Suara Karya

P2M Fakultas Bahasa dan Seni UNJ Berikan Pelatihan Cipta Lagu dan Recording Bagi Siswa SMA Labschool Cirendeu Tangerang Selatan Banten

JAKARTA (Suara Karya) : Berbagai cara Program Studi Pendidikan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengenalkan Produksi Musik Menggunakan Digital Audio Workstation. Melalui Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) memberikan pengetahuan musik di SMA Labschool Cirendeu yang berlokasi di Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Kegiatan yang dilaksanakan 21 Mei 2026 dimulai  tahapan persiapan mendasar, Tim P2M melakukan studi penjajakan dan survei lapangan ke sekolah mitra pada bulan April 2026. Tahap pra-pelaksanaan ini bertujuan untuk memetakan kebutuhan serta potensi lapangan melalui metode observasi langsung dan wawancara mendalam bersama Guru Pamong Seni Musik setempat, Ibu Detania Febryanti Komara.

Berdasarkan analisis data survei, tim memperoleh gambaran rinci mengenai kondisi lingkungan belajar, kesiapan serta kecukupan sarana-prasarana pendukung, dan karakteristik kegiatan ekstrakurikuler musik yang sudah berjalan. Dari penelusuran tersebut, ditetapkan sebanyak 25 siswa sebagai peserta target pelatihan. Pada pertemuannya, Tim P2M juga mempresentasikan kerangka materi serta modul pelatihan kepada pihak sekolah, yang berlanjut pada kesepakatan teknis mengenai alokasi waktu dan skema pelaksanaan kegiatan yang terbagi ke dalam dua sesi utama.

Rangkaian pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) dimulai pada Kamis pagi, 21 Mei 2026, dengan kedatangan Tim P2M di lokasi mitra, SMA Labschool Cirendeu, tepat pukul 08.00 WIB. Tahap awal di lapangan berfokus pada persiapan teknis dan kelayakan ruang untuk mengoptimalkan efektivitas Pelatihan Cipta Lagu dan Recording berbasis Digital Audio Workstation (DAW) Logic Pro. Tim segera melakukan penataan tata letak (layout) ruangan serta pengujian fungsi (sound check dan kelistrikan) seluruh peralatan yang akan digunakan.

Guna menjamin kelancaran praktik, Tim P2M mengombinasikan peralatan mandiri yang dibawa oleh tim P2M dengan fasilitas pendukung milik sekolah melalui koordinasi intensif bersama tim sarana dan prasarana setempat. Integrasi perangkat keras dan lunak ini mencakup kesiapan proyektor/infokus untuk pemaparan materi visual, sistem penguat suara (speaker dan mikrofon), laptop pendukung, hingga optimasi perangkat lunak pada tablet dan smartphone milik para peserta yang difungsikan sebagai media praktik mandiri selama pelatihan berlangsung.

Pertemuan Sesi 1 

Sesi pertama pelatihan dilaksanakan pada hari Kamis, 21 Mei 2026, mulai pukul 08.30 hingga 10.00 WIB, mengambil tempat di Ruang Aula SMA Labschool Cirendeu. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan resmi oleh R.M. Aditya Andriyanto, M.Sn., yang dilanjutkan dengan pengenalan seluruh anggota Tim P2M kepada 25 siswa peserta pelatihan. Pada bagian awal ini, tim memberikan pemaparan komprehensif mengenai latar belakang, orientasi, serta tujuan strategis kegiatan. Penjelasan ditekankan pada krusialnya penguasaan teknologi musik modern untuk meningkatkan literasi digital generasi muda, khususnya dalam menunjang proses penciptaan karya lagu dan eksplorasi kreativitas berbasis digital. Melalui program ini, siswa-siswi SMA Labschool Cirendeu diharapkan mampu mengasah kecakapan digital (digital skills) dan membangun kompetensi daya cipta yang berdaya saing di bidang industri kreatif musik.

