” di masyarakat lantaran berhasil mencari solusi atas masalah yang ada lewat penelitian,” tuturnya.

Prof Riri kembali mengingatkan para siswa untuk tak mudah puas atas hasil yang diperoleh saat ini. Dengan demikian, siswa tak dihinggapi rasa bosan untuk terus meneliti di masa depan. “Ketekunan dalam meneliti harus terus diasah, jangan mudah puas begitu dikenal masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Budayawan Cak Nun berpesan pada pemerintah agar memberi iklim yang baik bagi peneliti di Tanah Air. Karena kendala yang ada selama ini adalah kebijakan pemerintah yang membuat para peneliti pupus harapan.

“Kita melihat banyak peneliti di Indonesia yang hidupnya hancur karena sistem tidak akomodatif. Kondisi itu memupus peluang bagi orang-orang yang inovatif,” ujarnya.

Padahal Indonesia dianugerahi sumber daya manusia dan alam yang berlimpah. Tidak perlu menunggu pengakuan dari negara lain, jika Indonesia saat ini sudah masuk sebagai negara maju. “Kita tak perlu ucapan dari Presiden Trump. Pengakuan itu tidak penting. Karena sejak awal kita harus yakin jika Indonesia itu hebat,” kata Cak Nun menandaskan.

Pada akhir acara Prof Riri menyebut sejumlah siswa pemenang FSB akan menjadi wakil Indonesia dalam kompetisi sains internasional. Antara lain event ASPC, di Thailand yaitu Anindya Hapsari LD dan Danikha NZ dari SMA Semesta, Zaki Zaidan Akbar dan Armand Dwi NZ dari SMAN 3 Malang serta El Shinta dan Yossy Prananda Leksono dari SMAN 1 Tarakan.

Untuk kompetisi Genius, di New York, Amerika yang terpilih adalah Indra Faizatun Nisa dan Novilla D Candra dari MAN 1 Kudus, Jennifer Fukuhara dari Cita Hari Christian School West Campus serta Thoriq Ahmad Izzuddin dan Fairuz Daffa Al Hazza dari MTs Negeri 1 Kota Malang.

Pada kompetisi Infomatrix di Rumania, siswa yang akan hadir adalah Abiyyu Ramadhan Sande dan Chintya Aprilia dari SMAN 7 Sarolangun, Johanes De Britto Krisna Arianta dan Inggita Nirmala Putri Wardhana dari SMAN 5 Surabaya serta
Afina Rahmantya dari SMP Islam Al Azhar 14. (Tri Wahyuni)