Kemdikbud Usulkan Mohammad Tabrani sebagai Pahlawan Nasional

0
?

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengusulkan penggagas bahasa persatuan Indonesia, Mohammad Tabrani sebagai pahlawan nasional. Saat ini tengah dilakukan kajian ilmiah yang mendukung ke arah itu.

“Almarhum merupakan penggagas bahasa persatuan Indonesia. Padahal, waktu itu Republik Indonesia belum ada,” kata Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemdikbud, Dadang Sunendar saat ziarah ke makam M Tabrani di TPU Tanah Kusir, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Hadir dalam kesempatan itu anak bungsu dari almarhum M Tabrani, Amie Primarni (55) dan cucu dari anak tertua M Tabrani, Nong Fatma.

Melalui ziarah itu, Dadang mengingatkan kembali pada generasi muda bahwa bangsa ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Tapi, melalui proses perjuangan yang panjang.

“Bahasa Indonesia telah mempersatukan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Tokoh yang memperjuankan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu layak mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional,” tuturnya.

Sebagai bentuk penghormatan, lanjut Dadang, Kemdikbud telah mengabadikan nama M Tabrani pada salah satu gedung di Kantor Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan di Rawamangun, Jakarta. Ia berharap nama M Tabrani juga bisa diabadikan sebagai jalan di wilayah Jakarta.

“Kami berharap M Tabrani bisa menjadi nama jalan di sekitar gedung Sumpah Pemuda, Senen Jakarta Pusat,” ujarnya.

Ditanya tahapan pengusulan gelar Pahlawan, Dadang mengakui masih butuh waktu lama untuk sampai ke tahap pendaftaran di Kementerian Sosial, sebagai lembaga negara pemberi gelar. Diperkirakan butuh waktu 1-2 tahun sebelum nama calon penerima gelar didaftarkan.

“Prosesnya masih panjang sekali. Saat ini baru pada tahap kajian ilmiah, sekaligus penelusuran bukti dari para ahli waris. Ini penting. Jangan sampai kita menetapkan gelar pahlawan nasional, tetapi tidak tahu sejarahnya,” ujarnya.

Mohammad Tabrani lahir di Pamekasan, Madura pada 10 Oktober 1904. Ia merupakan Ketua Kongres Pemuda I yang berlangsung di Solo pada 1926. Ia juga seorang wartawan yang mulai bekerja pada harian Hindia Baru.

Dalam kolom “Kepentingan” yang ia asuh di lembaga pers itu, pada 10 Januari 1926 ada tulisan dengan judul “Kasihan”. Tulisan itu muncul sebagai gagasan awal untuk menggunakan nama bahasa Indonesia.

Ketika itu, Tabrani menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa. Konsep kebangsaan digagas M Tabrani merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia yang masih bersifat kedaerahan/kesukuan. Mereka masih mengutamakan kepentingan suku atau daerah sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda pada masa itu.

Dalam Kongres Pemuda itu, Tabrani berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin yang ingin menggunakan Bahasa Melayu. Menurut Tabrani pada saat itu, jika sudah mempunyai Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia maka bahasa juga Bahasa Indonesia.

Amie Primarni, anak bungsu dari pasangan M Tabrani dengan Sri Sumini mengaku senang kiprah ayahnya semasa hidup mendapat apresiasi dari pemerintah, dengan pemberian gelar Pahlawan Nasional.

“Saya senang sekali, kiprah bapak semasa hidup mendapat apresiasi dari pemerintah. Karena sejak kecil, almarhum adalah panutan saya dalam bertindak maupun bersikap,” kata Amie yang sehari-hari menjadi dosen Ilmu Komunikasi, di kampus Universitas Pancasila. (Tri Wahyuni)