Saat Remaja Terkena Anemia, Ibu Hamil Berisiko Lahirkan Anak Stunting

0

JAKARTA (Suara Karya): Informasi seputar masalah gizi tampaknya penting diketahui anak sejak dini. Pasalnya, status gizi seseorang yang jelek di masa remaja, akan berpengaruh terhadap kualitas kesehatannya saat tumbuh dewasa.

“Anak terkena masalah gizi saat remaja berisiko tinggi melahirkan generasi yang bermasalah dengan gizi,” kata Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Kartini Rustandi dalam temu media virtual Hari Gizi Nasional ke-61 bertajuk “Remaja Sehat Bebas Anemia”, Jumat (22/1/21).

Kondisi itu, lanjut Kartini, terlihat nyata pada kasus anemia. Anak yang menderita anemia di usia remaja, saat menjadi ibu hamil berpotensi melahirkan anak stunting. Sementara kasus anemia di Indonesia terbilang cukup tinggi, yaitu 3 dari 10 remaja mengalami anemia.

“Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Selain anak stunting, anemia juga menimbulkan masalah kesehatan lainnya yaitu penyakit tidak menular, produktivitas dan prestasi menurun, termasuk masalah kesuburan.

Ditambahkan, remaja putri menderita anemia berisiko menjadi wanita usia subur yang anemia. Ibu hamil anemia, berpotensi terkena kurang energi protein. Kondisi itu memungkinan lahir bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan stunting, komplikasi saat melahirkan serta beberapa risiko kehamilan lainnya.

“Untuk remaja putri kami harapkan bisa menjadi calon ibu yang sehat. Sehingga lahir anak-anak Indonesia yang l bebas stunting,” katanya.

Kartini mengungkapkan, anemia pada remaja puteri kebanyakan disebabkan gaya hidup yang kurang sehat. Merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sekitar 65 persen remaja tidak sarapan, 97 persen kurang mengonsumsi sayur dan buah, kurang aktivitas fisik serta konsumsi Gula, Garam dan Lemak (GGL) berlebihan.

Pernyataan senada dikemukakan Guru Besar Departemen Gizi Fakulkas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Endang L Achadi. Katanya, penyebab remaja puteri menderita anemia adalah rendahnya asupan zat gizi dan meningkatnya pengeluaran zat gizi. Namun, di Indonesia sendiri, sebagian besar disebabkan kurangnya konsumsi makanan kaya zat besi.

“Rata-rata makanan penduduk Indonesia mengandung zat gizi besi lebih rendah dari jumlah yang dibutuhkan untuk membentuk haemoglobin (Hb). Untuk itu, asupan gizi seimbang sangat penting,” ucapnyam

Ia menjabarkan, untuk memenuhi kebutuhan zat gizi besi pada tubuh tak bisa mengandalkan satu jenis makanan saja, melainkan kombinasi dari berbagai jenis makananan.

“Karena tak cukup karbohidrat saja, tak cukup protein hewani dan nabati, buah saja atau sayur saja, tetapi harus semua makanan dengan berbagai macam zat gizi didalamnya. Makanan harus berisi zat gizi yang seimbang,” katanya.

Untuk pencegahan anemia, Kementerian Kesehatan melakukan intervensi spesifik dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja puteri dan ibu hamil. Selain itu, Kemenkes juga melakukan penanggulangan anemia melalui edukasi dan promosi gizi seimbang, fortifikasi zat besi pada bahan makanan serta penerapan hidup bersih dan sehat.

Ditambahkan, komitmen Indonesia untuk mengatasi triple burden of malnutritions dengan memberikan tablet tambah darah untuk remaja putri sejak 2016.

“Kita juga melakukan komunikasi perubahan perilaku, diharapkan para remaja bisa menjadi agent of change untuk melakukan perubahan perilaku di masyarakat,” tuturnya.

Kartini kembali menegaskan, persoalan kesehatan dan gizi remaja tidak dapat diselesaikan oleh bidang kesehatan saja, melainkan perlu dukungan dari lintas sektor dan lintas program. Termasuk dukungan dari UNICEF Indonesia.

Jee Hyun Rah, Chief Nutrition UNICEF Indonesia menuturkan Kemenkes menjalin kerja sama dengan UNICEF untuk melakukan program penanggulangan masalah gizi pada remaja yakni Aksi Bergizi.

“Program Aksi tersebut memiliki 3 paket intervensi yakni memperkuat pemberian TTD mingguan bagi remaja putri, pendidikan gizi berbasis sekolah dan melakukan sosialisasi untuk perubahan perilaku. Program dilakukan pengujian di 2 tempat yakni Klaten dan Lombok,” ujar Jee Hyun Rah.

Program itu, lanjut Jee Hyun Rah, menunjukkan hasil yang positif. Hal itu dibuktikan remaja puteri yang minum TTD meningkat, remaja yang mengonsumsi buah dan sayur meningkat serta remaja yang melakukan aktivitas fisik juga meningkat. Karena itu, ia berharap kerja sama Unicef dan Kemenkes akan terus terjalin. (Tri Wahyuni)