Suara Karya

IConEnt 2026: AI Ubah Peta Bisnis, Rektor UPH Desak Kesiapan SDM

TANGERANG (Suara Karya): Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah lanskap bisnis dan dunia kerja, sehingga kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci menghadapi transformasi teknologi.

“Indonesia yang masih berada pada tahap awal pengembangan AI perlu mempersiapkan generasi muda, tenaga profesional, dan pelaku usaha agar tidak tertinggal dalam perubahan global,” kata Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH), Dr (Hon) Jonathan L Parapak, M.Eng.Sc saat membuka ‘The 6th International Conference on Entrepreneurship (IConEnt) 2026’ di UPH Lippo Village, Tangerang, Kamis (22/10).

Konferensi internasional yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pelita Harapan (FEB UPH) dengan tema ‘Entrepreneurial Legacy in the Intelligent and Sustainable Era: Family Business, Technology-Enabled Transformation, and Sustainable Impact’.

Jonathan kembali menegaskan pentingnya menyiapkan masyarakat menghadapi perubahan lingkungan bisnis dan pekerjaan akibat perkembangan AI serta teknologi baru.

“Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk cara perusahaan menjalankan bisnis serta pola kerja profesional,” ujarnya.

Kondisi itu, lanjut Jonathan, menuntut kesiapan untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul.

Ia berharap konferensi ICONENT 2026 menghasilkan gagasan yang membantu generasi muda, kalangan profesional, komunitas akademik, dan pelaku usaha dalam menghadapi masa depan yang semakin dipengaruhi oleh AI.

Rektor UPH itu juga menekankan pentingnya mempelajari pengalaman internasional dalam pengembangan teknologi. Kehadiran akademisi dari berbagai negara diharapkan memperkaya wawasan peserta mengenai perubahan yang berlangsung di dunia, sekaligus mendorong kesiapan Indonesia menghadapi transformasi digital.

“UPH sendiri telah memulai pengembangan Fakultas Kecerdasan Buatan dan Kewirausahaan. Langkah itu menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi mendatang dalam menghadapi perubahan teknologi, lingkungan, dan peluang bisnis,” ungkapnya.

Jonathan berharap pertukaran gagasan dalam IConEnt 2026 tidak berhenti pada diskusi akademik, tetapi juga memberi manfaat bagi dunia usaha dalam merumuskan strategi menghadapi perkembangan teknologi.

Sementara itu, Dekan FEB UPH Dr. Gracia Shinta S Ugut, MBA, Ph.D, mengatakan IConEnt telah menjadi forum akademik yang mempertemukan peneliti dan praktisi kewirausahaan sejak sebelum pandemi Covid-19.

“Penyelenggaraan tahun ini kembali memperluas kolaborasi melalui partisipasi perguruan tinggi dalam dan luar negeri,” katanya.

IConEnt 2026 mencatat 156 submisi riset, terdiri atas 139 makalah penelitian dan 17 poster penelitian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 105 makalah dan 15 poster diterima, sehingga total kontribusi penelitian yang lolos mencapai 120.

Konferensi juga melibatkan perwakilan 20 perguruan tinggi Indonesia serta akademisi dari enam negara, yakni Kanada, Hungaria, Tiongkok, Jepang, Australia, dan Malaysia.

Sejumlah institusi internasional yang berpartisipasi, antara lain Mount Royal University, University of Sopron, South China University of Technology, Monash University, dan Universiti Putra Malaysia.

Untuk mempertemukan perspektif akademik dan praktik industri, IConEnt 2026 menghadirkan dua pembicara utama, yakni Dr Jacob Donald Tan, Associate Professor of Entrepreneurship dari Mount Royal University, Kanada; serta Roman Nedielka, Energy Transition Director di PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia.

Jacob Tan membawa perspektif penelitian mengenai bisnis keluarga, sedangkan Roman Nedielka mengulas persoalan transisi energi. Kedua topik itu relevan dengan tantangan membangun usaha yang mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi sekaligus menjaga keberlanjutan dalam jangka panjang.

Ketua Panitia IConEnt 2026 Dr Ika Suhartanti Darmo, SE, MM menambahkan, dunia usaha juga menghadapi ketidakpastian ekonomi makro, dinamika geopolitik, serta tuntutan transisi menuju ekonomi rendah karbon atau net-zero.

Menurut Ika, penerapan AI membutuhkan investasi besar. Tantangannya bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, melainkan memastikan investasi tersebut memberikan manfaat nyata bagi manusia dan mendukung kebutuhan perusahaan.

Ia mengingatkan, perkembangan AI juga meningkatkan kebutuhan sumber daya untuk menopang infrastrukturnya. Pembangunan pusat data, misalnya, memerlukan pasokan listrik dalam jumlah besar serta air untuk mendukung operasional.

Karena itu, ketersediaan energi dan air menjadi persoalan penting yang perlu diperhitungkan dalam transformasi digital. Pengembangan AI harus disertai perencanaan sumber daya yang matang agar kemajuan teknologi tetap sejalan dengan kepentingan sosial dan lingkungan.

Ika berharap konferensi dapat memberi perspektif dan arah bagi akademisi maupun pelaku usaha dalam menghadapi berbagai ketidakpastian tersebut.

Kolaborasi lintas bidang dinilai penting untuk menghasilkan pemikiran yang mampu menjawab tantangan bisnis di era teknologi dan keberlanjutan.

Selain menjadi forum pertukaran gagasan, IConEnt 2026 menyediakan peluang publikasi ilmiah bagi para peneliti. Makalah terpilih berpeluang diterbitkan dalam Prosiding IConEnt 2026 ber-ISBN, satu jurnal internasional terindeks Scopus, serta delapan jurnal nasional terindeks SINTA, dengan mengikuti persyaratan masing-masing jurnal.

Penyelenggaraan konferensi didukung enam universitas mitra, yaitu Universitas Bunda Mulia, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Bengkulu, Universitas LIA, Universitas Advent Indonesia, dan ARS University Bandung.

Dukungan sponsor datang dari Oke Bank Indonesia, KB Bank Indonesia, John Wiley & Sons, ParagonCorp, PT Syarikah Makan Al Na’im, IIC Group, PT Bumitama Gunajaya Agro, serta PopSurvey by Populix. Rajawali TV sebagai mitra media.

Melalui IConEnt 2026, UPH mendorong penguatan kolaborasi akademik internasional dan pengembangan riset kewirausahaan untuk menjawab tantangan zaman.

Kesiapan SDM, inovasi teknologi, ketahanan bisnis keluarga, dan tanggung jawab terhadap lingkungan menjadi aspek penting dalam membangun usaha yang mampu bertahan lintas generasi.

“Transformasi bisnis di era AI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusia untuk beradaptasi, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan menciptakan nilai berkelanjutan,” kata Ika menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts