JAKARTA (Suara Karya): Mantan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Prof Agus Setyo Budi dilantik sebagai Rektor Universitas Budi Luhur (UBL).
Prof Agus mengganti rektor sebelumnya, Dr Wendi Usino yang telah menjadi Rektor Institut Sains dan Bisnis Atma Luhur, Kota Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.
Pelantikan secara resmi dilakukan oleh Ketua Yayasan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro di Jakarta, Jumat (5/1/24).
Hadir dalam kesempatan itu, Kepala LLDikti Wilayah III, Toni Toharudin, Rektor Ubhara Jaya, Irjen Pol (Purn) Prof Dr Bambang Karsono dan Rektor Universitas Tarumanegara, Agustinus Purna Irawan.
Rektor UBL, Prof Agus Setyo Budi saat ditanya soal target kerja 100 hari menjelaskan, pihaknya akan meneruskan program-program bagus yang telah dikembangkan rektor sebelumnya, sambil membenahi sumber daya manusia (SDM) dosennya.
“Kita akan melakukan upgrading jabatan fungsional dosen. Untuk itu, dosen yang belum ikut program sertifikasi dosen akan kita dorong,” tuturnya.
UBL juga akan memperbanyak kolaborasi dengan kampus papan atas baik dalam maupun luar negeri. Upaya itu penting untuk meningkatkan mutu lulusan Universitas Budi Luhur agar semakin terserap di dunia kerja.

Terkait pembenahan SDM kampus, Prof Agus Setyo Budi menjelaskan, pihaknya akan mendorong dosen tak sekadar mengajar, tetapi juga menerapkan tri dharma perguruan tinggi yaitu penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Beda dosen dengan guru adalah dosen punya tugas lain yaitu tri dharma perguruan tinggi. Ini yang masih belum banyak dilakukan dosen di perguruan tinggi kita, baik negeri maupun swasta,” kata Prof Agus yang sebelumnya aktif di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III DKI Jakarta tersebut.
Prof Agus mengakui bukan hal mudah bagi dosen untuk menjalankan tugas tri dharma perguruan tinggi, terutama bidang penelitian. Tugas itu butuh ekosistem kampus yang baik dan pendanaan yang cukup.
“Semoga dosen Universitas Budi Luhur bisa mulai melakukan penelitian dan menghasilkan keluaran berupa publikasi di jurnal bereputasi baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro dalam sambutan pelantikannya mengingatkan rektor baru untuk menghasilkan lulusan yang tak hanya cerdas, tetapi juga memiliki budi luhur.
“Cerdas dan Berbudi Luhur ini bukan sekadar jargon, tetapi harus dimiliki lulusan Universitas Budi Luhur. Cerdas saja tanpa budi luhut, orang akan semena-mena, tetapi budi luhur saja tanpa didukung kecerdasan juga mudah dibohong-bohongin orang,” tuturnya.
UBL memilih Prof Agus Setyo Budi, menurut Kasih Hanggoro karena memiliki pengalaman yang banyak di bidang pendidikan tinggi. Hal itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas UBL menjadi lebih baik di masa depan. (Tri Wahyuni)