Masuk pada penyampaian materi inti Sesi 1, Tim P2M membekali peserta dengan landasan teoritis melalui pemaparan 5 Aspek Dasar Dalam Mencipta Lagu, yang masing-masing diintegrasikan secara praktis ke dalam alur kerja produksi musik modern:

Bentuk (Form): Peserta diajarkan cara memetakan dan menyusun struktur lagu secara sistematis—seperti bagian intro, verse, pre-chorus, chorus (reff), bridge, hingga outro. Pemahaman struktur ini menjadi fondasi agar lagu memiliki alur penceritaan musik yang dramatis, proporsional, dan mudah dipahami oleh pendengar.

Melodi: Tim mengulas teknik penyusunan kontur melodi utama (lead melody) yang komunikatif, catchy, dan memiliki karakter eksplisit. Peserta dilatih untuk bereksplorasi dalam menentukan jangkauan nada (range) yang nyaman dinyanyikan sesuai konteks genre lagu yang dipilih.

Harmoni: Pemaparan aspek ini berfokus pada progres akord (chord progression) sebagai dasar pembentuk nuansa dan emosi lagu. Peserta diperkenalkan pada hubungan antar-akord dasar hingga pemanfaatan warna harmoni yang cocok untuk mendukung fondasi melodi yang telah dibuat.

Ritmik: Aspek ini membahas pemilihan pola ritme, tempo, dan groove yang menjadi denyut utama sebuah karya musik. Integrasi ritmik dijelaskan melalui pemanfaatan pola ketukan drum atau instrumen perkusif pada DAW untuk memberikan karakter genre yang jelas (seperti pop, ballad, atau up-tempo).

Lirik: Tim membimbing siswa dalam merangkai bait kata yang memuat pesan emosional, tema yang kuat, serta rimba bahasa yang selaras dengan ritme dan aksentuasi melodi. Lirik diarahkan agar mampu menyampaikan gagasan cerita secara efektif dan relevan dengan audiens sebaya.

Pada kesempatan sesi pertama ini, Tim P2M juga memperkenalkan serta memaparkan strategi pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) generatif sebagai alat bantu pemicu kreativitas (creative assistant) dalam proses penciptaan karya musik. Peserta diajarkan mengoperasikan beberapa platform cerdas, di antaranya ChatGPT yang dimanfaatkan untuk membantu penyusunan eksplorasi lirik, Suno.ai yang difungsikan sebagai pemicu ide awal dalam merancang motif melodi dan nuansa musik, serta Fadr.ai yang digunakan untuk memisahkan elemen stem track audio secara independen.

Melalui gawai masing-masing, baik smartphone, tablet, maupun laptop, para peserta dibimbing mulai dari langkah pembuatan proyek musik baru, penyusunan prompt secara presisi, penambahan track, hingga teknik mengulur ide vokal secara langsung sehingga proses komposisi awal dapat berjalan lebih efisien tanpa mengurangi esensi gagasan orisinal mereka.

Setelah sketsa ide lagu terbentuk melalui asistensi AI, alur kerja produksi dilanjutkan ke dalam Digital Audio Workstation (DAW) Logic Pro yang menjadi pusat pengolahan karya secara profesional. Dalam tahap ini, Tim P2M menekankan krusialnya menjaga kualitas rekaman audio (recording quality) sejak fase awal penangkapan suara. Peserta diarahkan untuk memahami bahwa kejelasan dan kedalaman karya sangat ditentukan oleh disiplin perekaman; apabila ditemukan ketidaksesuaian intonasi atau kesalahan teknis, peserta dibimbing untuk melakukan retake hingga memperoleh hasil audio baku yang paling optimal.

Selain itu, siswa diajarkan teknik penataan audio berbasis multi-track, yakni dengan menyusun dan menumpuk beberapa lapisan (layering) vokal yang mencakup jalur lead vocal sebagai pembawa melodi utama, backing vocal untuk mempertebal tekstur harmoni, serta tambahan elemen musik latar guna memperkaya dimensi emosional karya.
Sumber: dokumentasi tim P2M – Mei 2026)

Sebagai bentuk implementasi langsung dari materi yang telah disampaikan, seluruh peserta yang berjumlah 25 orang dibagi ke dalam lima kelompok kerja, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Setiap kelompok mendapatkan tugas untuk merancang dan merekam sebuah lagu utuh dengan tema spesifik yang telah ditentukan oleh tim pengabdi, mengombinasikan eksplorasi tools AI Suno.ai dengan eksekusi rekaman di DAW Logic Pro.

Sepanjang alur praktik ini, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, para siswa secara aktif menguji coba alur penciptaan lagu, melakukan proses perekaman vokal secara kolaboratif, serta berinteraksi intensif melalui berbagai pertanyaan teknis terkait pemanfaatan perangkat lunak dan teknik produksi musik modern.

2. Pertemuan Sesi 2 

Sesi kedua pelatihan dilaksanakan pada hari yang sama, Rabu, 30 Juli 2025, pukul 10.20 hingga 11.30 WIB. Pada sesi ini, para siswa kembali dibagi ke dalam kelompok untuk melanjutkan eksplorasi dan praktik langsung dalam proyek rekaman menggunakan DAW BandLab. Dengan bimbingan langsung dari tim P2M, setiap kelompok didorong untuk lebih mendalami proses produksi musik digital, khususnya dalam aspek editing, balancing, serta pemanfaatan beragam effect audio yang tersedia dalam platform.

Peserta diberikan ruang untuk berkreasi dan bereksperimen secara mandiri, namun tetap diarahkan secara teknis agar dapat mengoptimalkan kualitas hasil karya mereka. Tim P2M memberikan masukan-masukan yang bersifat teknis maupun artistik, seperti pengaturan equalizer, reverb, delay, dan teknik panning untuk menciptakan dinamika audio yang seimbang dan menarik. Dalam proses ini, peserta juga dilatih kepekaan telinga terhadap detail suara, serta pentingnya menjaga harmoni antara elemen vokal dan musik latar.

Antusiasme peserta sangat terlihat sepanjang sesi berlangsung. Mereka aktif berdiskusi, bertanya, bahkan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar kelompok. Suasana pelatihan terasa hidup dan dinamis, mencerminkan semangat belajar yang tinggi serta ketertarikan mereka terhadap dunia teknologi musik digital. Kehadiran tim P2M sebagai fasilitator turut menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan kolaboratif, sehingga pelatihan berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi seluruh peserta

Pada akhir sesi kedua pelatihan, seluruh kelompok peserta secara bergantian mempresentasikan hasil rekaman dan project musik yang telah mereka kerjakan selama kegiatan berlangsung. Presentasi dilaksanakan di aula tempat kegiatan P2M dengan memanfaatkan audio interface dan perangkat pengeras suara (speaker) sebagai media pemutaran hasil karya. Penggunaan perangkat tersebut bertujuan agar kualitas dan karakteristik audio dari masing-masing karya dapat terdengar dengan jelas oleh seluruh peserta dan tim pelatih. Kegiatan presentasi ini sekaligus menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperoleh pengalaman dalam memperdengarkan serta mengomunikasikan hasil produksi musik yang telah mereka buat menggunakan Digital Audio Workstation (DAW).

Hal yang menarik dalam proses penciptaan karya tersebut adalah kemampuan peserta untuk tidak hanya menghasilkan lagu baru, tetapi juga mengembangkan karya berdasarkan konteks kegiatan seni yang akan mereka ikuti. Beberapa kelompok menyesuaikan tema dan karakter lagu yang diciptakan dengan tema drama teater sekolah yang akan dilaksanakan pada bulan Juli 2026. Dengan demikian, karya musik yang dihasilkan melalui kegiatan pelatihan tidak berhenti sebagai produk pembelajaran, tetapi memiliki peluang untuk digunakan secara nyata dalam kegiatan seni di lingkungan sekolah. Lagu-lagu tersebut selanjutnya direncanakan untuk dinyanyikan dan menjadi bagian dari pertunjukan drama teater sekolah.

