JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 29 perusahaan retail ternama di Indonesia, yang tergabung dalam Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), membuka peluang kemitraan dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi vokasi (PTV).
Kegiatan difasilitasi lewat ‘business matching’ yang digelar Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).
“Kegiatan ‘business matching’ berdurasi 4 jam ini menghasilkan 715 LoI (letter of intent),” kata
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Mitras DUDI, Uuf Brajawidagda dalam kegiatan yang berlangsung di Jakarta, Kamis (8/5/24).
Uuf menjelaskan, lewat ‘business matching’ baik pelaku industri ritel maupun SMK dan PTV dapat saling berinteraksi langsung dan bertukar informasi tentang peluang kerja sama.
“Dari pertemuan itu, niat awal kerja sama dituangkan dalam bentuk dalam bentuk LoI yang berpotensi menjadi kemitraan yang strategis,” ujarnya.
Perusahaan retail yang bergabung dalam business matching terdiri dari berbagai sektor, antara lain, F&B, fashion & accessories, hair & beauty, IT & gadgets, art crafts & antiques, department store, supermarket, home & furnishing, dan convenient store.
Sementara jumlah satuan pendidikan vokasi yang hadir sebanyak 150 institusi, yang terdiri atas 144 SMK dan 6PTV.
Satuan pendidikan vokasi itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, yang memiliki program studi atau kompetensi keahlian yang berhubungan dengan sektor retail.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemdikbudristek, Kiki Yuliati mengungkapkan, agar tercipta berkolaborasi, pendidikan vokasi tak boleh hanya menunggu, tetapi harus datang kepada DUDI.
“Karena itu, kita buat ‘business matching’ sebagai ajang untuk memperluas kemitraan, namun kesempatan itu tidak boleh berhenti sampai pada nota kesepahaman saja,” ucap Kiki menegaskan.
Dirjen Kiki menilai, insan pendidikan vokasi merupakan konsumen dari industri retail yang menjadikan bisnis retail tetap hidup.
Di sisi lain, pendidikan vokasi masih memiliki tantangan untuk memberi pengetahuan kepada peserta didik vokasi tentang budaya kerja, etos kerja, dan cara berpikir kerja bisnis sehingga butuh kolaborasi dengan industri retail.
“Bisnis retail dan pendidikan vokasi saling membutuhkan,” tutur Kiki menegaskan.
Ketua Umum HIPPINDO, Budihardjo Iduansjah mengatakan, kolaborasi dengan Kemdikbudristek menunjukkan komitmen untuk mengintegrasikan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi itu, menurut Kiki, menjadi langkah penting dalam memajukan sektor retail sebagai lokomotif penggerak ekonomi dari hulu ke hilir. Selain menjadi penggerak lokomotif dan garda terdepan sektor perdagangan.
“Lewat pelatihan dan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri, program ini akan membantu menciptakan tenaga kerja yang siap terjun ke industri retail dan bersaing di pasar global,” tuturnya.
Kiki berharap, kolaborasi itu nantinya SDM Indonesia bisa go global dan membantu pembukaan toko retail di luar negeri. “Ini menjadi langkah signifikan menuju visi Indonesia sebagai pusat perdagangan regional dan global,” ucap Budihardjo.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Diksi Kiki Yuliati menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Ditjen Pendidikan Vokasi Kemdikbudristek dengan PT Mitra Akademi Perkasa (subsidiary MAP Group).
Direktur PT Mitra Akademi Perkasa, Handaka Santosa menjelaskan, MAP Group sangat antusias untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
“Kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, kami wujudkan melalui MAP Retail Academy. Diharapkan terjadi peningkatan kualitas lulusan vokasi yang siap kerja di Indonesia,” katanya.
Di akhir acara, Plt Direktur Mitras DUDI, Uuf Brajawidagda menyatakan, kolaborasi ini merupakan kesempatan berharga yang membawa potensi besar bagi kemajuan pendidikan dan industri retail di Indonesia.
“Lewat kerja sama ini, kita dapat saling memperkuat dalam pertukaran pengetahuan, teknologi, dan praktik baik dalam industri yang sedang berkembang pesat,” ucap Uuf menandaskan.
Berikut ini 29 perusahaan yang berpartisipasi dalam business matching, antara lain, PT Kurnia Ciptamoda Gemilang; PT Hero Supermarket Tbk; PT Eka Bogainti;
PT AEON Indonesia; PT Mitra Adi Perkasa; PT Daya Intiguna Yasa; PT Bumi Berkah Boga; PT Global Retail Digital; PT Warna Mahardhika; PT Buccheri Indonesia; PT Indomarco Prismatama; dan PT Inti Citra Agung.
Selain itu ada PT Supra Boga Lestari Tbk; PT Fast Retailing Indonesia; PT Erajaya Group; PT Boga Group; PT Griya Mie Sejati; PT Primafood International, Tbk; PT Citra Rasa Betawi; PT Jiwa Group; PT Kiddycuts Pratama Indonesia; PT Fajar Mitra Indah; Kawan Lama Group; PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk; PT Elektronik City Indonesia Tbk; PT Wiryamanta Sadina; PT Pan Brother; dan IDDC Kemendag. (Tri Wahyuni)
