JAKARTA (Suara Karya): Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) meluncurkan Program doktor (S-3) terapan.
“Dengan demikian, pendidikan vokasi memiliki jenjang tertinggi yang sama seperti pendidikan akademik,” kata Dirjen Diksi, Kiki Yuliati dalam peluncuran program tersebut di Jakarta, Selasa (20/2/24).
Kiki menjelaskan, pengembangan program doktor terapan dilakukan untuk menjawab pertanyaan masyarakat akan keberlanjutan pendidikan vokasi terutama lulusan S-2 terapan. Pelaksanaan tersebut diharapkan ikut meningkatkan daya saing bangsa.
“Selain juga amanah dari Undang-Undang (UU) No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi,” ucap Kiki Yuliati.
Menurut Kiki, kebutuhan akan program doktor terapan tak hanya dirasakan dosen politeknik saja, tetapi juga para praktisi maupun profesional yang ingin meningkatkan kompetensi diri.
Ditambahkan, banyak praktisi ingin meningkatkan ilmu-ilmu baru dari perguruan tinggi vokasi, yang selaras dengan bisnisnya. Apalagi tantangan masa depan semakin kompleks.
“Ilmu tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bekerja pada level doktor, tapi bukan sebagai peneliti,” kata Kiki Yuliati.
Program doktor terapan diharapkan berdampak besar pada pengembangan pendidikan tinggi vokasi agar tercipta lompatan-lompatan inovatif di perguruan tinggi dan industri.
Merujuk pada data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) per November 2023, ada 48 perguruan tinggi yang menggelar program magister terapan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) profesional.
“Dari jumlah itu, 25 perguruan tinggi yang membuka S-2 terapan adalah politeknik, baik negeri maupun swasta. Untuk program doktor, tersedia di 773 perguruan tinggi seperti universitas, institut, sekolah tinggi, dan perguruan tinggi kementerian/lembaga lain (PTKL),” tuturnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kelembagaan dan Sumber daya Pendidikan Tinggi Vokasi, Ditjen Diksi, Kemdikbudristek, Muhamad Fajar Subkhan mengatakan, program doktor terapan menjadi milestone dalam pengembangan pendidikan tinggi vokasi di Indonesia.
“Adanya program doktor terapan ini, maka jenjang pendidikan tinggi vokasi sudah lengkap. Pendidikan vokasi akan menjulang ke langit dan menghujam ke bumi,” kata Fajar Subkhan.
Sebelumnya, pendidikan tinggi vokasi meliputi jenjang Diploma I (D-1), D-2, D-3, D-4 (sarjana terapan), dan S-2 (magister terapan). Diharapkan, pendidikan tinggi vokasi semakin berdampak dalam pembangunan SDM unggul.
Terkait peluang dengan dunia industri, Fajar mengatakan, dunia usaha dan dunia industri membutuhkan dunia pendidikan dalam menyiapkan SDM. Sehingga terjadi ‘link and match’ atau kesesuaian keahlian dari lulusan perguruan tinggi yang dibutuhkan industri.
Fajar mengajak seluruh pimpinan perguruan tinggi vokasi yang hadir untuk membuka program doktor terapan, sehingga menghasilkan lulusan yang selaras dengan dunia industri.
Direktur Politeknik Negeri Bali (PNB), I Nyoman Abdi menyambut baik program doktor terapan yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat atas peran perguruan tinggi vokasi dalam meningkatkan daya saing bangsa.
“Lewat Program Doktor Terapan ini, diharapkan perguruan tinggi vokasi bisa ‘naik kelas’ dan sejajar dengan perguruan tinggi akademik sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012,” kata I Nyoman Abdi.
PNB sendiri, lanjut I Nyoman Abdi, telah memiliki program magister terapan, yaitu Magister Terapan Perencanaan Pariwisata. Program S-2 itu telah menghasilkan 79 orang lulusan.
“Lulusan program S-2 PNB banyak yang menjadi direktur, general manager dan manager di industri pariwisata tak hanya di Indonesia, tapi juga luar negeri. Apalagi sejak 2020 prodi itu memiliki program double-degree dengan University of Angers, Prancis,” ujarnya.
Sementara itu, alumnus Program Magister Terapan Teknik Elektro, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Nobby Bagus Muliawan mengatakan, program doktor terapan cukup menarik.
“Peluang untuk studi lanjut bagi lulusan magister terapan kini semakin terbuka lebar,” kata Nobby menegaskan.
Ia berharap, program doktor terapan itu benar-benar merepresentasikan makna terapan sehingga lulusannya dapat memahami dinamika penerapan disiplin ilmu di industri atau di masyarakat. (Tri Wahyuni)