Melalui sesi presentasi dan apresiasi karya ini, peserta diharapkan semakin termotivasi untuk menggali serta mengembangkan potensi kreativitas dalam bidang penciptaan lagu dan produksi musik digital. Selain itu, keterampilan dalam menggunakan DAW yang telah diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan oleh peserta, baik untuk mendukung kebutuhan akademik maupun untuk menghasilkan berbagai karya kreatif pada masa mendatang. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan P2M diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi peserta setelah kegiatan pelatihan berakhir.

Setelah seluruh kelompok selesai mempresentasikan dan memperdengarkan hasil karya audio masing-masing, berakhirlah seluruh rangkaian kegiatan P2M dengan judul “Pelatihan Produksi Musik Menggunakan Digital Audio Workstation Bagi Siswa SMA Labschool Cirendeu”. Sebagai penutup kegiatan, tim pelatih P2M dan seluruh peserta saling menyampaikan ucapan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi dan kerja sama yang telah terjalin selama proses pelatihan. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi sekaligus penanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan P2M.

Refleksi Kegiatan dan Program Tindak Lanjut

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) yang dilaksanakan di SMA Labschool Cirendeu pada tanggal 21 Mei 2026 berlangsung dalam satu hari dan terbagi ke dalam dua sesi utama. Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 siswa-siswi aktif SMA Labschool Cirendeu yang menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang baik selama proses pelatihan. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta belum memiliki pengalaman sebelumnya dalam mengikuti pelatihan penciptaan lagu maupun perekaman dan produksi musik menggunakan Digital Audio Workstation (DAW). Oleh karena itu, kegiatan P2M ini menjadi pengalaman baru bagi peserta sekaligus memberikan kesempatan untuk mengenal proses produksi musik digital secara lebih aplikatif.

Meskipun dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat, yaitu hanya satu hari, pelaksanaan pelatihan berlangsung dalam suasana yang dinamis, interaktif, dan partisipatif. Peserta menunjukkan ketertarikan yang tinggi ketika diperkenalkan dengan berbagai teknologi dan aplikasi yang dapat mendukung proses kreatif dalam produksi musik, antara lain creative assistant seperti Suno.ai dan Fadr.ai serta perangkat lunak DAW Logic Pro. Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai fungsi dan pemanfaatan berbagai fitur, tetapi juga diberi kesempatan untuk mencoba secara langsung proses pembuatan dan pengembangan karya musik. Aktivitas yang dilakukan meliputi eksplorasi ide musikal, pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan artifisial dalam proses kreatif, perekaman vokal, pemberian efek suara, hingga penyusunan dan pengolahan proyek audio secara individu maupun berkelompok.

Interaksi selama pelatihan juga menunjukkan adanya rasa ingin tahu yang cukup tinggi dari peserta. Hal tersebut terlihat dari keaktifan mereka dalam mengajukan pertanyaan, berdiskusi dengan tim pelatih, mencoba berbagai fitur yang tersedia, serta menyampaikan gagasan-gagasan kreatif dalam proses pengerjaan proyek. Keterlibatan peserta dengan demikian tidak hanya terlihat dalam aktivitas teknis, tetapi juga tercermin melalui keberanian untuk bereksperimen, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, serta motivasi untuk memahami proses produksi musik digital. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pendekatan pembelajaran yang bersifat praktik langsung dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan relevan bagi peserta didik.

