PANDEMI COVID-19
FK2PT Imbau Peningkatan Penggunaan Bahan Baku Lokal di Industri Perikanan Tangkap

0
(suarakarya.co.id/Istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Pandemi Covid-19 telah berdampak negatif terhadap semua sektor industri, tidak terkecuali industri hulu perikanan tangkap. Industri jaring, industri galangan kapal dan industri kepelabuhanan sebagai motor pendukung penangkapan ikan, nyaris terhenti sebagai imbas dari tertutupnya pasar produk perikanan. 

“Untuk itu upaya pelaksanaan program padat karya dan penggunaan bahan baku lokal di industri hulu perikanan tangkap di era adaptasi kebiasaan baru harus tingkatkan”, ungkap Ketua Forum Komunikasi Kemitraan Perikanan Tangkap (FK2PT) Agus Suherman, Sabtu (15/8/2020).

Agus menjelaskan, program ini sejalan dengan imbauan presiden agar penggunaan produk dalam negeri perlu terus dijalankan dan ditingkatkan semaksimal mungkin melalui inovasi atau strategi yang terukur dan implementatif.

“Saat ini, dengan pertumbuhan ekonomi yang minus tentu akan menggerus juga ekonomi perikanan.  Program padat karya dan penggunaan produk berbahan baku lokal saya kira dapat menjadi upaya dalam rangka menggerakkan ekonomi mikro,” kata Agus.

Selain itu, Ia juga menambahkan program padat karya bantuan perikanan perlu diperluas jenis dan ragamnya. Misalnya, alat tangkap usaha bubu lipat yang dikerjakan secara handmade oleh masyarakat. Kalau bantuan ini membeli produk lokal yang dikerjakan secara manual oleh banyak tenaga manusia, tentunya dampaknya akan luar biasa menciptakan perputaran ekonomi mikro di desa. Tentu dengan terus menjaga protokol Kesehatan.

Sementara itu, Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB University  Sugeng Hari Wisudo,  memberikan satu ulasan perlunya strategi adaptif, strategi cerdas bagi para pelaku usaha industri hulu perikanan tangkap untuk menghadapi era new norma.

“Dampak pandemi telah menyebabkan pertumbuhan negatif pada semua sektor, kecuali sektor pertanian, infokom dan pengadaan air. Sektor yang paling terpengaruh adalah transportasi, pergudangan, serta akomodasi dan makan minum. Lapangan usaha perikanan yang termasuk dalam sektor pertanian, ternyata juga mengalami pertumbuhan yang negatif”, ungkap Sugeng.

Namun demikian menurut Sugeng, selain dampak negatif, pandemi telah mendorong lompatan transformasi teknologi. Perusahaan-perusahaan harus dapat menerapkan smart adaptive strategy, strategi adaptif yang lincah untuk menghadapi turbulensi kompetisi lingkungan bisnis. Strategi adaptasi cerdas dalam cara pemasaran, cara menghasilkan produk atau jasa layanan, strategi adaptasi cerdas pada sistem basis data dan informasi, sistem logistik, bisnis terintegrasi dan bisnis berkelanjutan.

Sugeng menambahkan, perkembangan teknologi yang melejit selama pandemi Covid-19 akan berlanjut hingga masa depan. Era baru teknologi sudah mewarnai belanja dalam jaringan, pembayaran digital, teleworking, pelayanan medis jarak jauh, pendidikan dan pelatihan jarak jauh, hiburan daring, rantai pasokan 4,0, 3D printing, Robot dan drone, dan teknologi 5D.

Arief Yudhi Susanto General Manager PT Arteri Daya Mulia, Cirebon salah satu perusahaan alat penangkapan ikan terkemuka di Indonesia menyatakan pandemi Covid-19 telah menurunkan order perusahaan mencapai 50% sebagai dampak dari menurunnya aktivitas penangkapan ikan. Disamping itu operasional perusahaan juga terhambat dengan berbagai permasalahan peningkatan biaya non produksi dan operasional seperti penyediaan hand sanitizer, masker dan disinfektan rutin untuk 2.200 karyawan yang saat itu harga barang-barang tersebut melonjak drastis, demikian menurut Yudhi.

Permasalahan perusahaan tidak berhenti disini, pemberlakuan PSBB di beberapa kota telah membatasi operasional agen-agen pemasaran di kota-kota tersebut, distribusi barang menjadi terhambat dan biaya ekspedisipun meningkat. Sementara itu kewajiban perusahaan tetap harus dibayarkan tanpa ada terobosan kebijakan pemerintah yang membantu.  Apalagi pandemi ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dimana perusahaan harus membayar THR dan insentif karyawan, ujarnya.

La Anadi Dosen UHO sekaligus juga pemilik perusahaan galangan dan reparasi kapal fiberglass CV Wahana juga mengungkapkan hal yang sama. “Aktivitas perusahaan nyaris terhenti, permintaan pembuatan kapal baru maupun reparasi hampir tidak ada. Perusahaanpun melakukan transformasi untuk mempertahankan usaha dengan mengubah fungsi galangan dengan membuat produk baru yaitu pembuatan tepung ikan, tepung udang, dan tepung rajungan untuk pakan ikan dan ungags”, ungka La Anadi.

Sementara Arief Hidayat Kepala Cabang Perum Perikanan Indonesia, Jakarta mencanangkan strategi optimalisasi pengusahaan kepelabuhanan untuk memanfaatkan peluang-peluang bisnis masa pandemi. Bussines plan baru dibuat untuk mencari terobosan-terobosan peluang bisnis baru, optimalisasi aset, digitalisasi bisnis dan interkoneksi antar pelabuhan perikanan. (Pramuji)