JAKARTA (Suara Karya): Universitas Terbuka (UT) saat ini tengah melakukan revisi total atas materi kurikulumnya, menyusul diterbitkannya Permendikbudristek No 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
“Ada 44 program studi dari S1,S2 dan S3 yang sedang berjalan saat ini dirombak total, menyesuaikan Permendikbudristek No 53 Tahun 2023,” kata Wakil Rektor I Bidang Akademik UT, Dr Mohamad Yunus dalam acara ‘Media Day 2023’ di kampus UT, Pondok Cabe, Tangsel, Kamis (7/12/23).
Perubahan kurikulum itu dilakukan, menurut Mohamad Yunus, untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dan masyaraiat di masa depan. Pada Mei 2024, mahasiswa dari 34 prodi S1 sudah berhadapan dengan kurikulum baru.
“Semoga dinamika baru memicu gairah dan semangat dalam menghadapi tantangan zaman yang makin berat,” ujarnya.
Sedangkan sisanya 10 prodi adalah program S2 dan S3, lanjut Mohamad Yunus, masih dalam proses revisi hingga akhir 2024. “Semoga awal Januari 2025, Program Pascasarjana UT sudah tampil dengan wajah baru, karena tantangan dan karakteristik yang berbeda,” ujarnya.
UT juga mempersiapkan 17 prodi baru, dan 4 prodi diantaranya akan diluncurkan pada Januari 2024. Empat prodi baru itu adalah S1 Pendidikan Agama Islam untuk seluruh UT Daerah; S1 Perpajakan untuk seluruh UT Daerah; S1 Sain Data untuk maksimal 10 UT Daerah; dan S2 Pendidikan Anak Usia Dini.
“Sisanya, yaitu 13 prodi S1 dan S2, diantaranya prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) semoga bisa diluncurkan pada akhir 2024 atau awal 2025. Termasuk S2 Komunikasi, S2 Hukum, S3 Lingkungan dan S3 Prodi Pendidikan Dasar. Jadi nantinya setiap fakultas di UT punya program doktoral,” tuturnya.
Perubahan kurikulum dan penambahan prodi baru tersebut, menurut Rektor UT Prof Ojat Darojat, juga untuk membangun citra UT yang semakin positif.
“Semoga perubahan ini bisa menarik minat milenial, Gen Z dan Gen Alpha untuk kuliah di UT. Selain pembelajarannya fleksibel, UT memiliki banyak prodinbaru yang sesuai di era ini ,” kata Prof Ojat.
Perubahan wajah baru UT tersebut diharapkan dapat mendongkrak perolehan mahasiswa hingga mencapai 750 ribu orang pada 2024, dari target besar 1 juta mahasiswa.
Penetapan target hingga 1 juta mahasiswa UT bukan tanpa alasan. Hal itu merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendongrak Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia yang saat ini sebesar 31 persen.
“APK Pendidikan Tinggi kita tertinggal jauh dibanding negara tetangga seperti Malaysia yang sudah 50 persen, Thailand 40 persen dan Singapura 70 persen,” kata Prof Ojat seraya menegaskan status UT sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) ke-45 yang memang didesain berbeda.
Ditambahkan, UT selamanya akan menjadi perguruan tinggi jarak jauh (PTJJ) untuk penduduk Indonesia yang ingin bekerja sambil kuliah, penduduk di daerah 3 T dan penduduk yang ingin belajar sepanjang hayat.
“UT tidak pernah bercita-cita membuka pembelajaran tatap muka. UT akan konsisten sebagai perguruan tinggi jarak jauh, sesuai dengan desain yang dibuat pemerintah,” kata Prof Ojat menandaskan. (Tri Wahyuni)
