Soal ‘Childfree Marrige’, Kepala BKKBN Ingatkan Dampak Rasio Ketergantungan

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memandang isu seputar ‘childfree marriage’ sebagai hal yang positif dan negatif. Positifnya, publik jadi lebih mengenal hak-hak reproduksi, baik pria dan wanita.

“Serta masalah tanggung jawab suatu pasangan dalam satu keluarga,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam siaran pers, Minggu (5/9/21) menanggapi maraknya pembicaraan tentang pilihan hidup ‘childfree marriage’ di kalangan milenial.

Hasto menjelaskan, fenoma ‘childfree marriage’ atau keinginan untuk tidak memiliki anak setelah menikah di kalangan muda, tak lepas dari perspektif sosial dan budaya yang terbentuk di masyarakat. Dimana umumnya, mereka yang masuk usia dewasa akan menikah, dan selanjutnya memiliki anak.

“Disinilah pentingnya setiap pasangan calon pengantin sebaiknya melakukan perencanaan pernikahan agak memiliki visi dan misi pernikahan yang sama,” ujar peraih penghargaan Dokter Teladan tahun 1992 dari Presiden RI.

Melalui perencanaan pernikahan yang kuat, lanjut Hasto, termasuk didalamnya kursus pranikah, calon pasangan dapat mengetahui konsep ideal pernikahan, mulai dari usia, kesiapan finansial, fisik, mental dan emosi, hubungan antarpribadi (interpersonal), keterampilan hidup (life skill) hingga kesiapan intelektual.

“Bekal tersebut akan menjadi modal dalam mengambil keputusan untuk memiliki anak atau tidak, serta hal-hal lain saat menjalani kehidupan berkeluarga,” kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan lulusan Universitas Gadjah Mada itu.

Namun, menurut Hasto, keputusan untuk memiliki anak atau tidak itu merupakan hak dan pilihan dari masing-masing pasangan.

Ia menguraikan, penyebab seseorang atau suatu pasangan tidak ingin memiliki anak, dapat digolongkan dalam 2 kluster besar. Pertama adalah keinginan sendiri.

Kedua, karena suatu akibat, misalkan, faktor kesehatan atau faktor lain yang membuatnya tidak dapat punya anak.

“Kedua penyebab itu, meliputi berbagai aspek, mulai dari kondisi fisik, psikologis, ekonomi, sosial dan budaya. Selain itu, ketakutan akan proses kehamilan atau melahirkan juga dapat mendorong orang untuk memutuskan tidak memiliki anak,” tuturnya.

Hasto mengingatkan, dampak ‘childfree marriage’ akan berpengaruh pada struktur penduduk di suatu negara. Kondisi itu akan berdampak pada rasio ketergantungan, dimana perbandingan antara penduduk usia non produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun) lebih besar dibanding penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun).

“Semakin tinggi rasio ketergantungan atau dependency ratio menggambarkan semakin berat beban yang ditanggung penduduk usia produktif. Karena mereka harus mengeluarkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan penduduk usia non produktif,” katanya.

Keadaan itu, menurut Hasto, dapat menjadi indikator atas maju atau tidaknya ekonomi suatu negara. Jika banyak pasangan memutuskan tidak punya anak, maka hal itu akan berpengaruh pada jumlah penduduk usia non produktif, yang akan meningkat beberapa tahun kedepan.

“Tingginya rasio ketergantungan dapat menghambat pembangunan di negara berkembang termasuk di Indonesia. Karena sebagian dari pendapatan yang diperoleh dari golongan produktif, harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan kelompok yang belum dan sudah tidak produktif.

Hasto menilai, faktor penyebab terbanyak pasangan tidak mau punya anak setelah menikah, karena takut terjadi perceraian. Selain faktor lain seperti perselingkuhan, ekonomi, ketidakstabilan emosi, kurangnya rasa hormat terhadap pasangan, dan lain-lain. (Tri Wahyuni)