DEPOK (Suara Karya): Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat menegaskan, bahasa daerah harus terus hidup dan digunakan, baik di ruang kelas maupun di ruang digital.
“Manfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi informasi untuk memperkuat pelestarian bahasa daerah,” kata Atip Latipulhayat dalam Puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026, di Gedung Garuda PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Senin (25/5/26).
Ditambahkan, jika bahasa daerah hanya hadir dalam buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, maka lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan.
“Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran, penting diperkuat agar generasi muda tetap akrab dan bangga menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Tak hanya di lingkungan pendidikan, Atip juga menyoroti pentingnya bahasa daerah masuk dalam ekosistem teknologi digital. Ia menilai pengembangan teknologi berbasis Large Language Model (LLM) perlu dioptimalkan agar bahasa daerah Indonesia dapat digunakan dalam berbagai platform digital dan AI di masa depan.
“Bagi Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah, pelestarian bahasa bukan hanya upaya menjaga alat komunikasi, melainkan menjaga ingatan kolektif, nilai budaya, dan identitas bangsa. Bahasa daerah adalah rumah bagi cerita rakyat, petuah leluhur, hingga cara pandang masyarakat terhadap kehidupan,” tuturnya.
Karena itu, lanjut Atip, bahasa daerah juga harus masuk ke dalam ekosistem AI, agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda.
Bagi Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah, pelestarian bahasa bukan hanya upaya menjaga alat komunikasi, melainkan menjaga ingatan kolektif, nilai budaya, dan identitas bangsa. Bahasa daerah adalah rumah bagi cerita rakyat, petuah leluhur, hingga cara pandang masyarakat terhadap kehidupan.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa),
Hafidz Muksin menjelaskan, revitalisasi bahasa daerah dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari koordinasi lintas instansi, penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, pengimbasan di sekolah, hingga festival berjenjang dari tingkat sekolah sampai provinsi.
“FTBIN 2026 ini merupakan bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang dijalankan Kemendikdasmen. Kegiatan ini diikuti 137 peserta terbaik tingkat provinsi yang mewakili 105 bahasa dan dialek dari 36 provinsi di Indonesia,” ujarnya.
Para peserta merupakan siswa sekolah dasar dan menengah yang telah mengikuti program revitalisasi bahasa daerah di wilayah masing-masing. Mereka menampilkan berbagai pertunjukan seperti tembang tradisi, pidato, dongeng, hingga seni pertunjukan kreatif berbasis bahasa daerah.
Salah satu peserta, Rahmi Oktavia, mengaku bangga dapat tampil membawakan Tembang Tradisi Onduo dalam FTBIN 2026. Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak malu menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebiasaan sederhana seperti berbicara menggunakan bahasa ibu di rumah maupun lingkungan sekitar menjadi langkah penting menjaga warisan budaya tetap hidup,” kata Rahmi menutup perbincangan. (Tri Wahyuni)
