JAKARTA (Suara Karya): Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH), Universitas Terbuka (UT) memiliki sejumlah cara yang mendorong para dosen melakukan penelitian, lalu menerbitkannya di jurnal internasional.
Salah satu caranya, seperti dikemukakan Rektor UT, Prof Ojat Darojat, menggelar konferensi internasional yang menghadirkan narasumber ahli dari kampus luar negeri. Sehingga tercipta jejaring antara dosen UT dengan kampus global.
“Jejaring itu penting untuk membantu para dosen dalam penelitian, baik melalui joint research atau individual,” kata Prof Ojat usai membuka kegiatan Open Society Conference (OSC) ke-5 di kampus UT Pondok Cabe, Jakarta, Rabu (12/9/23).
OSC adalah konferensi internasional yang digelar secara rutin oleh Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Politik (FHISIP) UT. OSC tahun ini bertema ‘Empowering Technology: Humanities, Business & Political Perspectives in VUCA Era’.
Konferensi diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dan secara live streaming di YouTube UT TV.
Ditambahkan, dukungan lain yang diberikan kampus kepada dosen untuk melakukan penelitian adalah anggaran yang cukup. “Kami juga memberi reward kepada dosen yang penelitiannya masuk jurnal internasional terindeks scopus, yaitu uang tunai sebesar Rp40 juta,” ujarnya.
Untuk publikasi yang masuk jurnal internasional bergengsi lainnya, lanjut Prof Ojat, uang tunai yang diberikan Rp30 juta. Jika masuk ke jurnal ilmiah tingkat nasional seperti Sinta, hanyanya sebesar Rp20 juta.
Meski demikian, Prof Ojat juga menerapkan batasan soal reward tersebut. Ia khawatir dosennya sibuk penelitian untuk mengejar reward, tetapi melupakan tugas utamanya sebagai pengajar. “Karena reward itu hanya sebagai penyemangat,” katanya.
Sementara itu Dekan FHISIP UT, Muhammad Husni Arifin, S.Ag, MSi, PhD menjelaskan, tema tersebut dipilih lantaran semakin kompleksnya dunia di era Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous (VUCA).
“Lewat konferensi ini, kami ingin mengambil peran penting dengan menghadirkan wawasan multidimensi yang membahas isu- isu di bidang teknologi, humaniora, bisnis dan perspektif politik,” tuturnya.
Pembicara dalam OSC ada wakil dari birokrat dan teknokrat, yaitu Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr H Emil Elestianto Dardak, B.Bus, MSc.
Selain 4 pembicara panel yakni Steve Nouri founder Al4Diversity dan Chief AI Evangelist dari Australia; Ismail Fahmi founder Drone Emprit dan PT Media Kernels dari Indonesia; Dr Carin Holroyd dari University Saskatchewan Kanada; dan Rahmat Budiman, PhD dari UT.
“OSC menarik perhatian banyak sivitas academika baik dari kalangan dosen, praktisi, tenaga pendidik hingga mahasiswa, dari internal UT maupun dari luar UT,” kata Muhammad Husni Arifin.
Pihak OSC menerima 132 abstrak dan 80 full paper dari para peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri, yang telah diserahkan dan melewati proses seleksi serta peninjauan naskah. Dari jumlah itu, terpilihlah 76 artikel yang dipresentasikan dalam perhelatan OSC ke-5.
“Ratusan peserta dari berbagai kalangan dan sivitas akademika ikut memeriahkan kegiatan konferensi baik secara luring maupun daring,” ucapnya.
Luaran publikasi konferensi OSC bekerja sama dengan Atlantis Press yang terindeks Web of Science dan enam jurnal Sinta 2 akan memberi kontribusi dalam diseminasi hasil konferensi kepada dunia akademik dan industri.
“Diharapkan OSC akan memberi pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana kekuatan kerja sama lintas disiplin dapat membentuk solusi-solusi inovatif guna menghadapi dinamika zaman yang terus berkembang,” kata Muhammad Husni Arifin menandaskan. (Tri Wahyuni)
