Suara Karya

Jadi Wadah Belajar Wirausaha, Kantin Kontainer akan Hadir di Kampus IP Trisakti

JAKARTA (Suara Karya): Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti) menghadirkan Kantin Kontainer, sebagai sarana pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa untuk merintis dan mengelola usaha secara langsung.

Didukung perusahaan asuransi Tokio Marine Life dan Dompet Dhuafa, program itu juga membuka peluang bagi mahasiswa yang memenuhi kriteria penerima bantuan zakat untuk memperoleh penghasilan selama menempuh pendidikan.

Rektor IP Trisakti, Fetty Asmaniati mengapresiasi dukungan alumni dan mitra yang ikut berkontribusi dalam pengembangan institusi, terutama dalam menyediakan kesempatan belajar wirausaha secara langsung bagi mahasiswa.

“IP Trisakti yang telah berusia 57 tahun memiliki jaringan alumni hampir 20 ribu orang. Potensi ini menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, sekaligus menghadirkan program yang berdampak nyata bagi sivitas akademika,” katanya.

Pernyataan Fetty tersebut disampaikan dalam acara Penandatangan PKS Triparti dan Soft Launching Program Kantin Kontainer, di Kampus IP Trisakti, IKPN Bintaro, Jakarta, Senin (26/10/26).

Ia menegaskan, kerja sama perguruan tinggi dengan mitra tidak boleh berhenti pada kesepakatan formal. Dukungan yang diberikan harus ditindaklanjuti melalui kegiatan konkret yang memberi manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat.

“Perguruan tinggi juga perlu berkontribusi melalui pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ucapnya.

Karena itu, keberadaan Kantin Kontainer diharapkan menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang mempertemukan kebutuhan industri dengan proses pembelajaran di kampus.

Melalui program tersebut, lanjut Fetty, mahasiswa dapat kesempatan untuk mengenal dunia usaha secara langsung, membangun keberanian berwirausaha, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Hal senada disampaikan Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Alumni, Pemasaran dan Job Arrangement IP Trisakti, Novita Widyastuti. Kantin Kontainer akan difungsikan sebagai laboratorium kewirausahaan yang terintegrasi dengan kegiatan akademik.

“Mahasiswa tak hanya belajar menjual produk, tetapi juga mengembangkan menu, menghitung harga pokok produksi (HPP), menetapkan harga jual, mengatur operasional, memasarkan produk, hingga memahami pengelolaan tenaga kerja,” tuturnya.

Pelaksanaan program akan melibatkan 2 program studi, yakni perhotelan dan kewirausahaan. Mahasiswa perhotelan berperan dalam pengembangan produk makanan dan minuman, sedangkan mahasiswa kewirausahaan berfokus pada pengelolaan bisnis.

“Sebanyak enam mahasiswa telah disiapkan untuk terlibat dalam pengelolaan awal,” ungkapnya.

Kampus juga akan menunjuk dosen pendamping untuk mengawasi pelaksanaan usaha, termasuk pencatatan pemasukan dan pengelolaan keuangan.

Sebelum kantin beroperasi, mahasiswa akan memperoleh pembekalan mengenai tata kelola bisnis, penyusunan produk, perhitungan HPP, dan strategi pemasaran.

Kontainer direncanakan tiba pada Desember 2026 atau Januari 2027, sedangkan peluncuran program ditargetkan pada 2027.

“Kehadirannya akan melengkapi fasilitas pembelajaran kewirausahaan yang telah dimiliki IP Trisakti, seperti Incube Artisan Coffeeshop dan Pesona Cafe,” katanya.

General Manager Penghimpunan ZIS Dompet Dhuafa, Ahmad Faqih Syarafaddin dalam pemaparannya menjelaskan, Kantin Kontainer merupakan program yang dikembangkan untuk memadukan pemberdayaan ekonomi dengan pendidikan.

“Lima mahasiswa yang terpilih akan menjalankan usaha secara bergantian, mempertimbangkan jadwal kuliah masing-masing,” katanya.

Seleksi peserta mencakup kelayakan sebagai mustahik atau pihak yang berhak menerima dana zakat, semangat berwirausaha, serta kesiapan menjalankan bisnis secara konsisten.

Menu yang ditawarkan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen kampus, mulai dari gorengan, roti, dan minuman hingga makanan berat seperti soto, rawon, serta nasi goreng. Harga dirancang agar tetap terjangkau bagi mahasiswa.

Bantuan diberikan dalam bentuk hibah, bukan pinjaman bergulir. Artinya, mahasiswa tidak diwajibkan mengembalikan modal kepada Dompet Dhuafa.

Keuntungan usaha dikelola oleh kelompok mahasiswa berdasarkan kesepakatan bersama dan dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah.

Untuk menjaga keberlanjutan program, tim ekonomi Dompet Dhuafa juga memberi pendampingan, terutama dalam pengelolaan keuangan dan operasional.

“Setelah mahasiswa angkatan pertama lulus, pengelola baru akan diseleksi agar kegiatan usaha dapat terus berjalan,” katanya.

Kantin Kontainer di IP Trisakti merupakan unit ke-17 yang dikembangkan Dompet Dhuafa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Ahmad menyebut seluruh unit yang telah dibuka selama sekitar 2 tahun pengembangan masih beroperasi.

Program serupa telah menjangkau sejumlah kampus, antara lain UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang, Institut Teknologi Sumatera, Universitas Muhammadiyah Metro di Lampung, dan Universitas Muhammadiyah Kudus.

Dompet Dhuafa berharap program tersebut dapat menjangkau 50 kampus dalam 2 tahun mendatang, sehingga semakin banyak mahasiswa yang mendapat kesempatan untuk mengembangkan usaha, sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi.

Senior Vice President Marketing & Corporate Planning Tokio Marine Life, Alexander Mahendrawan mengatakan, pihaknya mendukung program ini sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun kolaborasi berkelanjutan sesuai kebutuhan dan potensi setiap komunitas.

Tokio Marine Life telah bekerja sama dengan Dompet Dhuafa selama lebih dari dua tahun melalui sejumlah inisiatif di bidang pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Dalam program Kantin Kontainer, dukungan pendanaan disalurkan melalui Dompet Dhuafa yang memiliki pengalaman dalam mengelola program pemberdayaan ekonomi.

“Kami tidak melihatnya sekadar membangun kantin kontainer atau menjalankan sebuah program. Kami ingin membangun kolaborasi dengan berbagai pihak sesuai kebutuhan dan potensinya masing-masing,” kata Alexander.

Ia menilai keterlibatan dalam usaha nyata dapat membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Selain pengetahuan akademik, mahasiswa perlu memiliki pengalaman lapangan agar memahami kebutuhan konsumen, tantangan operasional, dan proses membangun bisnis.

“Belajar di kelas itu penting, tetapi pengalaman di luar kelas juga sangat penting. Mulai kecil tidak apa-apa daripada tidak mulai sama sekali,” kata Alexander menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts