JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi menjadi mesin inovasi nasional melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Langkah itu dinilai krusial untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan tantangan transformasi ekonomi.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Dr Fauzan Adziman menegaskan, inovasi tidak bisa lagi dibangun secara terpisah berdasarkan bidang keilmuan.
Penggabungan matematika, fisika, teknologi, ilmu sosial, dan disiplin lainnya diperlukan untuk menghasilkan riset yang mampu menjawab persoalan nyata, sekaligus memberi dampak ekonomi dan sosial.
“Inovasi adalah sesuatu yang harus kita bina bersama-sama. Inilah esensi konferensi hari ini,” Fauzan dalam pidato kuncinya, pada pertemuan internasional ‘The 5th International Conference on Multidisciplinary Academic Studies’ (ICoMUS) 2026 yang digelar Universitas Terbuka (UT), di UTCC Tangerang Selatan, Kamis (22/10/26).
Menurut Fauzan, pendekatan multidisiplin harus menjadi fondasi pengembangan riset nasional. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga perlu memastikan pengetahuan yang dikembangkan dapat diterapkan, dimanfaatkan industri, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Ia mencontohkan perjalanan inovasi di dunia industri yang memperlihatkan bagaimana penguasaan matematika dan fisika dapat melahirkan teknologi untuk berbagai sektor, mulai dari rekayasa material dan manufaktur mesin pesawat hingga otomotif, perangkat realitas virtual, serta implan medis.
Pengalaman tersebut menunjukkan inovasi besar tidak selalu berawal dari teknologi yang langsung siap dipasarkan. Pengembangan ilmu dasar yang dipadukan dengan keahlian lintas bidang dapat membuka peluang penerapan teknologi pada sektor yang berbeda.
Fauzan menceritakan, perusahaan yang pernah dibangunnya memulai pengembangan teknologi dari persamaan matematika untuk meningkatkan kemampuan material. Seiring waktu, riset berkembang ke berbagai aplikasi industri melalui keterlibatan insinyur, ahli matematika, dan tenaga profesional dengan latar belakang yang beragam.
Ia menyebut perusahaan itu tumbuh dari investasi awal yang relatif kecil menjadi perusahaan bernilai sekitar 100 juta dolar AS sebelum dirinya bergabung ke pemerintahan.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa riset berbasis ilmu dasar, ketika dipertemukan dengan kebutuhan industri dan kemampuan komunikasi bisnis, berpotensi menghasilkan nilai ekonomi yang besar.
AI Ubah Peta Persaingan
Di sisi lain, Fauzan mengingatkan, perkembangan AI membawa perubahan mendasar terhadap arah inovasi dan dunia kerja. Teknologi itu membuka peluang untuk mempercepat penemuan serta meningkatkan produktivitas penelitian, tetapi sekaligus menantang peran tenaga profesional dan pola kerja konvensional.
Ia menyoroti perubahan kebutuhan dunia usaha terhadap kompetensi tenaga kerja. Kemampuan menyelesaikan masalah, kreativitas, dan keberanian menghadapi tantangan semakin penting di tengah kemajuan teknologi yang berlangsung cepat.
Menurut dia, penguasaan perangkat digital saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan tersebut. Perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, memecahkan persoalan kompleks, serta menghubungkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.
Fauzan juga mengingatkan, bahwa meningkatnya penggunaan AI tidak otomatis menjamin kualitas literasi digital masyarakat ikut membaik. Karena itu, pemanfaatan teknologi harus diimbangi kemampuan mengevaluasi informasi, memahami persoalan, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut semakin mendesak karena negara perlu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat industrialisasi.
Di tengah perubahan kebutuhan tenaga kerja dan perkembangan teknologi, perguruan tinggi harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif serta menciptakan teknologi yang relevan dengan kebutuhan nasional.
Fauzan menegaskan, Indonesia tidak cukup hanya mengadopsi teknologi yang dikembangkan negara lain. Untuk meningkatkan posisi ekonomi dan daya saing, Indonesia perlu membangun kemampuan menghasilkan inovasi sendiri.
Ia menjelaskan, arah kebijakan riset perlu bergeser dari pendekatan yang semata-mata berorientasi pada bidang keilmuan menuju penelitian yang berangkat dari persoalan nyata.
“Kampus perlu mengidentifikasi masalah yang membutuhkan solusi, kemudian menggabungkan keahlian akademisi dan mitra lintas sektor untuk menghasilkan jawaban yang terukur,” ucapnya.
Disebutkan, persoalan ketahanan pangan, transisi energi, serta dampak AI terhadap masyarakat merupakan beberapa contoh tantangan yang membutuhkan pendekatan multidisiplin.
Dalam model tersebut, industri dan masyarakat tidak hanya menjadi penerima hasil penelitian, tetapi juga mitra sejak tahap perumusan masalah. Dengan demikian, riset dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan riil, tak sekadar mengejar publikasi atau memenuhi agenda akademik.
Fauzan menekankan pentingnya kemitraan multipihak, agar perguruan tinggi berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Kolaborasi itu juga membuka ruang bagi universitas untuk berkontribusi terhadap pencapaian seluruh 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurut dia, kekuatan akademik harus dipertemukan dengan kebutuhan industri, standardisasi, dan kepentingan masyarakat. Tanpa keterhubungan tersebut, pengetahuan berisiko berhenti sebagai hasil penelitian yang belum memberikan dampak luas.
Perkuat Ekosistem Inovasi
Fauzan ikut menyoroti peluang demokratisasi teknologi melalui perkembangan model AI yang dapat diakses secara terbuka. Akses terhadap teknologi yang semakin kompetitif membuka kesempatan bagi peneliti, perguruan tinggi, dan pelaku usaha untuk mengembangkan solusi tanpa selalu bergantung pada layanan teknologi berbiaya tinggi.
Peluang tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperluas partisipasi berbagai bidang ilmu dalam pengembangan inovasi.
Peneliti ilmu sosial, misalkan, dapat menggunakan AI untuk membantu menganalisis persoalan sosial, sebagaimana peneliti bidang kimia dan rekayasa material dapat memanfaatkannya dalam pengembangan teknologi.
Namun, akses teknologi harus disertai kemampuan ilmiah, pemahaman etika, dan kolaborasi yang kuat agar menghasilkan manfaat nyata.
Karena itu, Fauzan menempatkan konsorsium dan kerja sama lintas disiplin sebagai bagian penting dari strategi pengembangan riset nasional.
“Semangat gotong royong harus diterapkan dalam ekosistem penelitian agar keahlian yang tersebar di berbagai perguruan tinggi dapat disatukan untuk menjawab tantangan bersama,” tuturnya.
Ia berharap, melalui penguatan kolaborasi dan pemanfaatan ilmu pengetahuan secara terintegrasi, perguruan tinggi dapat memainkan peran lebih besar dalam menciptakan teknologi, memperkuat industri, dan mendorong transformasi ekonomi nasional.
“Dengan demikian, keberhasilan riset tak hanya diukur dari banyaknya publikasi ilmiah, tetapi juga dari kemampuannya menghasilkan inovasi yang berkelanjutan, memperluas manfaat sosial, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global,” kata Fauzan Adziman menandaskan. (Tri Wahyuni)

