JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menggelar sosialisasi penguatan implementasi Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan di Jakarta, Selasa (30/1/24).
Kegiatan itu bertujuan untuk melanjutkan sinergitas dan kolaborasi lintas sektor kepada 514 Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen PDM) Kemdikbudristek, Iwan Syahril mengatakan, penguatan itu perlu dilakukan agar pembelajaran tak berfokus pada baca, tulis dan berhitung, tetapi harus lebih holistik.
“Penguatan juga diberikan kepada guru SD kelas awal, selain guru PAUD dengan menyasar enam kemampuan fondasi dalam pembelajaran. Tak hanya berfokus pada baca, tulis dan hitung, tetapi harus lebih holistik,” ucap Iwan menegaskan.
Enam kemampuan fondasi itu disebutkan, antara lain Mengenal nilai agama dan budi pekerti; Keterampilan sosial dan bahasa untuk berinteraksi; Kematangan emosi untuk berkegiatan di lingkungan belajar; dan Kematangan kognitif untuk kegiatan belajar.
Selain juga ada Pengembangan keterampilan motorik untuk berpartisipasi di lingkungan belajar secara mandiri; dan Pemaknaan belajar sebagai hal yang menyenangkan dan positif.
“Kami telah menerbitkan kebijakan tentang Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan pada Maret 2023 sebagai bagian dari Gerakan Merdeka Belajar,” katanya.
Kebijakan itu bertujuan untuk mengatasi miskonsepsi terkait kemampuan yang dibangun pada anak di PAUD. Hasil studi Kemdikbudristek mengungkapkan, masih ada pemahaman keliru bahwa tes yang berfokus pada kemampuan baca, tulis dan hitung (calistung) adalah satu-satunya bukti keberhasilan belajar.
“Karena dinilai berhasil, maka model tes calistung itu masih diterapkan sebagai syarat masuk SD,” tuturnya.
Menurut Iwan, Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan menjadi solusi atas kemampuan calistung yang ternyata dipahami secara sempit dan dianggap dapat dibangun secara instan.
“Berangkat dari semangat untuk menyelaraskan proses pembelajaran di PAUD dan SD, kami terbitkan Surat Edaran Nomor 0759/C/HK.04.01/2023 yang mengatur tentang penguatan transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar Kelas Awal,” katanya.
Sementara itu, Direktur Sekolah Dasar, Kemdikbudristek, Muhammad Hasbi menambahkan, penguatan Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan sangat penting untuk mengubah miskonsepsi yang terjadi di lapangan.
“Kemdikbudristek berkomitmen untuk mewujudkan penguatan gerakan ini, agar pelaksanaannya berhasil baik di tingkat pusat, daerah, maupun satuan pendidikan dan orang tua atau masyarakat,” tuturnya.
Hasbi mengatakan, kegiatan sosialisasi merupakan bentuk penguatan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait, agar dapat melanjutkan keberhasilan Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.
Harapannya, upaya itu dapat meningkatkan pemahaman Dinas Pendidikan dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) tentang Surat Pemberitahuan melalui Redistribusi Surat Edaran Kepala Dinas tentang Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan di daerahnya masing-masing.
Ditambahkan, sinergisitas dan kolaborasi lintas sektor penting agar penguatan Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan dapat dilakukan secara masif dan konstruktif.
“Penguatan transisi PAUD hingga SD kelas awal atau kelas 2 sebagai bentuk pemenuhan hak setiap anak,” ucap Hasbi.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur PAUD, Kemdikbudristek Komalasari dalam pemaparannya menyebutkan, masa transisi dari PAUD ke SD/MI merupakan momen penting bagi tumbuh kembang anak.
“Untuk itu, sudah sepantasnya satuan pendidikan di Indonesia memastikan proses ini berjalan secara baik dan menyenangkan. Salah satunya, mendukung terbentuknya kemampuan fondasi yang kokoh bagi anak-anak pada jenjang pendidikan PAUD maupun di SD/MI kelas awal,” tuturnya.
Komalasari mengungkapkan, tahun lalu dunia pendidikan di Indonesia bersinergi mendorong Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Kemudian, diterbitkan Surat Edaran Nomor 0759/C/HK.04.01/2023 yang mengatur tentang penguatan transisi dari Pendidikan Anak Usia DiIni (PAUD) ke Sekolah Dasar Kelas Awal.
“Gerakan ini telah diterapkan lebih dari 502 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia,” katanya.
Berikut rangkaian rapat koordinasi untuk dinas dan bimbingan teknis bagi Pokja Bunda PAUD di 514 kota/kabupaten yang melibatkan mitra untuk bergerak bersama dalam menjalankan tiga target perubahan.
Dalam Gerakan Merdeka Belajar Episode ke-24, disebutkan ada 3 target perubahan yang diharapkan dapat tercapai pada tahun ajaran baru. Target itu adalah menghilangkan tes calistung sebagai syarat penerimaan siswa baru; penerapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), serta berharap satuan PAUD dan SD dapat menerapkan sistem pembelajaran yang menyenangkan.
Tiga target tersebut, menurut Komalasari, dirumuskan untuk mengatasi kesalahpahaman tentang kemampuan calistung, yang sering dianggap sebagai satu-satunya kemampuan yang perlu dipupuk pada anak usia dini.
Ketiga target itu juga mengingatkan masyarakat bahwa setiap anak memiliki laju perkembangan dan kesempatan belajar yang beragam, sehingga kemampuan fondasi yang utuh perlu dibangun sejak di PAUD dan berlanjut ke kelas awal pada jenjang pendidikan dasar.
“Target inilah yang memandu para pendidik menerapkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar anak di PAUD dan jenjang pendidikan dasar kelas awal,” kata Komalasari.
Setelah sukses melaksanakan tiga target perubahan sebagai siklus awal pada tahun lalu, Komalasari menegaskan, pada 2024 ini menjadi saat yang tepat untuk melanjutkan siklus berikutnya dengan berbagai perbaikan dan penguatan.
“Saya menyoroti pentingnya menjaga momentum ini, sehingga gerakan yang kita usung secara gotong royong dapat memberi dampak yang lebih masif, konstruktif, berkesinambungan dan menyebar ke berbagai satuan pendidikan,” ujarnya. (Tri Wahyuni)
