JAKARTA (Suara Karya): Hasil survey yang dilakukan Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS) belum lama ini menemukan, masih banyak kasus ibu yang keliru memberi asupan pengganti ASI (Air Susu Ibu) berupa kental manis, susu UHT, susu murni, serta air gula, teh dan air tajin.
Hal itu dikemukakan Sekjen KOPMAS, Yuli Supriati dalam pemaparannya terkait hasil survey tersebut, di Jakarta, Selasa (19/3/24).
Narasumber lain dalam diskusi adalah Guru Besar Ilmu Gizi Universitas Muhammadyah Jakarta, Prof Dr Tria Astika Endah Permatasari dan Dokter Spesialis Anak RS Permata Depok, dr Agnes Tri Harjaingrum SpA.
Yuli Supriati menjelaskan, survey KOPMAS dilakukan terhadap 1.301 responden di Jabodetabek, pada awal tahun ini menemukan, banyak ibu yang mengalami kesulitan dalam memberi ASI secara eksklusif.
“Penyebab ibu terpisah dari bayi karena alasan bekerja, dan ibu rumah tangga yang tidak mendapat support sistem yang baik selama menyusui,” kata Yuli.
Survey yang dilakukan KOPMAS untuk mengidentifikasi persoalan yang dialami ibu menyusui itu menemukan, sekitar 39 persen ibu gagal dalam memberi ASI ekslusif untuk anak. Sebanyak 27 persen ASI ekslusif terhenti sejak bayi berusia 1 bulan, dan 44 persen terhenti di usia 5 bulan.
“Sisanya sebanyak 28,5 persen ASI ekslusif terhenti pada rentang usia 2-4 bulan,” ujarnya.
Saat ASI untuk bayi terhenti, maka ibu memberi makanan atau susu pengganti ASI. Disebutkan, 85,7 persen ibu yang terkendala ASI memberi susu formula untuk bayi; 7 persen ibu memberi kental manis; 4,4 persen ibu memberi susu UHT; 1,6 persen ibu memberi air teh/air gula/air tajin; dan sisanya 1,3 persen ibu memberi susu murni.
“Hasil survey menemukan ibu yang terkendala dalam memberi ASI untuk bayinya, ternyata masih ada yang keliru. Hal itu terlihat dari jenis susu yang diberikan seperti kental manis, UHT dan susu murni,” ucap Yuli.
Survey juga menyoroti pilihan makanan yang diberikan ibu selama periode Makanan Pengganti ASI (MPASI). Selain bahan makanan seperti telur, ikan, sayur dan buah-buahan yang diberikan untuk anak, KOPMAS menemukan 8,1 persen ibu menambahkan susu murni ke dalam MPASI anak, 6 persen kental manis, 2,2 persen UHT serta 2,8 persen air gula atau teh.
Guru Besar Ilmu Gizi Universitas Muhammadyah Jakarta Prof Dr Tria Astika Endah Permatasari mengatakan, hasil survey KOPMAS makin memperkuat hasil survey-survey sebelumnya tentang kegagalan ibu menyusui.
“Kasus ini peringatan bagi kita dan pemerintah. Banyak sekali calon-calon generasi masa depan yang ternyata tidak mendapat asupan yang tepat sejak bayi,” ujarnya.
Menurut Yuli, meski persentase kasusnya kecil, namun dampaknya terhadap kesehatan anak di masa mendatang akan besar jika tidak diantisipasi dari sekarang. Mereka akan menjadi beban bagi masyarakat dan negara karena tumbuh sakit-sakitan,” kata peraih gelar guru besar termuda UMJ itu.
Hal senada dikemukakan dokter anak RS permata Depok, Agnes Tri Harjaingrum. Katanya, asupan yang baik untuk anak, khususnya bayi dibawah 1 tahun adalah ASI dan susu formula untuk bayi.
Ia menegaskan, ASI adalah satu-satunya asupan yang dapat diberikan untuk bayi usia 0 hingga 6 bulan. Namun, ada beberapa situasi yang membuat ibu terkendala memberi ASI sehingga perlu diberikan susu formula.
“Jangan sampai kita memaksakan ASI ekslusif, tetapi situasinya tidak memungkinkan. Ini justru berbahaya bagi anak. Yang harus diperhatikan adalah memastikan kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi, ucapnya.
Agnes menyoroti temuan susu UHT dan susu murni sebagai pengganti ASI maupun di periode MPASI. Gizi yang terkandung dalam UHT sangat tidak sesuai dan ada penambahan rasa dan gula.
“Hal itu sangat tidak direkomendasikan untuk bayi 0-6 bulan dimana organ pencernaan masih tumbuh dan berkembang. Sedangkan pemberian susu murni, ada risiko tercemar bakteri,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, diluncurkan website aduansusu.id yang bisa menjadi ajang silaturahmi bagi para ibu menyusui, pemerhati kesehatan atau pemegang kebijakan. Masyarakat juga bisa melaporkan masalah terkait pemberian susu di lingkungan. (Tri Wahyuni)
