JAKARTA (Suara Karya): Asosiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) memperluas Program Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) dan Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI), tak hanya bagi PTN, tapi juga PTS dan lembaga penelitian dari luar negeri.
Diharapkan, kedua program tersebut tak hanya memperkuat wawasan keilmuan antar peneliti, meningkatkan jumlah publikasi jurnal internasional, tetapi juga meningkatkan peringkat perguruan tinggi dan kerja sama riset skala nasional, bahkan global.
“Termasuk soal dana riset. Lewat kolaborasi, kita bisa membuat satu penelitian dengan menggabungkan dana yang ada, lalu ‘credit title’nya menggunakan nama-nama peneliti yang terlibat didalamnya,” kata Ketua Asosiasi LPPM PTNBH, Yuli Setyo Indartono dalam peluncuran Program RKI dan PMKI di Gedung Universitas Terbuka (UT), Tangerang Selatan, Kamis (13/2/25).
Acara yang dibuka secara resmi oleh Rektor UT, Mohammad Yunus itu dihadiri Ketua LPPM dari 24 PTNBH.
Yuli Setyo Indartono menjelaskan, Program RKI telah digagas sejak 2018 oleh sejumlah peneliti dari 4 PTNBH. Kegiatan itu, ternyata menarik perhatian hingga berkembang saat ini mencakup 24 PTNBH.
“Waktu itu, kami urunan masing-masing Rp100 juta. Lalu kami buat satu penelitian yang agak besar, yang keluarannya berupa jurnal internasional terindeks Scopus. Hasil risetnya dipakai tiga peneliti. Istilah kerennya ‘buy 1, get 3’,” kata Yuli Setyo Indartono.
Ditanya soal hasil, peneliti dari ITB tersebut mengatakan, tidaklah mengecewakan. Keluarannya mencapai 60-70 persen dari total penelitian. “Membuat jurnal internasional terindeks Scopus itu tidak mudah. Angka 60-70 persen itu sudah tinggi,” ucapnya.
Yuli Setyo Indartono mengungkapkan, Indonesia lebih baik dari Singapura dari sisi jumlah jurnal internasional.
Namun dari sisi kualitas, Indonesia kalah dari Singapura.

“Karena itu, melalui RKI dan PMKI, kami ingin saling menguatkan agar kualitasnya terus meningkat,” ujar Yuli Setyo yang dalam kesempatan itu didampingi Wakil Ketua Asosiasi LPPM PTNBH, yang juga Ketua LPPM Unnes, Benny Riyanto.
Disinggung soal efisiensi yang diterapkan pemerintah, Yuli Setyo Indartono berharap, pemangkasan anggaran tidak menyentuh dana riset. Karena riset merupakan tulang punggung kemajuan suatu bangsa.
“China, teknologinya bisa maju melesat karena daya dukung pemerintahnya terhadap riset. Teknologi itu tidak bisa ujug-ujug menghasilkan produk. Prosesnya panjang. Karena itu, kami berharap pemerintah juga memberi perhatian kepada dunia riset,” kata Yuli Setyo Indartono menegaskan.
Rektor UT Mohammad Yunus dalam sambutan pembukanya berharap, pertemuan Asosiasi LPPM PTNBH dapat memformulasikan agenda, rencana, dan pelaksanaan program riset dan pengabdian masyarakat kolaborasi Indonesia.
“Kegiatan kolaborasi riset bagi para dosen atau peneliti dari 24 PTNBH tentunya akan menghasilkan novelty dari inovasi-inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang kehidupan. Semoga inovasi tersebut memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” ucap Mohammad Yunus.
Ditambahkan, kegiatan PMKI oleh dosen dari 24 PTNBH dapat secara bersama membangun desa dan masyarakat yang membutuhkan, baik melalui implementasi inovasi dan teknologi hasil riset, atau pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kebutuhan.
Kami percaya, kegiatan kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat di 24 PTNBH akan berlangsung secara berkesinambungan,” tuturnya.
Mohammad Yunus mengatakan, PTNBH mengemban peran yang kunci di bidang sosial, ekonomi dan inovasi, penegakan hukum, maupun ekologi. Tercapainya Indonesia Emas butuh dukungan dari segenap civitas akademik dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan kompetensi yang berkarakter.
Hal senada dikemukakan Kepala LPPM UT, Dewi A Padmo Putri. Ia mengaku senang UT bisa menjadi tuan rumah pertemuan Asosiasi LPPM PTNBH, karena UT baru bergabung dalam organisasi tersebut sekitar dua tahun lalu.
“Kehormatan bagi UT menjadi tuan rumah pertemuan Asosiasi LPPM PTNBH, meski baru bergabung 2 tahun lalu. Semoga pertemuan ini memberi perubahan pada dunia riset kita dan kegiatan PKM di Indonesia,” katanya.
Dewi mengungkapkan, UT akan memberi kontribusi nyata terkait program PkM. Karena jaringan kampus UT tersebar di seluruh Indonesia. “UT siap berkontribusi dalam Program RKI dan PMKI dengan sumber daya yang ada,” kata Dewi menandaskan. (Tri Wahyuni)
