Suara Karya

Pakar: Konsumsi Serangga Lebih Sehat Dibanding Ayam

JAKARTA (Suara Karya): Serangga kini bisa menjadi alternatif baru untuk konsumsi pangan. Kandungan gizinya setara ayam, tetapi lebih sehat. Pasalnya, serangga tak butuh suntikan hormon pertumbuhan seperti pada ayam broiler.

“Pemerintah tak perlu gelisah jika harga pakan ternak naik, kan masih ada serangga. Caranya mudah, suruh saja siswa beternak serangga di sekolahnya. Itu bisa jadi sumber protein keluarga,” kata pakar pangan, FG Winarno usai bedah bukunya berjudul “Serangga Layak Santap, Sumber Baru bagi Pangan dan Pakan,” di Jakarta, Kamis (6/9).

Hadir dalam kesempatan itu, Direktur PT Indofood Sukses Makmur yang juga Ketua Program Indofood Riset Nugraha (IRN), Suaimi Suriady dan Ketua Tim Pakar IRN yang baru, Purwiyatno Hariyadi.

Ketua Tim Pakar IRN periode 1998-2018 itu menjelaskan, serangga memiliki berbagai keunggulan dibandingkan hewan pada umumnya. Dua diantaranya adalah bernilai gizi tinggi dan ramah lingkungan.

“Awalnya mungkin menjijikkan, tapi jika sudah pernah makan serangga akan ketagihan. Ini seperti awal kisah udang dan lobster awal ditemukan,” tuturnya.

Bahkan, lanjut Guru Besar Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), masyarakat di negara seperti Thailand, Laos, Myanmar, Kamboja, China dan beberapa lainnya di Amerika Latin dan Afrika, menjadikan serangga seperti cemilan.

“Di beberapa daerah di Indonesia, sebenarnya sudah akrab dengan pangan serangga ini. Seperti di Papua yang suka makan ulat pohon sagu, warga Yogyakarta yang membuat peyek dari laron atau daerah Jawa Timur yang akrab dengan jangkrik goreng,” katanya.

Winarno menyebut ada sekitar 2 ribu spesies serangga yang layak dikonsumsi. Hasil penelitian yang dilakukan Universitas Wageningen, Belanda bekerja sama dengan organisasi pangan dunia, FAO melaporkan, serangga memiliki kadar protein yang mirip dengan pangan hasil ternak lainnya.

“Di Indonesia, serangga selama ini dianggap sebagai hama yang harus diberantas, bukan dikonsumsi. Jadi butuh waktu lama untuk mengubah mindset ini dulu,” ujarnya.

Disebutkan serangga yang dikonsumsi masyarakat dunia antara lain, jangkrik, tonggeret, belalang, semut, cacing sampah makanan, ulat sutera, kelabang, kalajengking dan tarantula. Sementara di Indonesia, serangga jenis jangkrik, belalang, laron, rayap, tawon madu dan ulat sagu.

Winarno mengingatkan, seseorang dengan alergi terhadap shellfish seperti udang atau lobster tidak boleh makan serangga. Karena hewan tersebut berada pada filum yang sama yaitu artropoda. “Efek alerginya sama seperti kalau makan udang,” ujar Winarno menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts