JAKARTA (Suara Karya): Cara cepat untuk langsing adalah mengurangi makan hingga defisit kalori dan olahraga gila-gilaan. Tapi itu tidak bertahan lama. Biasanya berat badan akan sulit turun lagi, lalu secara perlahan berat badan melambung lagi seperti sebelum diet.
“Defisit kalori dan olahraga memang bisa menurunkan berat badan, tapi jangan lakukan secara gila-gilaan. Tubuh yang stress, justru akan menyimpan lemak untuk pertahanan,” kata ahli nutrisi dan kebugaran, dr Yovi Yoanita di Jakarta, akhir pekan lalu.
Pernyataan itu disampaikan dr Yovi dalam peluncuran bukunya yang berjudul ‘Conscious Diet’ atau diet berkesadaran. Buku tersebut diharapkan dapat menginspirasi kesadaran baru di masyarakat dalam pola makan sehat.
Sebelum diet, lanjut dr Yovi, penting untuk memahami kaitan antara hormon, level stress, kadar gula dan bentuk tubuh. Sehingga bisa dimengerti, bagaimana pola makan bisa dipengaruhi oleh level stress yang tidak diketahui dalam tubuh.
“Yang bahaya jika stress dalam tubuh kita larinya ke makanan untuk rasa nyaman. Gara-gara lihat hujan, tiba-tiba ‘craving’ pingin makan mie instant pakai cabe rawit. Padahal, satu jam lalu habis makan berat,” ujarnya.
Karena itu, menurut dr Yovi, pentingnya berkesadaran (conscious) saat hendak makan. Terapkan 4D jika dorongan itu datang. Pertama, Delay. Ketika keinginan makanan manis seperti cake, coba beri jeda 25-30 menit dengan cara mendengarkan lagu.
Kedua, Distract dengan cara mengalihkan pikiran ke hal lain. Waktu 30 menit bisa digunakan untuk melakukan hal lain seperti menyiram bunga, main gim sederhana atau sekadar mendengarkan musik.
Ketiga, Decide. Jika keinginan itu ada setelah menunda 30 menit, maka tanya ke diri apakah butuh makanan itu untuk tubuh? Seringkali ombak keinginan akan reda setelah 30 menit. Sehingga Anda sudaj bisa berpikir jernih dan menyadari keinginan itu.
Keempat, Drink Water. Minum air putih membantu tubuh dan pikiran menjadi rileks. Sehingga bisa berpikir tenang dan bisa mengatur yang ada dalam pikiran.
Dr Yovi juga mengingatkan, diet harus menjadi gaya hidup untuk mencapai tujuan kesehatan, bukan sekadar ikut-ikutan yang lagi trend. Sehingga upaya penurunan berat badan akan berkelanjutan.
“Buku ini adalah sari dari pengalaman saya berjuang dengan kegemukan di usia remaja. Berbagai macam diet sudah pernah saya coba, hingga menemukan ‘Conscious Diet’ yang bisa mempertahankan berat badan saya hingga bisa langsing dan sehat hingga hari ini,” tuturnya.
Lulusan Fakultas Kedokteran dan Magister Kesehatan Masyarakat dengan spesialisasi Ilmu Gizi dari Universitas Padjadjaran itu juga mengulas tentang empat tipe tubuh (adrenal, ovarium, tiroid, dan liver) yang masing-masing memiliki kebutuhan diet yang berbeda.
“Dengan mengenali bentuk tubuh, kita lebih mudah dalam membuat rencana dietnya. Penjelasan soal bentuk tubuh ini, bisa langsung baca bukunya. Karena ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, saya termasuk tipe tubuh yang mana,” katanya.
Dr Yovi Yoanita adalah pendiri YClinic. Ia memiliki diploma dari American Board of Anti-Aging Medicine dan telah menyelesaikan fellowship di bidang anti-aging dan kesehatan mental fungsional.
Ia juga merupakan hipnoterapis bersertifikat, fasilitator Access Bars dan Body Process, serta life coach. Dedikasinya terhadap kebugaran dan kesehatan mental menjadikannya pembicara yang dicari di berbagai seminar kesehatan dan acara televisi. (Tri Wahyuni)
