Suara Karya

Lulusan UT Diminta Jadi Penggerak Perubahan, Deputi Menko PMK: Gelar Bukan Tujuan Akhir

JAKARTA (Suara Karya): Gelar akademik tak lagi jaminan utama meraih kesuksesan. Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan dunia kerja yang semakin cepat, lulusan perguruan tinggi dituntut menjadi pribadi yang inovatif, adaptif, mampu berkolaborasi, serta terus meningkatkan kompetensi.

Pesan itu disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Prof Ojat Darojat dalam orasi ilmiahnya pada Seminar Wisuda Universitas Terbuka (UT), di Gedung UTCC, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Senin (29/6/26).

Mengusung tema ‘Menjadi Generasi yang Inovatif, Berintegritas, dan Mendunia’, Prof Ojat mengajak seluruh lulusan UT menatap masa depan dengan optimisme.

“Let’s slay the future. Kita telah mengalahkan berbagai keterbatasan di masa lalu. Jadikan setiap tantangan sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik, bukan hanya bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Dalam paparannya, Prof Ojat mengungkapkan, UT telah menjadi salah satu kekuatan terbesar pendidikan tinggi Indonesia. Sejak berdiri pada 1984, UT telah meluluskan hampir 2,5 juta alumni dan kini memiliki sekitar 780 ribu mahasiswa aktif.

Jumlah ini menjadikan UT sebagai perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa terbesar di Indonesia. Capaian tersebut menunjukkan keberhasilan UT dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat hingga pelosok negeri.

“Dulu, kuliah bagi guru di daerah terpencil hanyalah mimpi. Kini, melalui UT, masyarakat di pelosok, pegunungan hingga wilayah pesisir memiliki kesempatan yang sama meraih gelar sarjana, magister bahkan doktor,” katanya.

Prof. Ojat menegaskan, keunggulan utama UT terletak pada fleksibilitas layanan pembelajaran. “Di UT, mahasiswa bisa belajar kapan saja, dan di mana saja,” ucap Prof Ojat yang pernah menjabat Rektor UT dua periode, yaitu 2017-2021 dan 2021-2025 tersebut.

Selain membahas akses pendidikan, ProfbOjat menyoroti perubahan besar akibat perkembangan teknologi digital. Menurutnya, era baru membutuhkan keterampilan baru, sehingga setiap orang harus terus melakukan upskilling dan reskilling agar tetap relevan.

Ia mengingatkan para guru agar mampu memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran, sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Digitalisasi Pembelajaran.

“Yang mampu bertahan bukan yang paling kuat, tetapi mereka yang mampu beradaptasi terhadap perubahan,” tegasnya.

Prof. Ojat juga menekankan pentingnya kreativitas dan inovasi sebagai modal utama menghadapi masa depan. Ia mencontohkan berbagai inovator dunia yang mampu mengubah cara hidup masyarakat melalui ide-ide kreatif.

“Inovasi lahir dari keberanian melihat peluang, membangun persepsi, dan menciptakan solusi baru bagi kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Namun demikian, kecerdasan akademik saja dinilai tidak cukup.
Ia mengingatkan banyak lulusan dengan indeks prestasi tinggi justru gagal berkembang, karena minim kemampuan sosial, kepemimpinan, komunikasi, hingga kerja sama.

“IPK hanya mencatat nilai mata kuliah. Tetapi tidak pernah mencatat kemampuan berkolaborasi, kepemimpinan, ketangguhan menghadapi masalah maupun rasa percaya diri. Padahal itulah bekal utama untuk sukses,” ujarnya.

Karena itu, Prof Ojat mendorong lulusan UT memperluas jejaring dan membangun kolaborasi. “Kita tidak bisa sukses sendirian. Kita membutuhkan orang lain. The collective power harus menjadi kekuatan utama, bukan sekadar kompetisi,” katanya.

Ia juga memperkenalkan konsep T-Shaped Person, yakni individu yang memiliki wawasan luas sekaligus keahlian mendalam pada bidang profesinya.

“Bukan hanya menjadi guru yang hebat, tetapi juga memahami manajemen, teknologi, komunikasi, hingga aspek hukum agar mampu menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.

Menutup orasinya, Prof. Ojat mengingatkan, keberhasilan seseorang tidak diukur dari gelar yang disandang, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

“Gelar adalah pengakuan kompetensi, tetapi kontribusi adalah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts