JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar bedah buku ‘Presiden Solusi: Problem Solving ala Prabowo Subianto’, bertepatan dengan peringatan Hari Pustakawan Indonesia, pada Senin (7/7/26).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kemendikdasmen itu merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya literasi, sekaligus menumbuhkan karakter kepemimpinan dan kemampuan memecahkan masalah di kalangan peserta didik.
Acara dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.
Hadir sebagai narasumber sekaligus penulis buku tersebut, Kepala Badan Komunikasi Presiden, Mohammad Qodari; dan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Dirgayuza Setiawan.
Tampil sebagai penanggap, yaitu mantan jurnalis senior, Abdul Kohar dan guru SDN Ciledug Timur, Sri Marini E.M BT Mujaid. Bertindak sebagai moderator, Kepala Badan Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam sambutan mengatakan, tema yang diangkat dalam buku itu relevan dengan tantangan pendidikan saat ini. Kemampuan problem solving bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan cara berpikir yang harus ditanamkan sejak dini.
“Anak-anak kita tidak cukup hanya cakap membaca teks, tetapi harus mampu membaca realitas di sekitarnya, berpikir kritis, bekerja sama, dan mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi, baik di sekolah maupun di masyarakat,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan, kegiatan bedah buku tidak boleh berhenti pada penyampaian informasi semata, tetapi harus mampu mendorong lahirnya refleksi dan tindakan nyata.
“Kepemimpinan sejati diuji bukan ketika semua berjalan lancar, melainkan saat dihadapkan pada persoalan yang rumit dan harus segera menemukan jalan keluarnya,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga menyampaikan ucapan selamat Hari Pustakawan Indonesia kepada seluruh pustakawan di Tanah Air. Menurutnya, pustakawan kini memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menjaga koleksi buku.
“Mereka adalah penggerak literasi, fasilitator pengetahuan, kurator informasi, sekaligus mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas,” katanya.
Mendikdasmen juga mengajak seluruh perpustakaan sekolah bertransformasi menjadi learning commons, yaitu pusat pembelajaran yang aktif, inklusif, dan inspiratif.
Dalam paparannya, Kepala Badan Komunikasi Presiden Mohammad Qodari menjelaskan, buku ‘Presiden Solusi’ merupakan dokumentasi berbagai kebijakan Presiden Prabowo Subianto selama 18 bulan pertama pemerintahan.
Menurut Qodari, buku tersebut menjadi rekapitulasi awal implementasi gagasan Presiden yang sebelumnya tertuang dalam buku Strategi Transformasi Bangsa.
“Buku ini adalah bentuk pertanggungjawaban sementara sekaligus materi komunikasi ke masyarakat. Program pemerintah penting untuk dikerjakan, tetapi juga harus dikomunikasikan agar masyarakat mengetahui manfaatnya,” ujar Qodari.
Karena ditujukan ke masyarakat luas, lbuku tersebut disusun dengan bahasa populer, desain visual yang menarik, dan format yang mudah dibaca, terutama oleh generasi muda.
“Buku tersebut sengaja disusun sebagai bacaan populer, bukan kajian akademik yang rumit. Setiap bab menampilkan persoalan yang dihadapi bangsa, solusi yang ditempuh pemerintah, serta perubahan yang terjadi setelah kebijakan dijalankan,” katanya.
Qodari menambahkan, berbagai solusi yang dihimpun dalam buku itu mencakup sektor pangan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, pertanian, perikanan, industrialisasi hingga digitalisasi.
“Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, swasembada pangan, hingga berbagai reformasi pelayanan publik menjadi bagian dari dokumentasi dalam buku tersebut,” katanya.
Hal senada disampaikan Dirgayuza Setiawan. Ia mengatakan, dirinya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendokumentasikan proses pengambilan keputusan Presiden Prabowo selama memimpin pemerintahan.
“Sebagai asisten khusus Presiden, saya merasa memiliki kewajiban terhadap sejarah untuk menuliskan apa yang sebenarnya terjadi di ruang sidang kabinet dan bagaimana Presiden mengambil keputusan,” katanya.
Menurut Dirgayuza, benang merah dari buku tersebut menampilkan karakter Presiden Prabowo yang selalu berusaha menghadirkan solusi secara cepat terhadap setiap persoalan bangsa.
“Buku ‘Presiden Solusi’ ini akan terus diperbarui, seiring bertambahnya kebijakan dan program pemerintahan. Diharapkan, buku tersebut menjadi catatan perjalanan transformasi yang dilakukan Presiden Prabowo selama masa kepemimpinannya,” ucap pria yang akrab disapa Yuza tersebut.
Di bagian akhir acara, Abdul Mu’ti menjelaskan, kegiatan bedah buku semacam ini akan menjadi agenda rutin Kemendikdasmen, sedikitnya satu kali dalam satu bulan.
Ia juga memastikan perpustakaan Kemendikdasmen semakin terbuka bagi pelajar dan masyarakat sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan mengembangkan budaya membaca.
“Kami ingin menghadirkan Kantor Kemendikdasmen bukan semata sebagai kantor administrasi, tetapi menjadi rumah pendidikan, tempat siapa pun anak Indonesia dapat belajar, membaca, dan berdiskusi,” kata Abdul Mu’ti menandaskan. (Tri Wahyuni)
