JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) melakukan kolaborasi strategis bersama Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF untuk mempercepat peningkatan literasi dan numerasi peserta didik di berbagai daerah di Indonesia.
Langkah itu merupakan respons atas masih rendahnya capaian kemampuan dasar siswa Indonesia, sebagaimana tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022.
Data PISA 2022 menunjukkan, sebagian besar siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, dengan hanya 25 persen siswa yang mencapai atau melampaui rata-rata literasi membaca, serta 18 persen untuk matematika.
Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional tersebut dicanangkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Jakarta, Kamis (94/26).
Program akan dijalankan di enam kabupaten/kota di 4 provinsi, yakni Kota Medan dan Kota Pematangsiantar (Sumatera Utara), Kabupaten Batang Hari (Jambi), Kabupaten Tegal (Jawa Tengah), serta Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka (Nusa Tenggara Timur).
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan, penguatan literasi dan numerasi bagi siswa di kelas awal sekolah dasar merupakan fondasi penting bagi penguasaan ilmu pengetahuan di jenjang selanjutnya.
“Kolaborasi fokus pada siswa kelas 1, 2, dan 3. Kelas awal di sekolah dasar tersebut menjadi kunci untuk memahami pembelajaran yang lebih kompleks,” ujarnya.
Mu’ti menekankan, tiga aspek utama dalam penguatan literasi dan numerasi, yaitu peningkatan kompetensi melalui pendekatan paedagogik yang tepat, penumbuhan kebiasaan membaca, serta penguatan numerasi dengan menekankan logika sejak dini.
Kolaborasi ditargetkan memberi dampak nyata melalui pelatihan dan pendampingan di 500 sekolah dasar negeri, melibatkan 1.500 guru dan kepala sekolah, serta menjangkau sedikitnya 45.000 siswa hingga tahun 2029.
“Pemerintah berharap dalam tiga tahun ke depan mulai terlihat peningkatan signifikan, khususnya pada siswa kelas awal,” ujarnya.
Ditambahkan, program mengusung tiga pilar utama, yakni penguatan praktik pembelajaran di kelas melalui pedagogi terstruktur, pemanfaatan data asesmen diagnostik untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa, serta penyelarasan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati menyatakan, guru memiliki peran kunci dalam keberhasilan program tersebut. Penguatan praktik mengajar yang didukung data asesmen akan membantu guru memahami kebutuhan belajar setiap siswa secara lebih tepat.
“Lewat kolaborasi ini, kami ingin mendukung guru lewat penguatan praktik pembelajaran di kelas, agar setiap anak memahami konsep dasar literasi dan numerasi,” ujarnya.
Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang pendidikan yang didirikan Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada 1981, telah lama bekerja bersama guru, kepala sekolah, dan pemerintah daerah melalui program-program peningkatan kualitas pendidikan.
“Dari pengalaman kami di lapangan menunjukkan, ketika guru didukung dengan praktik pembelajaran yang efektif dan data yang bermakna, serta ditopang kelembagaan yang kuat, maka kualitas pembelajaran dapat meningkat secara nyata,” kata Ari menegaskan.
Sementara itu, Direktur Global Education Gates Foundation, Benjamin Piper menyoroti, pentingnya fondasi kuat dalam membaca dan matematika sebagai kunci keberhasilan pembelajaran jangka panjang.
Ia mencontohkan, keberhasilan program di India yang mampu meningkatkan capaian siswa melalui kombinasi praktik pembelajaran efektif, materi ajar berkualitas, serta pemanfaatan data.
Hal senada disampaikan Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman. Katanya, kolaborasi itu sejalan dengan upaya pemenuhan hak anak atas pendidikan berkualitas. Sinergi lintas pihak menjadi kunci dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia yang unggul.
Pencanangan program juga diperkuat melalui diskusi yang melibatkan pemangku kepentingan dari tingkat nasional hingga daerah. Selain membahas strategi berbasis bukti, forum juga menegaskan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah, guna memastikan implementasi program berjalan efektif.
Sesi pertama diskusi bertajuk ‘Dari Bukti Menuju Aksi: Penguatan Literasi dan Numerasi Dasar pada Skala Nasional’ menghadirkan narasumber Direktur Guru Pendidikan Dasar, Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemdikdasmen, Rachmadi Widdiharto; Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BKPDM, Irsyad Zamjani; Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati; dan Education Specialist, UNICEF, Teresita Felipe.
Sesi itu membahas pentingnya asesmen diagnostik dan praktik pedagogi terstruktur sebagai upaya penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).
Di sesi kedua yang bertajuk ‘Literasi dan Numerasi dalam Kebijakan Daerah’ menghadirkan bupati dan walikota dari 6 wilayah mitra program, yaitu Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas; dan Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi.
Selain itu ada Bupati Batang Hari, Muhammad Fadhil Arief; Bupati Tegal, H Ischak Maulana Rohman; Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda; dan Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago.
Keterlibatan kepala daerah secara langsung dalam forum menegaskan, program bukan sekadar inisiatif pusat, melainkan gerakan bersama antara pemerintah pusat dan daerah (kabupaten dan kota) untuk memastikan semua anak kelas 1,2 dan 3 memiliki kemampuan dasar membaca dan matematika. (Tri Wahyuni)
