JAKARTA (Suara Karya): Menurut kisah masa lalu, minum dan cuci muka dari air sumur tua di Candi Kedaton, kawasan cagar budaya nasional (KCBN) Muarajambi bisa bikin awet muda.
Penasaran dengan kisah itu, sekitar 25 wartawan yang diajak Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemdikbudristek ke cagar budaya tersebut, Sabtu (3/2/24) ramai-ramai ingin membuktikannya.
Setelah 15 menit minum dan cuci muka dengan ‘air suci’, kami saling berpandangan lalu membuka kamera di handphone apakah terlihat ada perubahan.
Kepala Unit Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V Agus Widiatmoko yang hadir dalam kesempatan itu tentu saja tertawa. Perubahan itu tidak mungkin terjadi seketika.
“Air dari sumur tua di Candi Kedaton ini yang konon memiliki efek awet muda, karena setelah diteliti memiliki kandungan PH yang tinggi. Karena sifatnya yang basa bagus buat kesehatan. Itulah kenapa mereka jadi terlihat awet muda dan glowing,” katanya.
Keberadaan air suci di Keraton Kedaton, di KCBN Muarajambi menarik perhatian masyarakat untuk berkunjung ke cagar budaya tersebut. Apalagi kisah tersebut bagian dari sejarah yang berkembang sejak abad ke-7.
Sumur tua tersebut menurut informasi dari penduduk sekitar, katanya tidak pernah kering dan sangat dijaga keberadaannya. Apalagi memiliki sejumlah khasiat yang disampaikan dari generasi ke generasi.
Masih dari informasi yang disampaikan masyarakat sekitar, sumur tua dengan kedalaman 7 meter itu kerap memancarkan aura misteri. Keberadaannya dikaitkan dengan sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Agus Widiatmoko menambahkan, sumur tua itu dulu digunakan sebagai sumber air minum dan kebutuhan sehari-hari bagi penghuni candi dan sekitarnya. Keberadaan sumur juga memiliki nilai strategis dalam memastikan kelangsungan kehidupan di sekitar candi.
Selain fungsi praktisnya, sumur itu juga diyakini memiliki makna spiritual dan mistis. Banyak warga sekitar yang mempercayai bahwa sumur ini memiliki energi kuat dan dapat memberi berkah bagi mereka yang memanjatkan doa di dekatnya.
“Itulah sebabnya, banyak pengunjung yang ke sumur di Candi Kedaton untuk melakukan ritual, seperti mencuci wajah dan meminum airnya.
Sumur tua itu telah diperbaiki dengan menambah batu bata yang disusun rapi. Batu bata diamb dari peninggalan sejarah masa lampau yang sudah tertimbun ribuan tahun.
“Bahan bangunan Candi Kedaton dan sumur air suci ini semuanya asli,” ucap Agus menegaskan.
Batu bata yang digunakan dalam pembangunan sumur ini memiliki kekokohan yang menunjukkan keandalan konstruksi pada masa itu.
Melihat sumur tua di Candi Kedaton adalah pengalaman yang memungkinkan kita untuk menghargai warisan peradaban masa lampau.
Soal rasa, penulis mencoba untuk meminumnya. Airnya terasa segar, seperti rasa air kemasan yang dijual umum. Tak terasa ada bau tanah atau bahan lain setelahnya. “Lumayan buat penghilang dahaga. Karena terasa segar.”
Penasaran ingin mencobanya, yuk berkunjung ke KCBN Muarajambi! (Tri Wahyuni)