Kegiatan P2M ini pada dasarnya tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengenalan teknis mengenai penciptaan lagu dan penggunaan DAW, tetapi juga menjadi sarana untuk mendorong peserta dalam mengembangkan kreativitas dan mengekspresikan gagasan melalui media musik. Pemanfaatan teknologi digital dalam proses penciptaan memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta untuk mengeksplorasi ide, mengembangkan konsep musikal, serta menghasilkan karya berdasarkan pengalaman dan lingkungan mereka. Antusiasme yang ditunjukkan peserta selama kegiatan memperlihatkan bahwa teknologi digital dapat menjadi media yang potensial untuk mendukung pengembangan bakat dan keterampilan kreatif siswa. Dengan demikian, pelatihan ini memberikan wawasan baru bahwa teknologi tidak semata-mata digunakan sebagai sarana konsumsi hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara produktif untuk menghasilkan karya seni dan konten kreatif.

Kendala dan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan

Disamping berbagai capaian positif yang diperoleh, pelaksanaan kegiatan P2M juga menghadapi sejumlah kendala yang perlu menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan serupa pada masa mendatang. Beberapa kendala yang teridentifikasi selama proses pelatihan antara lain sebagai berikut.

1. Ketidakseragaman perangkat yang digunakan peserta

Peserta menggunakan perangkat yang beragam, mulai dari smartphone, tablet, hingga laptop. Perbedaan jenis dan spesifikasi perangkat tersebut menyebabkan adanya variasi dalam tampilan antarmuka maupun fitur aplikasi yang digunakan. Kondisi ini berpengaruh terhadap proses penyampaian instruksi karena tata letak menu, ikon, maupun ketersediaan fitur pada setiap perangkat tidak selalu sama. Akibatnya, sebagian peserta memerlukan penyesuaian dan pendampingan tambahan agar dapat mengikuti tahapan praktik secara optimal. Kondisi ini menjadi catatan penting bahwa pelatihan produksi musik digital akan lebih efektif apabila terdapat keseragaman perangkat atau setidaknya pemetaan perangkat peserta sebelum kegiatan dilaksanakan.

2. Terbatasnya pengalaman peserta dalam bidang musik digital

Kendala berikutnya berkaitan dengan latar belakang dan pengalaman peserta yang relatif beragam. Sebagian besar peserta belum pernah mengikuti pelatihan khusus yang berkaitan dengan musik, seperti kursus alat musik, pelatihan produksi musik, maupun pembelajaran mengenai teknologi audio digital. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat pemahaman peserta terhadap istilah dan konsep teknis produksi musik menjadi berbeda-beda. Materi yang berkaitan dengan proses perekaman digital, pengaturan audio, penggunaan efek, maupun pengoperasian DAW membutuhkan penjelasan dan pendampingan secara bertahap agar dapat dipahami oleh peserta yang masih berada pada tahap pengenalan.

3. Kurangnya rasa percaya diri dalam proses perekaman

Beberapa peserta juga menunjukkan rasa kurang percaya diri ketika diminta melakukan proses perekaman vokal. Hal tersebut merupakan kondisi yang cukup wajar, terutama bagi peserta yang belum terbiasa mendengar hasil rekaman suara sendiri atau belum memiliki pengalaman tampil dan melakukan perekaman di lingkungan yang baru. Untuk mengatasi kendala tersebut, tim P2M memberikan motivasi dan pendampingan secara langsung kepada peserta agar mereka merasa lebih nyaman dan berani mengekspresikan diri. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada hasil teknis rekaman, tetapi juga membangun suasana yang mendukung sehingga peserta dapat berproses tanpa merasa terbebani oleh tuntutan kesempurnaan hasil.

Respons dan Dampak Kegiatan terhadap Peserta

Meskipun terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan, secara keseluruhan respons peserta terhadap kegiatan P2M menunjukkan kecenderungan yang sangat positif. Peserta memperoleh pengalaman baru mengenai pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari proses penciptaan dan produksi karya audio. Salah satu temuan menarik dari kegiatan ini adalah munculnya pemahaman peserta bahwa perangkat yang selama ini mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya smartphone, tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan, tetapi juga memiliki potensi untuk digunakan sebagai perangkat produksi kreatif.

