Suara Karya

Riset Kampus Didorong Selaras Agenda Nasional, dari Sampah hingga Energi Bersih

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah mendorong perguruan tinggi (kampus) agar mengarahkan riset dan inovasi selaras dengan agenda strategis nasional, mulai dari urusan sampah hingga pengembangan energi bersih.

“Kampus harus menjadi pusat solusi atas berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto kepada media disela kegiatan Halal Bihalal dengan jajaran Kemdiktisaintek, di Jakarta, Senin (6/4/26).

Ditegaskan, hasil riset tidak boleh berhenti di ruang akademik, tetapi harus dapat diimplementasikan secara luas dan melibatkan partisipasi publik.

“Pengembangan sains dan teknologi harus menjawab kebutuhan bangsa. Tak berhenti di kampus saja, tetapi bisa dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ucapnya.

Ia mencontohkan penanganan sampah sebagai isu nasional yang membutuhkan kolaborasi antara teknologi dan partisipasi publik. Meski berbagai teknologi pengolahan sampah berhasil dikembangkan, namun keberhasilan sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah.

“Di negara maju, teknologi sudah canggih, tetapi masyarakat tetap disiplin memilah sampah. Ini yang perlu kita bangun bersama,” ujarnya.

Selain itu, Kemdiktisaintek juga tengah mendorong berbagai riset strategis yang sejalan dengan agenda Presiden, seperti konversi motor berbahan bakar fosil ke listrik, pengembangan kompor listrik untuk mengurangi impor LPG, serta inovasi teknologi pengelolaan sampah.

Hal senada disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. Ia menyoroti besarnya potensi energi terbarukan Indonesia, khususnya panas bumi (geotermal), yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Disayangkan, pemanfaatan geotermal masih belum optimal, karena faktor biaya yang relatif lebih tinggi dibanding energi fosil.
“Geotermal adalah energi paling stabil dibandingkan tenaga surya atau angin. Tantangannya saat ini, bagaimana teknologi itu dapat menekan biaya agar bisa bersaing,” ucap Stella.

Ia juga menyebut, pentingnya riset berbasis kondisi lokal, termasuk pengolahan sampah yang didominasi limbah makanan di Indonesia.

Selain itu, pemerintah tengah mengkaji berbagai inovasi energi, seperti kapal nelayan berbasis listrik hingga penguatan transportasi ramah lingkungan.

Dalam kesempatan yang sama, Wamendiktisaintek Fauzan menyampaikan, perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan.

Ia mencontohkan salah satunya, pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dan tenaga surya yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

“Banyak hasil riset kampus yang potensial untuk dikembangkan, terutama di sektor energi berbasis air dan matahari,” tuturnya.

Soal rencana pembelajaran daring untuk mengantisipasi krisis energi akibat geopolitik dunia, Mendiktisaintek akan mendorong transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi untuk meningkatkan efisiensi.

Ditambahkan, pengalaman selama pandemi covid-19 menjadi momentum penting dalam mempercepat digitalisasi layanan akademik. Mulai dari administrasi, pengajuan akademik, hingga pembelajaran hybrid, dinilai mampu menghemat waktu dan biaya tanpa mengurangi kualitas pendidikan.

“Kampus diberi fleksibilitas untuk mengatur metode pembelajaran, selama tidak menurunkan capaian pembelajaran,” ucap Brian.

Terkait pembiayaan pendidikan, pemerintah memastikan program beasiswa tetap berjalan meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Bahkan, dukungan dari industri, filantropi, dan alumni terus diperluas.

“Tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk putus kuliah karena kendala ekonomi. Selama memiliki kemampuan, pasti ada jalan. Pemerintah, kampus, industri, hingga alumni siap bergotong royong mendukung,” pungkasnya. (Tri Wahyuni)

Related posts