JAKARTA (Suara Karya): Upaya memperkuat kualitas kepemimpinan di tubuh Tentara Nasional Indonesia kembali diperkuat melalui program pelatihan eksekutif yang melibatkan kolaborasi nasional dan internasional. Program ini resmi dibuka pada Senin, (13/4/2026), di Kantor Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks.
“Program ini merupakan ruang pembelajaran strategis yang sangat penting, terutama dalam menghadapi dinamika ancaman yang terus berkembang, baik dari aspek militer maupun nonmiliter,” ujar Donny dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa TNI membutuhkan pemimpin yang tidak hanya tangguh di lapangan, tetapi juga mampu membaca perubahan global secara cepat dan mengambil keputusan yang tepat dalam situasi penuh ketidakpastian.
Program ini merupakan hasil kerja sama antara Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, serta S. Rajaratnam School of International Studies di bawah Nanyang Technological University.

Pendiri PYC, Purnomo Yusgiantoro, menilai bahwa perubahan lanskap keamanan global menuntut transformasi dalam pola kepemimpinan militer.
“Tantangan keamanan saat ini semakin kompleks, sehingga diperlukan pemimpin yang adaptif, visioner, dan mampu mengambil keputusan strategis dalam situasi yang dinamis,” kata Purnomo.
Menurutnya, program ini dirancang untuk membekali para perwira dengan kemampuan analitis yang kuat, sekaligus memperluas perspektif lintas sektor dalam menghadapi ancaman modern.
Selain itu, pelatihan juga menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi dalam merespons krisis. Dengan pendekatan yang menggabungkan teori dan praktik, peserta diharapkan mampu memahami persoalan keamanan secara lebih komprehensif.
Sebanyak 25 perwira menengah TNI dari tiga matra serta tiga perwakilan Dewan Pertahanan Nasional mengikuti program ini. Mereka merupakan pejabat strategis di satuannya masing-masing, seperti komandan distrik militer hingga komandan pangkalan.
Pelatihan akan berlangsung selama dua minggu, mulai 13 hingga 24 April 2026, di Pusat Kompetensi Bela Negara BPSDM Kemhan di Rumpin. Selama periode tersebut, peserta akan mengikuti diskusi strategis, studi kasus, hingga sesi pembelajaran berbasis pengalaman.
Melalui kolaborasi ini, Kemhan berharap dapat melahirkan pemimpin-pemimpin TNI yang tidak hanya unggul secara operasional, tetapi juga memiliki kapasitas strategis dan kemampuan kolaboratif dalam menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang. (Boy)
