IKPI, Jakarta: Industri perfilman berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Jakarta karena mampu menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari produksi film, transportasi, dan akomodasi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan, pengembangan industri perfilman perlu diperkuat melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan agar potensinya dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta berkomitmen memperkuat sinergi untuk mendorong pemanfaatan potensi perfilman dan merealisasikannya menjadi investasi, kesempatan kerja, dan peluang usaha bagi masyarakat,” ujar Iwan dalam keterangan terkait penyelenggaraan Jakarta Film Summit (JFS) x Jakarta Economic Forum (JEF) 2026, Selasa (20/10/2026).
Menurut Iwan, pengembangan sektor kreatif menjadi semakin relevan seiring perubahan struktur perekonomian Jakarta yang kian bertumpu pada sektor jasa. Kontribusi sektor jasa meningkat dari 53,95% pada 2019 menjadi 55,87% pada 2025.
Industri film memiliki rantai nilai yang luas dan melibatkan beragam kegiatan ekonomi. Prosesnya tidak hanya mencakup penulisan skenario, produksi, pascaproduksi, dan distribusi, tetapi juga membutuhkan dukungan penyedia peralatan, kostum, katering, transportasi, akomodasi, serta UMKM lokal.
Dengan keterlibatan berbagai sektor tersebut, pengembangan perfilman dapat membuka ruang usaha bagi pelaku ekonomi sekaligus memperluas kesempatan kerja.
Perizinan dan Insentif
Penguatan ekosistem perfilman menjadi salah satu fokus JFS x JEF 2026 yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 di Park Hyatt Jakarta. Forum bertema “Advancing Creative Economy to Elevate Jakarta’s Global Competitiveness” ini mempertemukan pemerintah, lembaga keuangan, investor, sineas, dan pelaku industri.
Pada hari pertama, pembahasan diarahkan pada kesiapan Jakarta dalam mendukung kegiatan produksi film. Sejumlah isu yang diangkat meliputi penyederhanaan perizinan, insentif produksi, pengembangan kota yang ramah terhadap kegiatan syuting, serta pemanfaatan aset daerah sebagai lokasi dan fasilitas produksi.
Kerja sama industri perfilman di kawasan Asia juga menjadi perhatian. Berbagai pengalaman dan masukan yang dihimpun diharapkan dapat memperkuat daya tarik Jakarta sebagai lokasi produksi film, baik untuk industri domestik maupun internasional.
Langkah tersebut menjadi penting agar potensi ekonomi perfilman tidak berhenti pada penciptaan karya, tetapi juga berkembang menjadi aktivitas bisnis yang melibatkan lebih banyak pelaku usaha.
JEF 2026 turut menyediakan ruang partisipasi bagi akademisi, generasi muda, dan pelaku usaha melalui sejumlah kegiatan, antara lain penampilan karya pemenang Lomba Karya Tulis dan Lomba Artikel JEF 2026, pemutaran film pendek hasil kompetisi Jakarta Youth Film Festival (JYFF), serta diskusi mengenai ekosistem perfilman.
Kegiatan tersebut dilengkapi dengan pameran produk UMKM, layanan ekonomi kreatif, dan edukasi kebanksentralan.
Iwan menegaskan, pengembangan ekonomi kreatif merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta yang berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan stabilitas.
“Dukungan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, di tengah komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas,” kata Iwan. (Boy)

