Suara Karya

50 Tahun Yayasan Toyota dan Astra Bangun SDM Tangguh Lewat Pendidikan Karakter

JAKARTA (Suara Karya): Yayasan Toyota dan Astra (YTA) menegaskan kembali komitmennya dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang tangguh dan berkarakter melalui dunia pendidikan.

Komitmen tersebut disampaikan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto dalam acara bedah buku berjudul ‘Tak Lekang Dimakan Waktu’ di Jakarta, Selasa (21/1/26).

Buku terbitan Kompas Gramedia itu merekam perjalanan YTA selama 50 tahun, sejak didirikan pada 9 Oktober 1974 oleh PT Toyota Astra Motor dan PT Astra International Tbk.

Lentera Asa Pendidikan Indonesia
YTA yang berdiri di tengah dinamika sosial pasca-peristiwa Malari 1974 terus beradaptasi dengan kebutuhan pendidikan nasional.

Selama setengah abad kiprahnya, YTA tidak hanya berfokus pada pemberian beasiswa, bantuan ke perguruan tinggi, serta sumbangan alat peraga pendidikan dan buku teknik, khususnya teknik otomotif ke perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Dalam beberapa tahun terakhir, YTA memperluas perannya dengan menitikberatkan pada pendidikan karakter dan penguatan budaya industri sebagai fondasi pembentukan SDM unggul.

Nandi Julyanto menegaskan, pendidikan karakter penting untuk membentuk generasi penerus bangsa yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, beretika, berintegritas, dan bertanggung jawab di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Hal senada disampaikan Wakil Presiden Direktur PT Toyota-Astra Motor (TAM), Henry Tanoto. YTA bertekad menjadi agen perubahan dengan merevolusi konsep dan metode pengajaran di SMK agar lebih relevan dengan kebutuhan industri.

“Fokus utama YTA saat ini adalah pembentukan karakter untuk terciptanya SDM yang tangguh. Untuk mencapainya memang masih banyak tantangan, namun YTA akan terus melangkah dan berkontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” ungkap Henry.

Upaya YTA tersebut dinilai sejalan dengan prinsip Toyota yang menempatkan manusia sebagai aset terpenting perusahaan melalui slogan ‘make people before make product’.

Prinsip yanf mengadopsi filosofi Jepang ‘Monozukuri wa Hitozukuri’ itu menegaskan bahwa membangun produk industri harus berjalan seiring dengan membangun manusia yang mengerjakannya.

“Artinya, bukan sekadar mempekerjakan manusia, tetapi juga mempersiapkan mereka agar memiliki keterampilan, pengetahuan, dan sikap kerja yang tepat,” tegas Henry.

Salah satu bentuk konkret pembentukan karakter dan mentalitas kerja yang diperkenalkan YTA adalah penerapan konsep 5R, yakni Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.

Konsep itu menekankan kebersihan, kedisiplinan, dan keteraturan lingkungan kerja, guna meningkatkan efisiensi sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan.

Penerapan 5R terbukti memberi manfaat nyata, mulai dari peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, efisiensi waktu dan sumber daya, hingga terciptanya lingkungan kerja yang bersih, nyaman, dan mendorong semangat kerja.

Selain 5R, YTA juga mengenalkan budaya industri lain seperti Kaizen (perbaikan berkelanjutan) dan Heijunka (penyeimbangan beban kerja).

Terkait bedah buku, kegiatan yang dipandu penulis senior Tonny D Widiastono itu menghadirkan tiga narasumber, yaitu Direktur Perkumpulan Strada, Romo Odemus Bei Witono; Kepala SMK Negeri 2 Salatiga, Sriyanto; dan Guru Besar Bidang Sosiologi, Prof Francisia Saveria Sika Ery Seda.

Romo Odemus Bei Witono dalam pemaparannya menyatakan, pendidikan karakter harus terintegrasi dalam kurikulum dan praktik keseharian di sekolah.

Ia menekankan tiga kunci utama pendidikan karakter, yakni memahami, peduli, dan bertindak sesuai nilai-nilai etika.

Sementara itu, Kepala SMK Negeri 2 Salatiga, Sriyanto mengungkapkan, membangun budaya industri di sekolah membutuhkan komitmen pimpinan, komunikasi yang efektif, serta konsistensi seluruh warga sekolah.

“Pembangunan karakter jauh lebih menantang dibandingkan pembangunan fisik,” tegasnya.

Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Prof Francisia Saveria Sika Ery Seda yang hadir secara daring mengingatkan, pendidikan yang hanya berfokus pada transfer pengetahuan berisiko mengabaikan nilai moral dan etika.

“Meski generasi muda saat ini memiliki literasi digital dan kreativitas tinggi, penguatan karakter tetap menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.

Namun, lanjut Ery Seda, kecenderungan serba instan dan kurang menghargai proses menjadi tantangan serius dalam pembentukan karakter dan integritas akademik.

“Tanpa nilai dan etika, pendidikan bisa melemahkan masyarakat dari dalam,” ucapnya menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts