JAKARTA (Suara Karya): Meski tidak diimingi-imingi jadi guru ASN (Aparatur Sipil Negara), Mustiko Mulyo bertekad kuat ikut Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pra Jabatan. Bahkan ia rela melepas statusnya sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta.
“Program PPG ini memang tidak menjanjikan pengangkatan, tetapi ketika peluang itu ada, saya sudah ada di barisan paling depan,” kata pria yang akrab dipanggil Tiko itu saat berbincang soal Program PPG Pra Jabatan yang diikuti di kampus Universitas Muhammadiyah Gresik, Jawa Timur, Kamis (30/11/23).
Lulusan prodi matematika Universitas PGRI Adi Buana Surabaya itu menuturkan, sejak kecil sudah bermimpi menjadi guru. Karena itu, kompetensi yang mendorongnya menjadi guru akan dikejarnya. Apalagi jika ada peluang menjadi guru ASN.
“Waktu mendengar Kemdikbudristek meluncurkan Program PPG Pra Jabatan untuk sarjana ilmu-ilmu murni, saya sudah menjadi guru honorer di SMK Kemala Bhayangkari di Sidoarjo selama 1 tahun,” tuturnya.
Status itu terpaksa Tiko lepaskan, karena Program PPG membutuhkan waktu belajar penuh dan konsentrasi. Biaya kesehariannya ditopang dari lembaga bimbingan belajar yang dirintisnya sejak kuliah.
“Perkuliahan di PPG di kampus Universitas Muhammadiyah Gresik sangat membantu saya dalam meningkatkan kompetensi sebagai guru. Saya jadi paham cara belajar mengajar yang benar, bagaimana memanfaatkan teknologi pembelajaran dan hal-hal lainnya,” kata pria berusia 28 tahun tersebut.
Karena itu, Tiko mengaku senang ketika dinyatakan lulus Program PPG Pra Jabatan angkatan pertama. Ia langsung ikut mendaftar seleksi penerimaan guru ASN PPPK yang saat ini sedang dibuka pemerintah.
“Semoga kerja keras saya dalam satu tahun terakhir ini membuahkan hasil, bisa diterima sebagai guru ASH PPPK,” kata Tiko berharap.
Apalagi saat menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Tiko harus bolak balik ke tiga tempat yang lokasinya cukup berjauhan. Rumahnya di Sidoarjo, kampusnya di Gresik dan tempat mengajarnya di daerah Sedayu.
“Sebenarnya tidak ada kendala berarti saat kuliah PPG Pra Jabatan ini. Hanya ketika PPL saya harus bolak balik dari tempat mengajar, tempat kuliah dan rumah. Apalagi kalau berada di jam-jam sibuk yang macetnya sampai 3-4 jam di jalan,” katanya.
Soal pengalaman berkesan selama mengikuti PPG Pra Jabatan, Tiko mengaku senang jika siswa merasa senang setelah diajarkan matematika.
“Saat pertama mengajar matematika di sekolah lama, siswa terlihat tidur-tiduran dengan kepala di meja. Lalu saya menanyakan kenapa berperilaku seperti itu, para siswa menjawab karena mereka tidak suka pelajaran matematika,” kata Tiko.
Ketidaksukaan siswa akan matematika, lanjut Tiko, karena guru sebelumnya galak, yang membuat siswa ketakutan dan berdampak pada penerimaan pembelajaran.
“Akhirnya saya aja siswa belajar di luar kelas. Waktu itu pelajaran trigonometri, saya ajak siswa belajar secara kontekstual seperti menghitung tinggi tiang bendera. Ternyata mereka bersemangat setiap saya mengajar,” katanya.
Tiko juga pernah berkolaborasi dengan komunitas membuat festival matematika untuk anak-anak dhuafa dan anak jalanan. “Mereka bilang baru kali ini belajar matematika tetapi sangat menyenangkan. Anak jalanan itu ternyata mengerti apa yang saya ajarkan,” ujarnya.
Selama masa menunggu proses rekrutmen guru ASN PPPK, Tiko sehari-hari berada di lembaga bimbingan belajarnya. Sambil tetap mencari peluang untuk mewujudkan impiannya menjadi guru.
Ketika ditanya rencana kedepan, jika tidak lolos dalam rekrutmen guru ASN PPPK, Tiko mengatakan, ia akan mencari tempat mengabdi lainnya sebagai guru.
“Mengabdi tidak harus menjadi guru ASN. Karena setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah. Jadi kita bisa mengabdi di mana saja,” kata Tiko menandaskan. (Tri Wahyuni)
