57,6 Persen Penduduk Indonesia Punya Masalah Gigi dan Mulut

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekitar 57,6 persen penduduk Indonesia bermasalah dalam kesehatan gigi dan mulut. Dari jumlah itu, hanya 10,2 persen yang mengakses pelayanan kesehatan gigi.

“Prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih sangat tinggi. Situasi pandemi ikut berdampak pada akses masyarakat atas pelayanan kesehatan,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, drg. Saraswati, MPH dalam temu media secara virtual, Sabtu (12/9/21).

Mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan, proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak, berlubang dan sakit (45,3 persen). Sedangkan masalah kesehatan mulut bagi mayoritas penduduk Indonesia adalah gusi bengkak atau keluar bisul (abses) sebesar 14 persen.

“Dari 57,6 persen penduduk bermasalah kesehatan gigi dan mulut, ternyata yang mengakses pelayanan kesehatan gigi hanya sekitar 10,2 persen,” ujarnya.

Ditambahkan, masalah kesehatan gigi dan mulut itu tentunya butuh perawatan yang komprehensif. Namun, situasi pandemi covid-19 ikut berdampak pada terganggunya akses masyarakat atas pelayanan kesehatan.

“Pasien enggan ke pergi ke dokter gigi, karena takut tertular covid-19. Apalagi, pasien harus lama membuka mulutnya, sedangkan dokter menggunakan aerosol yang berpotensi penularan. Akibatnya, jumlah kunjungan pasien ke fasyankes terus menurun,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan Ketua PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Dr RM Sri Hananto Seno, drg, SpBM(K), MM. Ketakutan penularan tak hanya pada pasien, juga juga dokter. Potensi penularan sama tingginya, karena pasien terua membuka mulutnya.

“PDGI juga sudah mengeluarkan imbauan agar dokter gigi tidak praktik dulu selama pandemi, mengingat sudah banyak dokter gigi yang gugur saat menjalankan tugasnya,” ujar Sri Hananto.

Data PDGI hingga Maret 2021 menunjukkan, 396 dokter gigi terpapar covid-19 yang tersebar di Puskesmas sebanyak 199 orang, di rumah sakit 92 orang, di klinik 36 orang dan praktik mandiri 35 orang. Dari jumlah itu, 94 dokter diantaranya gugur karena terpapar covid-19.

Sebagai langkah pencegahan penularan covid-19 pada pelayanan kesehatan gigi dan mulut, Kementerian Kesehatan bersama PDGI telah menerbitkan petunjuk teknis (Juknis) baru Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Juknis itu mengatur mulai dari tahap penerimaan pasien, sebelum kunjungan, saat kunjungan dan setelah selesai kunjungan di fasyankes.

“Jadi bukan hanya protokol kesehatan, ada tahapan yang harus dilakukan pasien pada saat kunjungan ke fasyankes. Empat tahapan untuk mengurangi keterpaparan covid-19 antara dokter dengan pasien atau sebaliknya,” tuturnya.

Guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan gigi dan mulut di masa pandemi, lanjut Sri Hananto, telah dikembangkan layanan teledentistry yang bisa dimanfaatkan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter gigi, tanpa harus bertatap muka secara langsung.

Diharapkan, terbitnya juknis dan layanan teledentistry itu dapat meminimalisir risiko penularan covid-19 di fasilitas layanan kesehatan gigi dan mulut. (Tri Wahyuni)