JAKARTA (Suara Karya): Universitas Terbuka (UT) mengukuhkan 10 guru besar baru dari berbagai bidang keilmuan dalam acara resmi yang berlangsung selama 2 hari, yaitu 5-6 Agustus 2025.
“Pengukuhan guru besar ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat komitmen UT terhadap pendidikan tinggi berbasis teknologi dan riset ilmiah untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” kata Rektor UT, Dr Mohamad Yunus di UT Convention Center, di Tangerang Selatan, Rabu (6/8/25).
Pengukuhan tersebut merupakan bagian dari peringatan Dies Natalis ke-41 UT yang bertema ‘Inovasi Tanpa Batas, Wujudkan Pendidikan Berkualitas’.
Acara juga dapat diakses secara daring melalui Youtube UT TV Streaming dan Zoom Meeting. Hal itu penting, karena mahasiswa UT tersebar di seluruh Indonesia dan 54 negara lainnya di dunia.
Dalam pidato pembukaannya, Rektor UT menekankan, pengukuhan guru besar bukan hanya seremonial akademik, melainkan bentuk nyata kontribusi terhadap kemajuan bangsa melalui pendidikan, riset, dan inovasi.
“Menjadi guru besar adalah kehormatan, namun menciptakan atmosfer akademik yang positif dan produktif adalah tanggung jawab bersama,” ujar Mohamad Yunus.
Ia mengajak para profesor untuk menampilkan keunikan masing-masing dalam bidang keilmuannya, guna menginspirasi mahasiswa dan memperluas jangkauan keilmuan UT, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam dua sesi pengukuhan tersebut, 10 guru besar dari beragam disiplin ilmu menyampaikan orasi ilmiah berbasis riset empiris. Pada hari kedua, orasi disampaikan Prof Dr Dewi Juliah Ratnaningsih yang membahas pemodelan data.
Prof Dewi menawarkan metode analisis survival untuk pengambilan keputusan berbasis data, relevan untuk isu pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Orasi ilmiah Prof Dr Ernik Yuliana terkait pengelolaan pesisir dan laut. Ia menekankan pendekatan ecosystem-based fisheries management (EAFM) untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan Indonesia.
Sedangkan Prof Dr Fatia Fatimah, Guru Besar Bidang Matematika membahas pengembangan teori matematika untuk menangani data tidak pasti dan personalisasi pembelajaran berbasis minat dan kecerdasan mahasiswa.
Prof Dr Lidwina Sri Ardiasih, Guru Besar dalam pengajaran bahasa Inggris jarak jauh menawarkan penguatan sistem pembelajaran bahasa Inggris melalui Open and Distance Learning (ODL) berbasis teknologi digital.
Terakhir, Prof Dr Susanti, Guru Besar dalam Governansi Sektor Publik. Ia menyoroti pentingnya pembangunan governance networks adaptif untuk tata kelola publik digital yang inklusif dan transparan.
Sebagai bagian dari pengukuhan, UT juga meluncurkan buku ilmiah berjudul ‘Dampak Positif Teori dan Model Ilmu Murni terhadap Pencapaian SDGs’.
Buku yang ditulis Prof Dewi Artati Padmo Putri MA, PhD dan disunting oleh Prof Dr Karnaedi MA menyajikan pemikiran strategis para profesor baru dalam bentuk solusi inovatif terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
Buku itu menjadi bukti bahwa kontribusi UT bukan hanya di ruang akademik, tetapi juga dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan tinggi yang adaptif, transformatif, dan berbasis data.
Pernyataan senada disampaikan Wakil Rektor II UT, yang juga Rektor UT Terpilih Periode 2025-2030, Prof Dr Ali Muktiyanto mengatakan, dengan penambahan 10 guru besar baru, UT kini memiliki lebih dari 35 profesor aktif yang tersebar di berbagai bidang keilmuan strategis.
“Ini memperkuat posisi UT sebagai kampus digital inklusif dan berkualitas global, yang terus berkomitmen menyajikan pendidikan tinggi yang dapat diakses siapa saja, kapan saja, dan di mana saja,” ujarnya.
Ditambahkan, UT akan terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan zaman dengan menghadirkan pembelajaran jarak jauh yang unggul, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi kemajuan bangsa dan dunia. (Tri Wahyuni)
