JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) menyiapkan skema khusus bagi peserta Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA dan sederajat yang terdampak bencana.
“Kebijakan tersebut memastikan murid tetap memperoleh kesempatan mengikuti asesmen, tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatan peserta maupun petugas,” kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemdikdasmen, Prof Toni Toharudin yang hadir secara daring, dalam taklimat media terkait pelaksanaan TKA Jenjang SMA/Sederajat, di Jakarta, Jumat (23/10/26).
Hadir dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik), BKPDM, Kemendikdasmen, Dr Rahmawati, dan Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, ST, M.ICT Adv, D.Phil.
Prof Toni kembali menegaskan, sekolah yang kondisinya belum aman tidak akan dipaksakan mengikuti jadwal utama. Pemerintah menyediakan penyesuaian waktu dan pelaksanaan susulan sesuai kondisi di lapangan.
“Layanan yang adil harus memperhatikan perbedaan kondisi peserta. Penyesuaian ini disediakan agar murid, terutama yang terdampak bencana, tetap memperoleh kesempatan mengikuti TKA dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Disebutkan, pelaksanaan TKA jenjang SMA dan sederajat memasuki jadwal hari pertama pada 26 Oktober 2026 di sejumlah wilayah. Untuk melayani peserta, pemerintah membagi pelaksanaan ke dalam beberapa gelombang dan sesi dengan mempertimbangkan kesiapan sarana sekolah serta kapasitas sistem.
Secara keseluruhan, tercatat 3.864.195 peserta mendaftar dari total 4.213.114 peserta yang terdaftar, atau sekitar 91,72 persen. Tingkat pendaftaran peserta SMA mencapai 95,68 persen, SMK 93,1 persen, dan madrasah aliyah (MA) sebesar 99,36 persen.
“Tingginya partisipasi tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan layanan asesmen yang terukur, adil, dan dapat dipercaya,” ucapnya.
Karena itu, sistem jaringan juga disiapkan untuk melayani hingga 900.000 peserta secara bersamaan.
Pada gelombang pertama sesi pertama, jumlah peserta dari seluruh moda mencapai 824.026 orang, termasuk 710.000 peserta yang menggunakan moda daring.
“Jumlah itu masih berada di bawah kapasitas sistem yang disediakan,” ucapnya.
Jadwal Khusus untuk Papua
Prof Toni menjelaskan, Kemdikdasmen melakukan penyesuaian jadwal di sejumlah wilayah Papua untuk mengakomodasi kegiatan keagamaan dan kondisi setempat.
Di Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, pelaksanaan hari pertama yang semula dijadwalkan pada 26 Oktober dialihkan ke 31 Oktober melalui gelombang khusus atau 21 November melalui jadwal susulan, sesuai pengaturan masing-masing wilayah.
Sementara itu, Papua Barat mengajukan pengalihan pelaksanaan hari pertama dari 26 Oktober menjadi 16 November 2026. Di Papua Barat Daya, penyesuaian mencakup dua hari pertama, dari 26-27 Oktober menjadi 16-17 November 2026.
Toni meminta satuan pendidikan untuk memastikan setiap peserta mengetahui jadwal pengganti, sesi, dan lokasi pelaksanaan agar tidak terjadi kekeliruan informasi.
Perubahan kondisi di lapangan juga harus segera dilaporkan melalui dinas pendidikan atau kantor wilayah Kementerian Agama.
“Keikutsertaan sekolah dalam gladi bersih tidak otomatis menjamin seluruh satuan pendidikan siap mengikuti tes pada jadwal utama. Kondisi keselamatan, kesehatan, akses, serta kesiapan sarana harus terus dipantau hingga hari pelaksanaan,” tuturnya.
Gladi bersih berlangsung pada 5-18 Oktober 2026 diikuti sekitar 3.015.860 peserta pada moda daring, dengan tingkat partisipasi 90,9 persen. Adapun moda semi daring diikuti 498.897 peserta dengan partisipasi sekitar 91,79 persen.
Siapkan 50.474 Pengawas
Selain kesiapan teknis, pemerintah memperkuat pengawasan untuk menjaga integritas hasil TKA. Sebanyak 50.474 pengawas ruang dan 1.710 penyelia dari perguruan tinggi disiapkan untuk mengawal pelaksanaan asesmen.
Setiap pengawas ruang bertugas mengawasi sekitar 20 peserta, sedangkan seorang penyelia memantau sekitar 20–25 pengawas ruang secara daring.
Pengawas ruang ditugaskan secara silang antarsekolah melalui penetapan dinas pendidikan atau kantor wilayah Kementerian Agama.
Toni meminta seluruh petugas menjalankan prosedur secara disiplin dan peserta mengerjakan tes dengan jujur. Pengawasan tersebut diperlukan agar hasil asesmen mencerminkan kemampuan masing-masing murid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal senada disampaikan Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, BKPDM Kemdikdasmen, Dr Rahmawati, ST, M.Ed. Ia menjelaskan, persiapan instrumen dan data ujian telah memasuki tahap akhir.
“Pada 19 Oktober 2026, tim penyusun soal memfinalisasi tata letak instrumen untuk 75 mata pelajaran,” ungkapnya.
Pengacakan paket soal lintas sesi dan gelombang dilakukan pada 20 Oktober, kemudian data peserta dipadankan dengan sesi, gelombang, dan paket soal sesuai mata pelajaran yang dipilih pada 23 Oktober.
Untuk moda semi daring, sinkronisasi server sekolah dengan server pusat dijadwalkan pada 25 Oktober. Tahapan tersebut dilakukan guna memastikan kesiapan basis data, ketepatan paket soal, serta keamanan instrumen sebelum pelaksanaan.
Adapun pelaksanaan reguler TKA pendidikan formal dibagi menjadi dua gelombang, yakni 26-29 Oktober dan 2-5 November 2026.
Gelombang khusus untuk mata pelajaran wajib dijadwalkan pada 31 Oktober-1 November, sedangkan mata pelajaran pilihan berlangsung pada 7-8 November.
Bagi peserta yang berhalangan mengikuti jadwal reguler karena bencana, sakit, atau kendala teknis, tersedia jadwal susulan.
Gelombang pertama susulan berlangsung pada 16-19 November dan gelombang kedua pada 23-26 November 2026. Susulan gelombang khusus untuk mata pelajaran wajib dijadwalkan pada 21-22 November dan mata pelajaran pilihan pada 28-29 November.
Ia berharap pengaturan jadwal yang fleksibel, kesiapan teknis, dan pengawasan berlapis dapat memastikan seluruh peserta memperoleh kesempatan mengikuti TKA secara aman dan adil, sekaligus menjaga kepercayaan terhadap hasil asesmen. (Tri Wahyuni)

