JAKARTA (Suara Karya): Kesukaan anak dan remaja main game online telah menjadi fenomena global, termasuk Indonesia. Padahal, kecanduan gadget akan berpengaruh terhadap kesehatan mental.
Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan kecanduan game online atau game disorder ke dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD) sebagai penyakit gangguan mental (mental disorder).
Fenomena itu memantik kegelisahan Angie Michaela Marella, psikolog pendiri Abacus Brain Gym Indonesia. Katanya, penggunaan gadget berlebihan pada anak memiliki sederet dampak buruk.
Dampak tersebut, antara lain, sulit fokus, sulit tidur hingga memicu rasa bersalah dan perubahan suasana hati. Dampak jangka panjangnya, semua gejala itu akan berpengaruh terhadap pembelajaran anak di sekolah.
Angie menggunakan sempoa sebagai terapi melepas ketergantungan anak pada gadget, bidang yang digelutinya sejak lama. Katanya, sempoa tidak hanya menjadu alat hitung, tetapi bisa juga dipakai untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan anak.
“Manfaat lainnya untuk mengalihkan perhatian anak dari gadget,” ucapnya.
Karena itu, Angie bersama Abacus Brain Gym Indonesia menggelar kampanye yang membantu anak dan remaja dalam mengasah kemampuan numerasi dan mengajarkan nilai-nilai positif untuk perkembangan kepribadian anak.
“Kampanye yang kita lakukan berupa senam otak dan pengembangan karakter, agar generasi penerus bangsa tidak saja cerdas, tapi juga berkarakter,” ujarnya.
Psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) itu menjelaskan, latar belakang pendidikan psikologi yang membantunya dalam proses penyusunan kurikulum dan panduan belajar.
“Dengan pendekatan psikologi, saya mencari berbagai cara agar anak-anak bisa senang, merasa diikutsertakan, dan memiliki perkembangan dalam belajar,” tuturnya.
Kisah lengkap Angie dalam mengampanyekan sempoa tersaji dalam buku berjudul “INSPIRE, Mozaik Kisah Para Teladan” yang diterbitkan Tanoto Foundation (TF). Buku tersebut memuat kisah inspiratif 28 alumni penerima beasiswa TELADAN dari TF.
Selama periode 2006-2022, TF sebagai organisasi filantropi independen bidang pendidikan yang didirikan Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto itu telah memberi beasiswa kepada 8.167 mahasiswa di 9 universitas mitra program TELADAN di Indonesia.
CEO Global Tanoto Foundation Dr J Satrijo Tanudjojo mengatakan, TF aktif mendorong demi terwujudnya kesetaraan peluang melalui pendidikan berkualitas, termasuk jenjang perguruan tinggi melalui program kepemimpinan dan beasiswa TELADAN.
“Komitmen itu terus kami lakukan sejak 2006. Selama hampir dua dekade, penerima beasiswa TELADAN telah lulus, berkarier, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat, komunitas, dan lingkungan,” kata Satrijo menandaskan. (Tri Wahyuni)
