JAKARTA (Suara Karya): Inovasi sederhana yang berangkat dari dapur rumah mengantarkan dua siswi SMA Kharisma Bangsa ini meraih prestasi membanggakan di ajang riset sains pelajar.
Dua siswa kelas XI tersebut adalah Winni Naura Inarsih dan Queena Belva Ayra Maulana. Mereka berhasil meraih medali emas dalam kompetisi Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2026 melalui penelitian tentang potensi tempe dari biji trembesi sebagai suplemen antidiabetes.
Penelitian berjudul SUTRADI itu mengkaji potensi serbuk tempe dari biji trembesi (Samanea saman) sebagai agen antihiperglikemik.
“Riset ini kami uji ke mencit yang diinduksi diabetes untuk melihat efektivitasnya dalam menurunkan kadar gula darah (guldar). Hasilnya ada penurunan gula darah,” kata Winni dalam pemaparannya kepada media, di sekolahnya, Minggu (8/3/26).
Ide penelitian tersebut, Winni menjelaskan berawal dari pengalaman pribadi dalam keluarga Queena. Neneknya yang menderita diabetes harus sangat berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, termasuk tempe yang biasa dikonsumsi sehari-hari.
“Di rumah kami memang sering membuat tempe. Dari situ kami berpikir, kenapa tidak mencoba membuat tempe dari bahan lain yang mungkin punya manfaat kesehatan lebih besar,” kata Queena menambahkan.
Dipilihnya biji trembesi, lanjut Queena, karena hasil penelusuran literatur ilmiah menunjukkan tumbuhan tersebut mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid dan saponin yang berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah.
“Berangkat dari temuan ini, kami berdua mencoba mengembangkan tempe dari biji trembesi melalui proses fermentasi,” tuturnya.
Proses penelitian dimulai dari merebus biji trembesi, mengolahnya menjadi bahan tempe, hingga melakukan fermentasi untuk memunculkan senyawa bioaktif yang diharapkan memiliki efek antihiperglikemik.
Setelah itu, mereka melakukan pengujian pada hewan uji untuk melihat potensi manfaatnya. Meski hasil penelitian menunjukkan potensi positif, Winni menegaskan bahwa riset mereka masih pada tahap awal.

“Untuk bisa dikonsumsi manusia tentunya butuh penelitian lebih lanjut dan uji klinis. Penelitian kami baru sampai pada uji hewan, jadi masih perlu penelitian lanjutan agar benar-benar bisa diterapkan,” katanya.
Bagi keduanya, keberhasilan meraih medali emas di ISPO 2026 menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Karena mereka berdua harus mampu menjelaskan, sekaligus mempertahankan hasil risetnya di depan dewan juri dengan latar belakang pendidikan yang tinggi.
“Kami tidak menyangka, riset ini bakal meraih penghargaan tertinggi, yaitu medali emas. Mengikuti ISPO 2026 lalu memberi kami pengalaman yang tak terlupakan,” ucap Winni.
Selain menjadi kebanggaan pribadi, riset juga membuka peluang bagi mereka berdua untuk melanjutkan minat di bidang kesehatan dan biomedis. Winni mengaku ingin melanjutkan studi di bidang kedokteran, sedangkan Queena juga ingin menjadi dokter atau ahli di bidang biomedis.
Prestasi membanggakan juga diraih siswa SMA Kharisma Bangsa lainnya, yaitu Muhammad Zhafif yang berhasil meraih medali emas bidang astronomi pada kompetisi Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026.
Berkat prestasinya tersebut, Zhafif boleh dibilang menjadi salah satu siswa terbaik Indonesia di bidang ilmu antariksa.
Dalam kompetisi itu, Zhafif harus menghadapi berbagai soal yang menuntut pemahaman mendalam tentang konsep astronomi, mulai dari optika teleskop hingga perhitungan matematis yang kompleks.
Keberhasilan meraih emas di OSN 2026 tidak diraih secara instan. Zhafif mengaku harus menjalani proses belajar yang panjang, mulai dari memperdalam teori astronomi hingga berlatih menyelesaikan soal-soal tingkat olimpiade yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Prestasi serupa juga diraih sejumlah siswi SMA Kharisma Bangsa dalam ajang Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (OSEBI) 2026. Penghargaan yang diraih pada kategori seni dan literasi itumulai dari medali perunggu hingga honorable mention.
Medali perunggu diraih Athafunnisa Revliany dalam kategori ilustrasi digital (digital drawing). Sedangkan penghargaan Honorable Mention diraih Benedicta Chelsey Cloe Rantepadang untuk digital drawing category dan Shakira Putri Amalia untuk essay writing category.
Shakira menuturkan, proses pembuatan karya tidaklah singkat. Untuk kategori esai, ia menghabiskan waktu sekitar satu bulan untuk menulis sekaligus memastikan tulisan tersebut siap dipresentasikan di hadapan juri.
“Prosesnya cukup panjang, mulai dari riset sekitar satu minggu, lalu menulis dan menyempurnakan isi esai hingga siap dipresentasikan,” ujarnya.
Dalam esainya, ia mengangkat tema budaya dari Sumbawa, khususnya tradisi yang merepresentasikan nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap tokoh masyarakat setempat.
Menurutnya, kekayaan budaya Indonesia menjadi sumber inspirasi yang menarik untuk diangkat dalam karya tulis.
Untuk kategori ilustrasi digital, baik Benedicta maupun Athafunnisa mengaku mengembangkan konsep visual melalui berbagai referensi dan inspirasi yang diperoleh dari platform kreatif seperti Pinterest.
“Untuk konsep dan pemilihan warna membutuhkan waktu cukup lama, tetapi saat menggambar kami hanya diberi waktu sekitar 5 jam,” kata Benedicta.
Meski menghadapi berbagai tantangan, seperti kehabisan ide saat menulis atau menentukan konsep visual, ketiga siswi berprestasi itu mengaku dapat mengatasinya melalui diskusi dengan pembimbing serta melakukan riset tambahan.
Prestasi di OSEBI 2026 ini menambah daftar capaian siswa Kharisma Bangsa sepanjang tahun, sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas dan kemampuan literasi generasi muda Indonesia terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat nasional. (Tri Wahyuni)
