Suara Karya

BI DKI Sebut Inflasi Jakarta Selama Ramadan–Idulfitri 2026 Terkendali

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa inflasi di ibu kota selama periode Ramadan hingga Idulfitri 2026 tetap berada dalam kondisi terkendali. Hal ini tercermin dari inflasi Maret 2026 yang tercatat sebesar 0,51% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih rendah dibandingkan Februari yang mencapai 0,63% (mtm). 

“Tekanan inflasi memang meningkat seiring permintaan musiman Ramadan–Idulfitri, namun berbagai langkah pengendalian yang dilakukan mampu menahan kenaikan harga,” ujar Iwan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/3/2026).

Secara tahunan, Iwan menyebut inflasi Jakarta juga menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Pada Maret 2026, inflasi tercatat sebesar 3,37% (year-on-year/yoy), turun dari 4,91% (yoy) pada bulan sebelumnya, bahkan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,48% (yoy). 

Menurut Iwan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 1,46% (mtm). Komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan cabai merah mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan.

“Selain permintaan yang meningkat, distribusi dari daerah sentra produksi yang terbatas selama libur Idulfitri juga ikut memengaruhi harga komoditas pangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Iwan menuturkan bahwa inflasi juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,15% (mtm), seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Lebaran. Sementara itu, kelompok transportasi mencatat inflasi 0,41% (mtm), dipicu oleh kenaikan harga BBM non-subsidi serta meningkatnya tarif angkutan selama periode mudik. 

Meski demikian, berbagai kebijakan berhasil meredam tekanan inflasi, termasuk pemberian diskon transportasi pada sektor udara, kereta api, dan jalan tol selama masa Idulfitri.

Iwan juga menekankan peran strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga stabilitas harga. Berbagai program seperti pasar murah, pangan bersubsidi, penguatan pasokan melalui urban farming, hingga distribusi pangan menggunakan truk keliling terus digencarkan.

“Sinergi TPID bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menjaga inflasi tetap stabil, termasuk melalui komunikasi yang efektif kepada masyarakat,” ujarnya.

Ke depan, BI DKI Jakarta bersama TPID akan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Iwan juga mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, baik global maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan, serta volatilitas harga komoditas menjadi tantangan utama. Sementara dari dalam negeri, potensi El Nino kuat yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir 2026 berisiko mengganggu produksi pangan.

“Dengan langkah antisipatif dan sinergi yang terus diperkuat, kami optimistis inflasi Jakarta akan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1% sepanjang 2026,” tutup Iwan. (Boy)

Related posts