JAKARTA (Suara Karya): Polemik persyaratan keanggotaan klub buku The Nonfiction Society di media sosial berkembang menjadi sorotan terhadap latar belakang pendidikan dan sejumlah sertifikasi milik pendirinya, Michelle Wibowo. Seorang pengguna Threads bernama John Chrysostom Evan mengungkap sejumlah dugaan ketidaksesuaian dokumen akademik dan sertifikat yang pernah dipamerkan Michelle melalui akun media sosialnya.
Penelusuran tersebut mencakup sertifikat dari Shanghai Jiao Tong University, Harvard University, Lund University, hingga Corporate Finance Institute (CFI). Temuan Evan kemudian menarik perhatian pengacara Natalia Rusli yang menyatakan tengah mendalami dugaan tersebut bersama sejumlah pihak.
Polemik ini bermula beberapa minggu lalu ketika Michelle mengajak masyarakat bergabung dengan klub buku rintisannya, The Nonfiction Society. Komunitas tersebut pada awalnya terlihat sebagai ruang berkumpul bagi para pencinta buku, khususnya mereka yang memiliki ketertarikan terhadap literatur nonfiksi.
Namun, unggahan Michelle justru memicu perdebatan setelah ia menetapkan persyaratan bagi calon anggota untuk melampirkan foto ijazah minimal S-1 dari universitas luar negeri.
Persyaratan tersebut menuai kritik dari sejumlah pegiat buku dan pengguna media sosial X serta Threads. Mereka mempertanyakan relevansi latar belakang pendidikan luar negeri sebagai syarat untuk bergabung dalam sebuah komunitas membaca.
Perdebatan semakin ramai setelah seorang pengguna X mengkritik tata bahasa dan penulisan Michelle yang dianggap tidak sesuai dengan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).
Michelle merespons kritik tersebut melalui Instagram Story. Ia bahkan mengancam akan melaporkan pengkritiknya ke Polda Metro Jaya dan menyatakan akan menyimpan dendam seumur hidup karena kritik yang diterimanya.
Respons tersebut justru memicu gelombang kritik lebih luas. Sejumlah warganet kemudian mulai menelusuri latar belakang pendidikan dan berbagai sertifikasi yang pernah ditampilkan Michelle di media sosial.
Evan Soroti Sertifikat Shanghai Jiao Tong University
Salah satu penelusuran dilakukan John Chrysostom Evan melalui akun Threads @jchrysev. Evan, yang berprofesi sebagai Corporate Legal Consultant di sebuah firma hukum, mengunggah utas berisi sejumlah dokumen yang menurut penelusurannya patut dipertanyakan keasliannya.
Salah satu dokumen yang menjadi sorotan adalah Certificate of Best Bachelor Thesis dari Shanghai Jiao Tong University (SJTU), China.
Dalam unggahannya, Michelle menyebut sertifikat tersebut sebagai bukti bahwa skripsinya termasuk dalam 1 persen terbaik di universitas tersebut.
Namun, Evan menemukan sejumlah kejanggalan pada dokumen yang dipublikasikan Michelle. Ia menyoroti bagian nama Michelle Wibowo yang menurut pengamatannya terlihat seperti hasil penimpaan tulisan karena menggunakan jenis huruf berbeda dari teks lainnya.
Keanehan lain terdapat pada nama Mandarin yang tercantum dalam sertifikat tersebut, yakni 章俊一 (Zhang Junyi).
Evan menyebut seorang alumnus SJTU asal Indonesia turut menanggapi temuannya. Menurut alumnus tersebut, sertifikat yang ditampilkan Michelle diduga merupakan dokumen asli milik seorang mahasiswa laki-laki dari jurusan Computer Science.
Nama yang tercantum pada sertifikat itu juga disebut sama dengan nama seorang mahasiswa doktoral tingkat akhir di University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
Sertifikat Bahasa hingga Gelar Magister Ikut Dipertanyakan
Penelusuran Evan tidak berhenti pada sertifikat SJTU. Ia juga mempertanyakan sertifikat kemampuan bahasa Jepang JLPT N4 dan bahasa Mandarin HSK 8 yang pernah diunggah Michelle.
Dalam utasnya, Evan menyertakan perbandingan dengan contoh sertifikat JLPT N4 yang ditemukan di internet. Ia menyoroti kemiripan format, teknik pengambilan gambar, dan warna antara dokumen tersebut dengan sertifikat yang dipublikasikan Michelle.
Evan juga mempertanyakan sertifikat Business Analytics dari Harvard University serta ijazah M.Sc. dari Lund University.
Berdasarkan pengamatannya, terdapat perbedaan piksel dan penggunaan jenis huruf yang dianggap tidak sesuai dengan karakteristik dokumen sertifikasi kedua institusi tersebut.
Meski demikian, dugaan mengenai dokumen-dokumen tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan konfirmasi langsung dari universitas maupun lembaga penerbit.
Nomor Sertifikat FMVA Tercatat atas Nama Orang Lain
Sehari setelah mengunggah penelusuran awal, Evan kembali membahas sertifikat Financial Modeling & Valuation Analyst (FMVA) dari Corporate Finance Institute (CFI) yang pernah dipamerkan Michelle.
Dalam salah satu unggahannya, Michelle menyebut sertifikasi tersebut sebagai bekal bagi seseorang yang ingin menjadi influencer keuangan.
Ia juga membandingkan sertifikasi FMVA dengan sertifikasi lain, termasuk Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Chartered Financial Analyst (CFA).
Pernyataan Michelle tersebut menuai tanggapan dari sejumlah pengguna media sosial. Beberapa di antaranya menjelaskan bahwa masing-masing sertifikasi memiliki tujuan dan kompetensi berbeda.
Ada pengguna yang mengingatkan bahwa sertifikasi WMI bukan ditujukan untuk menjadi influencer, sementara CFA juga bukan sertifikasi khusus untuk profesi tersebut.
Pengguna lain menjelaskan bahwa sertifikasi untuk profesional manajer investasi berbeda dengan FMVA. Untuk layanan perencanaan keuangan, mereka menyebut Certified Financial Planner (CFP) sebagai salah satu kualifikasi yang relevan.
Di tengah perdebatan tersebut, Evan menelusuri nomor unik yang tercantum pada sertifikat FMVA Michelle.
Ia memasukkan nomor tersebut melalui platform Accredible, yang digunakan untuk verifikasi kredensial digital. Berdasarkan hasil penelusuran yang diunggah Evan, sertifikat dengan nomor tersebut justru tercatat atas nama orang lain, yakni Ibrahim Balkis.
Temuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam utas Evan karena nomor sertifikat dapat digunakan untuk memeriksa identitas pemegang kredensial yang diterbitkan lembaga terkait.
Sertifikat Parenting Juga Menjadi Sorotan
Michelle juga kerap memperkenalkan dirinya sebagai spesialis old money parenting, sebuah topik yang cukup sering diangkat melalui media sosialnya.
Untuk mendukung klaim tersebut, Michelle pernah melampirkan sertifikat parenting dari Jai Institute for Parenting.
Namun, Evan mengungkapkan bahwa dirinya mendapat informasi dari seseorang yang sebelumnya pernah menghubungi institut tersebut untuk menanyakan keabsahan sertifikat atas nama Michelle Wibowo.
Menurut informasi yang disampaikan orang tersebut kepada Evan, pihak Jai Institute menyatakan tidak menemukan nama Michelle dalam basis data mereka.
Evan Mengaku Berawal dari Rasa Penasaran
Saat ditanya mengenai alasan melakukan penelusuran dan apakah mengenal Michelle secara pribadi, Evan mengaku tidak pernah berinteraksi dengan yang bersangkutan sebelumnya.
“Saya tidak kenal Michelle Wibowo ini siapa, dan sebelumnya saya juga tidak pernah berinteraksi dengan dia sama sekali. Namun, sosok ini cukup viral di media sosial karena unggahan book club-nya yang mengharuskan anggotanya lulusan luar negeri. Dari profilnya, MW tampaknya lulusan SJTU dan Lund. Berawal dari rasa penasaran, saya melakukan sedikit stalking di Threads dan Instagram,” ujar Evan.
Ia mengatakan, penelusuran semakin berkembang setelah melihat sejumlah pernyataan Michelle di media sosial yang menurutnya kontroversial.
“Waktu saya lihat profilnya, kok, perkataannya kasar sekali. Banyak juga pernyataan kontroversial dari dia, seperti rasisme, sentimen anti-imigran, sovinisme rasial, dan pernyataan misoginis yang kerap merendahkan perempuan Indonesia. I mean, dia itu seorang perempuan, loh. Kenapa dia berkata-kata seperti itu? Unggahannya tidak mencerminkan intelektualisme. Dari situlah saya melakukan investigasi kecil-kecilan ini,” tambahnya.
