Suara Karya

Garudafood Rangkul Santri Difabel, Tumbuhkan Semangat Mandiri

BOGOR (Suara Karya): PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (Garudafood) bersama Sekolah Relawan menyalurkan bantuan kepada sekitar 1.000 santri dan pengasuh di 10 pondok pesantren di Jawa Barat dan Banten, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.

Kegiatan itu juga diisi dengan kegiatan edukasi dan aktivitas kreatif untuk menumbuhkan kemandirian santri penyandang disabilitas.

Salah satu penerima bantuan adalah Pondok Pesantren Cahaya Qur’an di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang menjadi tempat belajar dan tinggal bagi anak-anak penyandang disabilitas, khususnya tunanetra dari keluarga prasejahtera.

Garudafood menyerahkan paket sembako, perlengkapan ibadah berupa mukena, sarung, dan sajadah, serta produk Garudafood kepada pesantren tersebut.

Sementara itu, santri di 9 pondok pesantren lainnya di Bogor, Sukabumi, Depok, dan Lebak juga menerima bantuan produk Garudafood.

Donasi diserahkan secara simbolis oleh Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Dian Astriana, kepada Kepala Pondok Pesantren Cahaya Qur’an, Firman Sukmawirya, di Bogor, Senin (26/10/26).

Dian mengatakan, peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk mengapresiasi ketekunan dan kontribusi para santri dalam membangun bangsa, termasuk anak-anak penyandang disabilitas yang berjuang memperoleh pendidikan dan mengembangkan kemampuan mereka.

“Lewat aksi langsung ini, Garudafood ingin menghadirkan lingkungan yang inklusif, membuka kesempatan yang setara, serta mendorong para santri untuk terus berkembang dan meraih potensi terbaiknya,” ujar Dian.

Pondok Pesantren Cahaya Qur’an berdiri sejak 2013 dan kini membina sekitar 60 santri berusia 6-20 tahun. Mereka mempelajari Al-Qur’an menggunakan metode Braille, sekaligus mengikuti pendidikan umum dan pembelajaran keterampilan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

Firman menjelaskan, mayoritas santri berasal dari keluarga kurang mampu, sehingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, bantuan dari Garudafood memiliki arti penting bagi pesantren dan para santri.

Selain meringankan kebutuhan dasar, dukungan tersebut diharapkan menambah motivasi anak-anak untuk terus menuntut ilmu dan mengembangkan diri.

Kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas menanam menggunakan kids garden kit dan melukis bersama relawan Sekolah Relawan. Sebanyak 20 relawan mendampingi para santri dalam kegiatan yang dirancang untuk merangsang kreativitas dan memberi pengalaman belajar secara langsung.

Bagi santri tunanetra, aktivitas menanam menjadi kesempatan untuk mengenali tekstur, bentuk, dan berbagai elemen di lingkungan sekitar melalui indra peraba.

Kegiatan melukis juga membuka ruang bagi mereka untuk mengekspresikan kreativitas melalui pengalaman yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Para santri mengikuti pembelajaran bahasa isyarat secara berkelompok. Rangkaian kegiatan ini memperkenalkan keberagaman cara berkomunikasi sekaligus mendorong interaksi yang lebih inklusif di lingkungan pesantren.

Aktivitas menanam juga diarahkan untuk mengenalkan keterampilan yang berpotensi mendukung ketahanan pangan.

Melalui pengalaman tersebut, para santri diajak memahami bahwa kemampuan praktis dan usaha mandiri dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pesantren.

Program ini memperlihatkan, bahwa dukungan terhadap santri difabel tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga perlu disertai kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengasah keterampilan.

“Lingkungan yang inklusif diharapkan dapat membantu mereka mengembangkan potensi tanpa dibatasi kondisi disabilitas,” ucap Dian.

Di luar peringatan Hari Santri Nasional, Garudafood menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) melalui payung program Garudafood Sehati.

Inisiatif tersebut mencakup bidang lingkungan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan bantuan kemanusiaan.

Melalui kolaborasi dengan Sekolah Relawan, Garudafood berupaya memperluas manfaat program sosial bagi masyarakat, termasuk kelompok rentan yang membutuhkan dukungan untuk memperoleh akses pendidikan dan kesempatan berkembang.

Upaya merangkul santri difabel ini menjadi bagian dari dorongan untuk membangun lingkungan belajar yang lebih setara. Dengan dukungan yang tepat, para santri diharapkan dapat terus menimba ilmu, meningkatkan keterampilan, serta tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. (Tri Wahyuni)

Related posts