Siswa Perlu Dibekali Literasi Digital, Tak Sekadar Bisa Gunakan Laptop

0

JAKARTA (Suara Karya): Terlalu sederhana jika era revolusi industri 4.0 pada dunia pendidikan dimaknai sebatas penyediaan komputer atau tablet di sekolah. Yang terpenting bagaimana membekali literasi digital kepada siswa.

“Banyak negara gagal dengan program yang disebut “one children one tablet”. Karena tablet itu hanyalah teknologi, yang terus berubah,” kata Staff Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ananto Kusuma Seta dalam seminar bertajuk “TIK” di Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Yang terpenting saat ini, lanjut Ananto, sekolah menanamkan literasi digital yang tak lengkang oleh waktu. Literasi digital adalah adab siswa dalam menggunakan media sosial. Karena media sosial itu bak pedang bermata dua, dapat memberi efek positif maupun negatif.

“Inilah tugas sekolah agar media sosial memberi efek positif, bagaimana saluran dalam teknologi itu bisa mengasah nalar siswa, mengembangkan kecerdasan emosi dan sosialnya, serta menanamkan nilai-nilai baik,” ujarnya.

Karena itu, Ananto mengusulkan, siswa dalam setiap praktik mata pelajaran informatika sebaiknya membentuk kelompok yang beranggotakan 3-5 orang. Masing-masing kelompok menggunakan 1 komputer.

“Itu bagus untuk mendidik anak bersosialisasi dan mengasah kemampuan bekerja dalam tim sejak dini. Nanti kalau 1 anak 1 laptop, malah membuatnya asyik sendiri,” tuturnya.

Ia mengutip survey yang dilakukan mckislnssey pada 2018 pada sejumlah anak jenjang SD, SMP dan SMA. Hasilnya mengejutkan, ada 28 persen siswa kelas 5 SD di Amerika menjadi penyendiri. Pada jenjang yang lebih tinggi yaitu kelas 12, jumlah sebesar 67 persen.

“Hal itu terjadi karena 1 anak pegang 1 laptop. Ini harus jadi pelajaran berharga. Sekolah seharusnya jadi tempat anak tak hanya menimba ilmu, tetapi juga wadah sosialisasi dengan anak seusianya,” ucapnya menegaskan.

Sementara itu, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Kemendikbud, Awalludin Tjalla mengatakan, mapel informatika rencananya akan diterapkan di SMP dan SMA paa 2019. Diakuinya, rencana itu masih terkendala jumlah guru TIK.

“Saat ini, total guru Informatika hanya 40 ribu. Dari jumlah itu, guru yang memiliki sertifikasi dan kompetensi linier hanya sekitar 20 ribu guru. Kekurangan ini jadi kendala, karena pemerintah belum ada rencana untuk penambahan guru TIK,” kata Tjalla.

Merujuk laporan di lapangan, lanjut Tjalla, masih ada beberapa kendala lain seperti belum sinkronnya konten buku dan kompetensi dasar guru. Sehingga pihaknya masih perlu merumuskan strategi pembelajaran informatika yang lebih kompatibel. (Tri Wahyuni)