JAKARTA (Suara Karya): Kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) melahirkan inovasi jajanan sehat dari dua mahasiswa Program Studi D4 Perhotelan, Institut Pariwisata (IP) Trisakti, Alhatta Zikry dan Muhammad Furqon.
Melalui proyek tugas akhir, keduanya menciptakan Nutribites, biskuit chocolate almond cookies yang dirancang khusus bebas gluten, bebas gula, bebas kasein, bebas telur, serta kaya lemak sehat, tinggi serat dan omega-3.
Produk tersebut dipamerkan dalam IP Trisakti Tourism Expo ke-4 yang digelar di Kampus IP Trisakti, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada 12-13 Desember 2025.
Inovasi tersebut langsung mencuri perhatian karena menyasar segmen yang selama ini minim pilihan, yakni anak berkebutuhan khusus dengan pantangan makanan tertentu.
“Kami mahasiswa semester akhir, yang mendapat tugas akhir dari dosen pembimbing, Triana Rosalina Dewi merancang cemilan untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki pantangan, terutama gluten dan gula,” kata Atta, sapaan akrab Alhatta Zikry saat ditemui di lokasi pameran.
Nutribites dikembangkan sepenuhnya berbasis riset. Tepung gandum diganti dengan tepung bebas gluten, gula dihilangkan sama sekali, dan produk susu serta telur tidak digunakan. Sebagai pengganti telur, mereka memanfaatkan flaxseed yang dikenal tinggi serat dan kaya omega-3.
“Walaupun flaxseed dari biji-bijian, tapi kandungan nutrisinya tinggi. Tekstur cookies juga terbantu dari flaxseed ini,” jelasnya.
Muhammad Furqon menambahkan, pemanis yang digunakan berasal dari bahan alami, yakni monk fruit sugar dan stevia, sehingga aman untuk anak dengan sensitivitas gula. “Gula kami nol persen. Kalori yang ada berasal dari bahan-bahan alami seperti mocaf, flaxseed, dan almond,” katanya.
Ide Nutribites berangkat dari pengalaman pribadi Atta yang memiliki keluarga terapis wicara. Ia kerap melihat anak-anak ABK mengalami tantrum saat terapi, karena mengonsumsi snack umum yang mengandung gula dan gluten.
“Orang tuanya sebenarnya sudah tahu anaknya pantangan gula dan gluten, tapi di pasaran hampir tidak ada pilihan snack yang aman. Dari situ kami terpikir untuk merancang produk ini,” ungkapnya.
Seluruh proses, mulai dari riset jurnal, uji coba rasa, aroma, hingga tekstur, dilakukan sendiri oleh keduanya. Produksi dilakukan di dapur dengan modal pribadi sekitar Rp3 juta untuk membeli bahan yang sebagian besar dibeli secara daring.
Harga Nutribites ditawarkan dengan harga terjangkau, yaitu Rp25.000 per 80 gram. “Target kami bukan hanya kalangan menengah atas, tapi semua lapisan masyarakat,” ujarnya.
Nutribites telah mulai diproduksi sejak satu bulan terakhir dan siap didistribusikan secara terbatas ke klinik terapi, serta sekolah luar biasa (SLB). Meski dirancang untuk ABK, produk ini juga menyasar konsumen umum, termasuk vegan dan pelaku diet sehat.
“Kami ingin mengenalkan bahan-bahan yang belum banyak diketahui masyarakat. Banyak anak berkebutuhan khusus, tapi orang tua belum tahu produk apa yang cocok. Harapannya, produk seperti ini bisa dikenal lebih luas,” tambahnya.
Setelah lulus nanti, Atta dan Furqon berkomitmen untuk terus mengembangkan Nutribites. “Produk seperti ini masih sangat jarang. Kami ingin terus mengembangkannya karena kebutuhannya nyata,” pungkasnya. (Tri Wahyuni)