Melalui pelatihan yang diberikan, peserta diperkenalkan pada berbagai kemungkinan pemanfaatan perangkat digital untuk menghasilkan konten audio, seperti musik, narasi podcast, voiceover, hingga berbagai bentuk dokumentasi suara lainnya. Pemahaman tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif peserta mengenai fungsi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai media untuk mengakses atau mengonsumsi konten, tetapi juga sebagai instrumen produktif yang dapat digunakan untuk menciptakan, mengolah, dan mendistribusikan karya.

Pengalaman tersebut sekaligus memberikan kontribusi terhadap penguatan literasi digital peserta, khususnya dalam bidang produksi dan pengolahan audio. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai penggunaan aplikasi, tetapi juga mulai memahami tahapan dasar bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi produk audio melalui proses kreatif dan teknologi digital. Dengan demikian, kegiatan P2M ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran peserta mengenai pentingnya penguasaan teknologi secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab.

Program Tindak Lanjut

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim P2M merencanakan adanya kegiatan pendampingan lanjutan yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pelatihan berkala maupun kelas intensif. Program tindak lanjut tersebut akan diarahkan pada pendalaman keterampilan produksi musik digital dengan memanfaatkan DAW BandLab. Pemilihan platform tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta untuk terus berlatih menggunakan teknologi produksi musik dengan perangkat yang lebih mudah diakses dan digunakan secara berkelanjutan.

Program pendampingan lanjutan dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis peserta dalam mengoperasikan DAW, tetapi juga untuk mengembangkan kreativitas dalam menciptakan dan mengolah karya audio. Materi dapat dikembangkan secara bertahap, mulai dari proses penciptaan ide musikal, penyusunan struktur lagu, perekaman, pengolahan suara, penggunaan efek audio, hingga proses penyelesaian karya. Selain keterampilan teknis, aspek kepercayaan diri peserta juga perlu terus dibangun agar mereka semakin berani mengeksplorasi gagasan dan menghasilkan karya secara mandiri.

Untuk mendukung keberlanjutan proses pembelajaran, tim P2M juga merencanakan pembentukan ruang kolaborasi antara peserta dan tim pelatih melalui platform daring. Ruang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi, konsultasi, diskusi, berbagi materi pembelajaran, serta publikasi dan apresiasi terhadap karya yang dihasilkan peserta. Dengan adanya interaksi yang tetap terjaga setelah kegiatan tatap muka selesai, peserta diharapkan memiliki ruang untuk terus berlatih dan memperoleh umpan balik terhadap perkembangan karya mereka.

Keberlanjutan program tersebut diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dibandingkan dengan pelatihan yang hanya berlangsung dalam satu kali pertemuan. Peserta tidak hanya memperoleh pengalaman sesaat dalam menggunakan teknologi produksi musik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan secara bertahap dan berkelanjutan. Pada akhirnya, program tindak lanjut ini diharapkan mampu meningkatkan literasi digital, kreativitas, keterampilan produksi musik, serta kepercayaan diri siswa dalam menghasilkan karya berbasis teknologi. Keterampilan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat baik dalam mendukung proses pembelajaran di sekolah maupun sebagai bekal bagi peserta untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya pada masa mendatang.

Tim Pengabdian :

Ketua : R.M. Aditya Andriyanto, S.Pd., M.Sn. (0009028505)

Anggota Pengabdian: Rien Safrina, M.A. Ph.D (0004086107)

Anggota Pengabdian:  Ryan Gredy Aprianno, S.Pd., M.Sn. (0022049403)

Anggota Mahasiswa Pengabdian: Rafeyfa Asyla Ryanti  (1208624016)

Anggota Mahasiswa Pengabdian: Muhammad Randy Pradana (1208624137)

Anggota Mitra : Detania Febryanti Komara, S.Pd. (Instansi Mitra)

Related posts