JAKARTA (Suara Karya): Institut Pariwisata (IP) Trisakti menggelar kegiatan International Guest Lecture bertema ‘Best Practice on Community-based Tourism in the Context of Cross Border Relationship, Preservation, and Entrepreneurship’ dengan menghadirkan Ketua Otorita Administratif Khusus Oe-cusse Ambeno (RAEOA), Mr Regio Servantes Romeia Da Cruz Salu, di kampus IP Trisakti, Jakarta, Rabu (11/2/26).
Kegiatan itu menyoroti pentingnya pariwisata berbasis komunitas sebagai pendekatan strategis, yang relevan dengan dinamika pariwisata global saat ini. Tak hanya terkait destinasi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, penguatan kewirausahaan lokal, serta kolaborasi lintas batas negara yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.
Dalam konteks hubungan internasional, praktik ‘community-based tourism’ dinilai memiliki peran penting sebagai sarana diplomasi budaya, penguatan ekonomi lokal, serta pembangunan hubungan sosial yang harmonis antarbangsa.
Karena itu, isu ini menjadi nilai strategis bagi dunia pendidikan pariwisata untuk terus dikaji, dikembangkan, dan diterapkan secara nyata.
Rektor IP Trisakti, Fetty Asmaniati menegaskan, penyelenggaraan International Guest Lecture merupakan bagian dari komitmen institusi dalam menghadirkan pembelajaran berwawasan global serta mempertemukan teori akademik dengan praktik terbaik di lapangan.
“Bagi Institut Pariwisata Trisakti, kegiatan Guest Lecture International ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan pembelajaran berwawasan global, mempertemukan teori akademik dengan praktik terbaik di lapangan, serta memperluas perspektif mahasiswa dan dosen terhadap isu-isu pariwisata internasional,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, IP Trisakti juga melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Timor Leste.
Kerja sama itu menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, pengembangan sumber daya manusia, serta pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.
“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen semata, tetapi dapat diwujudkan dalam program-program konkret yang memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak,” ujarnya.
Fetty menambahkan, hubungan kerja sama pendidikan telah terjalin sejak 2022 dengan kehadiran mahasiswa dari Timor Leste yang menempuh studi di IP Trisakti, dengan jumlah yang terus meningkat setiap tahun melalui dukungan beasiswa pemerintah setempat maupun bantuan studi dari kampus.
Ke depan, kolaborasi juga diarahkan pada penelitian bersama, community service, pelatihan kewirausahaan, hingga rencana penyelenggaraan international conference terkait pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Ketua Otorita Admijistratif Khusus Oe-cusse Ambeno, Mr Regio Servantes Romeia Da Cruz Salu menekankan, kerja sama ini berangkat dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan melalui kolaborasi lintas akademik yang dinilai penting bagi pemerintah maupun institusi pendidikan.
“Jadi apa yang kita mau capai di sini adalah pertama kita mau melirik terhadap institutional. Sehingga proses itu dimulai dengan cross-academic. Itu penting untuk pemerintah, untuk kita,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi kemanusiaan dan pembangunan masyarakat madani, khususnya bagi wilayah Oe-cusse dan Timor Leste, yang secara geografis memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kita mau melihat saudara-saudara kita di Indonesia, khususnya Institut Pariwisata Trisakti bisa bekerja sama dalam hal pembangunan kemanusiaan, pembangunan madani di masyarakat Oe-cusse dan Timor pada khususnya, Timor Leste. Apapun yang dilakukan di Oe-cusse harus bisa memberi kontribusi positif bagi tetangga di wilayah NTT, khususnya Timor Barat,” ucapnya.
Di sektor pariwisata, Pemerintah RAEOA Oe-cusse Ambeno berkomitmen melanjutkan pengiriman pemuda dan aparatur sipil untuk menempuh pendidikan di Institut Pariwisata Trisakti, sekaligus memperkuat lembaga pelatihan pariwisata di Oe-cusse agar memperoleh manfaat dari kerja sama tersebut.
“Kita ada 11 orang dan kita akan terus lagi untuk mengirimkan kembali. Bagian dari pelatihan ini juga akan melihat bahwa lembaga balai pelatihan kita di Oe-cusse mendapat benefit dari pelatihan ini,” jelasnya.
Menurut Regio, standar sistem pendidikan dan pelatihan pariwisata yang terstruktur, sistematis, serta memiliki quality assurance menjadi model penting yang ingin diadopsi untuk pengembangan infrastruktur dan layanan pariwisata di Oe-cusse.
“Di sini kita lihat memang well set, sistematis dan berkualitas. Standar quality assurance inilah yang diperlukan untuk Oe-cusse, baik dari infrastruktur maupun layanan. Itu adalah idealisme yang kita mau untuk kepentingan masyarakat Oe-cusse dan Timor Leste,” tuturnya.
Melalui kegiatan International Guest Lecture dan penandatanganan MoU ini, diharapkan kolaborasi Indonesia dan Timor Leste semakin kuat serta mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sumber daya manusia, pembangunan masyarakat, dan pariwisata berkelanjutan di kedua negara. (Tri Wahyuni)