Natalia Rusli Ikut Menyoroti Temuan Evan
Utas Evan kemudian menarik perhatian pengacara Natalia Rusli. Selama ini, Natalia mengaku kerap menjadi sasaran serangan pribadi Michelle, termasuk terhadap keluarganya.
Natalia bahkan pernah melaporkan Michelle ke kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik karena merasa mendapat hujatan dan serangan terhadap reputasi yang dinilainya sudah melampaui batas.
Salah satu tuduhan Michelle kepada Natalia berkaitan dengan keaslian ijazah. Persoalan tersebut sempat bergulir melalui laporan polisi Nomor LP/B/3180/VI/2021/SPKT/PMJ.
Namun, menurut keterangan Natalia, penyelidikan perkara tersebut dihentikan setelah ijazahnya dinyatakan asli melalui penerbitan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyelidikan (SP2Lid).
Natalia kemudian ikut mencermati temuan Evan. Ia menyebut tim investigasi internal Master Trust Law Firm menemukan sejumlah dokumentasi di media sosial Michelle yang memperlihatkan aktivitas promosi dan penjualan kelas privat, antara lain kelas parenting dan trading opsi saham (stock option).
Menurut Natalia, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian apabila sertifikat yang dipertanyakan digunakan untuk membangun kepercayaan masyarakat dalam memasarkan kelas-kelas berbayar.
“Iya, menurut saya ini berbahaya sekali. Sertifikat-sertifikat yang diduga palsu ini bisa dia gunakan untuk meyakinkan orang lain agar ikut kelasnya. Ini bisa menimbulkan kerugian, baik materiel maupun imateriel, bagi orang lain,” ujar Natalia, melalui keterangan tertulisnya, Minggu (8/11/2026).
Natalia mengatakan pihaknya masih mendalami persoalan tersebut bersama Evan dan beberapa orang lain yang diduga pernah dirugikan oleh Michelle.
“Dulu, si Michelle menuduh ijazah saya palsu, padahal sudah terbukti ijazah dan kualifikasi saya asli semuanya. Iman saya percaya pada hukum tabur tuai. Kita bisa melihat kualitas ‘pupuknya’ dari ‘buah’ yang dihasilkan. Saya percaya Tuhan itu adil. Saya sudah berkali-kali dizalimi oleh Michelle, difitnah ijazah saya palsu. Ternyata sekarang ijazah dia yang diduga palsu, melalui perpanjangan tangan Adik Evan,” ujar Natalia.
Ia menambahkan, pihaknya telah mengantongi sejumlah dokumen sertifikasi lain yang menurut penelusuran mereka juga perlu diperiksa keabsahannya.
“Saya sudah berdiskusi panjang dengan Adik Evan. Saat ini kami sudah mengantongi beberapa bukti sertifikasi lain milik dia yang juga diduga dipalsukan. Ditunggu saja kelanjutannya,” tambahnya.
Di tengah polemik tersebut, Natalia mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati sebelum mengikuti kelas daring, terutama pelatihan yang berkaitan dengan keuangan dan investasi.
Ia meminta calon peserta tidak hanya melihat banyaknya sertifikat atau gelar akademik yang ditampilkan seorang pengajar, tetapi juga memeriksa keabsahan dan relevansi kualifikasinya dengan materi yang diajarkan.
“Kami selaku penegak hukum mengingatkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk berhati-hati terhadap siapa pun yang menjual kelas daring, khususnya kelas keuangan seperti trading, apalagi jika pengajarnya tidak memiliki kualifikasi yang jelas,” ujarnya.
Natalia juga mengingatkan masyarakat agar memilih lembaga pelatihan yang memiliki akreditasi jelas dan tenaga pengajar profesional.
“Masyarakat juga perlu lebih teliti dalam melihat sertifikasi seseorang dan memeriksa keabsahan kualifikasinya agar tidak tertipu. Praktik seperti ini didasari iktikad tidak baik dan dapat merugikan masyarakat. Kalau ingin mengikuti pelatihan, pilihlah lembaga yang jelas akreditasinya dan memiliki tenaga pengajar profesional,” tambahnya.
Natalia turut mengajak masyarakat yang merasa pernah mengalami kerugian, baik materiel maupun imateriel, akibat mengikuti kelas keuangan dari pengajar yang diduga tidak memiliki kualifikasi memadai untuk menghubungi Master Trust Law Firm guna memperoleh pendampingan hukum. (Boy)

