JAKARTA (Suara Karya): Institut Pariwisata (IP) Trisakti kembali menggelar kegiatan City Tour ‘Goes to UP at Thamrin Nine’ dengan mengajak sejumlah guru bimbingan dan konseling (BK) jenjang SMA dan SMK di Jakarta, pada Sabtu (15/11/25).
Namun, wisata kota kali ini terasa berbeda. Tak hanya melihat kemegahan gedung pencakar langit setinggi 385 meter itu, tetapi juga hangatnya hubungan alumni IP Trisakti dengan almamaternya.
Rektor IP Trisakti Fetty Asmaniati tampak berbincang penuh canda dengan dua alumninya yang hadir di UP at Thamrin Nine, bukan sebagai peserta tour tetapi karyawan dari destinasi wisata yang sedang hits di Jakarta tersebut.
“Tadi kami berbincang tentang masa lalu, saat IP Trisakti masih bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti pada tahun 2005-2009. Bu Fetty pernah menjadi dosen saya, karena itu kami cukup akrab,” kata Sales Manager UP at Thamrin Nine, Martin Cesario membuka percakapan.
Martin mengambil kuliah Program Studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) di IP Trisakti dengan alasan sederhana, ingin jalan-jalan. Siapa sangka pilihan spontan itu justru menjadi titik awal kecintaannya pada dunia perjalanan, pelayanan, dan industri kreatif yang membentuk kariernya hari ini.
“Usaha perjalanan wisata itu bukan sekadar jurusan, tetapi ruang yang mengubah cara pandang saya dalam melihat dunia. Prodi tersebut lebih luas dari dunia travel agent,” ungkapnya.
Menurut Martin, justru di UPW ia menemukan kompetensi yang melekat kuat hingga hari ini, yaitu public speaking lewat kelas guiding, keterampilan manajerial, hingga kemampuan beradaptasi di dunia kerja.
Setelah lulus, Martin tidak hanya berkarier di sektor perjalanan. Ia justru melewati perjalanan profesional yang beragam, mulai dari travel agent, luxury retail, hingga industri atraksi wisata. Namun dari semua perjalanan itu, ia menyadari satu hal yaitu bekal ilmu yang diperolehnya di UPW itu lintas-industri.
“Guiding membantu saya bicara di depan umum maupun presentasi. Pengetahuan operasi travel membantu saya mengelola cabang. Bahkan ketika masuk retail mewah pun, fondasi itu membuat saya bisa bersaing,” ujarnya.

Ia menegaskan, UPW tidak hanya membentuk mahasiswa sebagai pelaku industri perjalanan, tetapi sebagai profesional yang siap bekerja di industri diluar pariwisata.
Semakin jauh Martin melangkah, semakin kuat pula kecintaannya pada UPW. Martin merasakan bahwa semua pengajaran, baik teori maupun praktik, tidak pernah sia-sia. Bahkan, saat kini ia bekerja di industri atraksi wisata modern, prinsip-prinsip UPW tetap menjadi kompas.
“UPW itu membuka banyak pintu. Saya bisa ke industri travel, retail, bahkan atraksi wisata. Semua dimulai dari dasar yang diajarkan di kampus,” pungkasnya.
Pengalaman Martin menunjukkan UPW bisa menjaxi prodi yang tepat bagi generasi muda yang ingin terjun ke berbagai bidang pariwisata kreatif.
Hal lain yang membuatnya bangga adalah kuatnya jejaring alumni IP Trisakti.
“Ketika saya memperkenalkan venue UP at Thamrin Nine ke banyak orang, ternyata banyak ketemu alumni Trisakti. Rasanya seperti bertemu keluarga,” katanya.
Kedekatan itu membuat Martin selalu kembali ke almamaternya ketika membutuhkan kolaborasi, dukungan, atau sekadar bertukar gagasan. Bahkan, ia menyebut kampus sebagai ‘klien pertama’ ketika ia bergabung ke UP at Thamrin Nine sekitar 2 bulan lalu.
Kebanggaan atas almamaternya juga disampaikan General Manager UP at Thamrin Nine, Iwan Romiko, alumni D3 Perhotelan tahun 2002 dan S1 Perhotelan tahun 2005. Bahkan, Iwan kini sedang mengambil program pascasarjana S2 Perhotelan di IP Trisakti.
“Apa yang saya capai hari ini, tak lepas dari kurikulum Trisakti yang menggabungkan teori dan praktik secara seimbang. Lewat praktik lapangan 6bulan sebanyak dua kali selama kuliah, membuat lulusannya percaya diri saat masuk industri,” ungkapnya.
Sebagai profesional di industri perhotelan dan venue event, Miko mengakui, pengalaman praktik dari kampus membuatnya mampu beradaptasi cepat ketika berhadapan langsung dengan tamu, operasional, dan dinamika lapangan.
“Begitu lulus, kami tidak mulai dari nol. Kami sudah tahu ritme kerja industri. Itu keunggulan Trisakti,” ucapnya.
Rasa bangga Miko terhadap almamaternya tidak berhenti pada perjalanan kariernya. Ia juga menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung mahasiswa IP Trisakti yang sedang meniti karier.
“Kalau ada lowongan pekerjaan, kami langsung informasikan ke kampus. Sebagai alumni, saya tentunya punya tanggung jawab untuk adik-adik kelas,” tuturnya.
Ia juga menyebut industri pariwisata kini menuntut kemampuan lintas bidang, dan IP Trisakti menurutnya telah membekali mahasiswa dengan fondasi yang cukup untuk menghadapi perkembangan tersebut.
Sebagai sosok yang kini memegang posisi strategis, Miko mengungkapkan, identitas sebagai alumni Trisakti adalah bagian penting dari perjalanan hidup dan profesionalnya.
“Saya bangga jadi alumni Trisakti. Apa yang saya dapatkan di sana membentuk karakter dan kompetensi saya hari ini,” kata Iwan menandaskan.
Dalam bagian akhir kegiatan, Ketua Pusat Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah (IBKS), Tuti Soekarni menyampaikan terima kasih kepada IP Trisakti, karena sudah mengajak guru-guru anggota IBKS untuk mengenal destinasi wisata terkini di Jakarta.
“Kami senang sekali ikut city tour yang diadakan IP Trisakti. Ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan,” ujarnya.
Tuti Soekarni menilai kegiatan itu juga akan mengedukasi secara secara positif terhadap usaha yang dikembangkan UMKM di indonesia. Hal itu pasti akan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja muda. (Tri Wahyuni)
