JAKARTA (Suara Karya): Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026 akan mengalami perubahan. Nilai TKA dilaporkan dengan menggunakan skala nilai 200–800, berbeda dari skala 0–100 pada tahun sebelumnya.
Perubahan itu dilakukan untuk memberi gambaran kemampuan akademik murid secara lebih terperinci, melalui metode pengukuran yang memperhitungkan karakteristik soal dan pola jawaban peserta.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik) Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Dr Rahmawati, ST, M.Ed menjelaskan, penggunaan rentang nilai yang lebih lebar berkaitan dengan penerapan Item Response Theory (IRT).
Melalui pendekatan itu, penghitungan kemampuan peserta tidak hanya didasarkan pada jumlah jawaban benar, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kesulitan dan daya pembeda soal yang dikerjakan.
“Kalau sama-sama betul satu, di teori tes klasik selalu akan 0,1, karena dia tidak melihat betulnya di soal yang mana. Tapi kalau di IRT, karena dia betulnya di soal yang mana bisa memberi estimasi yang berbeda,” kata Rahmawati dalam taklimat media, terkait pelaksanaan TKA Jenjang SMA dan Sederajat Tahun 2026, di Jakarta, Jumat (23/10/26).
Hadir Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, ST, M.ICT Adv, D.Phil sebagai moderator, dan Kepala BKPDM Kemendikdasmen, Prof Toni Toharudin secara daring.
Perempuan yang akrab disapa Wati tersebut mencontohkan, dua peserta yang sama-sama menjawab satu soal dengan benar dari sepuluh soal dapat memperoleh estimasi kemampuan berbeda, bergantung pada karakteristik soal yang dijawab.
“Perbedaan estimasi tersebut dapat menjadi kurang terlihat apabila dilaporkan dalam rentang nilai yang sempit,” ucapnya.
Karena itu, lanjut Wati, skala 200-800 digunakan agar variasi hasil pengukuran dapat ditampilkan dengan lebih jelas. Perubahan skala ini bukan berarti kemampuan murid otomatis meningkat atau menurun, melainkan cara pelaporan yang dirancang untuk memberi informasi lebih terperinci.
Hasil TKA Tak sekadar angka
Rahmawati menegaskan, hasil asesmen sebaiknya tidak dibaca hanya berdasarkan skor. Kategori capaian dan penjelasan kompetensi juga perlu diperhatikan untuk mengetahui kemampuan yang telah dikuasai serta bagian yang masih perlu diperkuat.
Bagi murid, informasi tersebut dapat membantu mengenali posisi capaian akademiknya dibanding populasi peserta. Hasilnya juga dapat menjadi bahan refleksi dalam perencanaqn pendidikan lanjutan, termasuk evaluasi kesiapan untuk memasuki program studi yang memiliki persaingan ketat.
“Namun, TKA merupakan tes kemampuan akademik, bukan satu-satunya penentu masa depan peserta. Hasilnya perlu digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menyusun langkah belajar dan pengembangan diri secara lebih terarah,” tuturnya.
Manfaat TKA juga dirasakan oleh guru dan satuan pendidikan. Jika partisipasi peserta semakin luas, hasilnya dapat digunakan untuk memetakan capaian akademik murid dan menyusun strategi pembelajaran sesuai kebutuhan.
Rahmawati mencontohkan, hasil TKA murid kelas VI sekolah dasar dapat menjadi salah satu bahan asesmen awal bagi sekolah menengah pertama untuk mengenali kemampuan akademik peserta didik baru.
“Pendekatan serupa dapat diterapkan pada jenjang berikutnya, termasuk SMA dan perguruan tinggi,” ujarnya.
Dengan pemetaan tersebut, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan tingkat penguasaan kompetensi murid atau menerapkan differentiated learning.
Murid yang telah menguasai materi dapat memperoleh pengayaan, sedangkan mereka yang masih mengalami kesulitan mendapat penguatan sesuai kebutuhannya.
Untuk mendukung pelaksanaan TKA 2026, persiapan instrumen juga telah memasuki tahap akhir. Pada 19 Oktober, tim penyusun soal memfinalisasi tata letak instrumen untuk 75 mata pelajaran.
Pengacakan paket soal lintas sesi dan gelombang dilakukan pada 20 Oktober. Selanjutnya, pada 23 Oktober, data peserta dipadankan dengan sesi, gelombang, dan paket soal berdasarkan mata pelajaran pilihan.
Dan sinkronisasi server sekolah dengan server pusat untuk moda semi daring dijadwalkan pada 25 Oktober.
Rahmawati menjelaskan, pada moda semi daring, internet diperlukan ketika server sekolah melakukan sinkronisasi dengan server pusat dan mengunduh basis data peserta serta paket soal.
“Setelah itu, distribusi soal ke komputer peserta dilakukan melalui jaringan lokal menggunakan kabel. Dengan demikian, koneksi internet tidak diperlukan secara terus-menerus selama pengerjaan tes pada moda tersebut.
Kemendikdasmen berharap hasil TKA dapat memberi gambaran kemampuan akademik yang lebih bermakna bagi murid, orang tua, guru, dan sekolah. Data tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk memperbaiki proses pembelajaran, bukan sekadar menjadi angka dalam laporan hasil
asesmen. (Tri Wahyuni)

