Suara Karya

Aliansi Kebangsaan Dorong Transformasi Ekonomi Berbasis Pengetahuan

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo menekankan pentingnya percepatan transformasi ekonomi Indonesia menuju ekonomi berbasis pengetahuan atau knowledge-based economy. Gagasan tersebut disampaikan dalam Forum Kelompok Terarah (FGD) bertema “Peta Jalan Transformasi Menuju Ekonomi Berbasis Pengetahuan” yang digelar secara daring pada Jumat, (13/3/2026).

Forum tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar dari berbagai lembaga, di antaranya Agus Pakpahan dari Universitas Koperasi Indonesia, Vivi Yulaswati dari Bappenas, Anugerah Widiyanto dari BRIN, I Gede Wenten dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, serta Yudi Latif sebagai penanggap dalam diskusi.

Dalam sambutannya, Pontjo menyampaikan bahwa pembahasan mengenai ekonomi berbasis pengetahuan sebenarnya telah lama menjadi perhatian Aliansi Kebangsaan. Namun, menurutnya, topik tersebut perlu terus diperdalam karena berkaitan langsung dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Ia menegaskan bahwa konsep kesejahteraan yang dicita-citakan para pendiri bangsa tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi semata. Kesejahteraan juga harus mencerminkan keadilan sosial, termasuk pemerataan kesempatan, distribusi kekayaan, dan akses terhadap berbagai sumber daya ekonomi.

Pontjo menjelaskan bahwa semangat tersebut tercermin dalam konsep ekonomi nasional yang menekankan kemandirian, kerja sama, dan gotong royong. Dalam sistem ekonomi yang inklusif, seluruh masyarakat harus memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi sebagai pelaku ekonomi.

“Ekonomi yang inklusif berarti tidak ada satu pun yang tertinggal. Semua masyarakat harus memiliki peluang untuk berkembang,” ujar Pontjo.

Ia juga menyinggung bahwa meskipun Indonesia telah merdeka secara politik sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, kemerdekaan dalam aspek mental dan ekonomi masih menjadi tantangan. Menurutnya, pola ekonomi yang terbentuk pada masa kolonial masih meninggalkan jejak, terutama dalam ketergantungan pada ekspor komoditas mentah dan eksploitasi sumber daya alam.

Pontjo menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan untuk keluar dari pola ekonomi lama yang minim nilai tambah. Padahal, perkembangan global menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi negara kini semakin ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Ia menjelaskan bahwa kemajuan sains dan teknologi telah mengubah lanskap ekonomi dunia. Berbagai inovasi seperti kecerdasan buatan, big data, serta konektivitas digital menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi modern.

“Keunggulan sebuah negara saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekayaan alam atau letak geografis, tetapi oleh kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya,” kata Pontjo.

Beberapa negara yang dinilai berhasil menerapkan ekonomi berbasis pengetahuan antara lain Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, dan China. Negara-negara tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan teknologi, inovasi, dan industri bernilai tambah tinggi.

Sementara itu, Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan potensi tersebut untuk meningkatkan daya saing ekonomi secara berkelanjutan.

Pontjo mengidentifikasi sejumlah tantangan utama dalam upaya transformasi ekonomi nasional. Salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia yang masih perlu diperkuat, karena dalam ekonomi berbasis pengetahuan kemampuan intelektual, kreativitas, dan penguasaan teknologi menjadi faktor penentu.

Selain itu, ekosistem inovasi nasional juga dinilai masih perlu diperbaiki. Ia menilai bahwa integrasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah harus diperkuat agar hasil riset dapat berkembang menjadi inovasi yang memberi manfaat ekonomi.

Menurut Pontjo, dunia usaha juga memegang peran penting dalam mendorong inovasi. Tanpa keterlibatan sektor bisnis, hasil penelitian dan pengembangan berisiko tidak berkembang menjadi produk atau teknologi yang dapat dimanfaatkan secara luas.

“Transformasi ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada negara. Dunia usaha memiliki peran strategis dalam mengembangkan dan memasarkan hasil inovasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa agenda transformasi ekonomi telah menjadi bagian penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Melalui agenda tersebut, pemerintah menargetkan perubahan struktur ekonomi dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi industri berteknologi tinggi.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing Indonesia di tingkat global sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

Meski demikian, Pontjo menegaskan bahwa transformasi ekonomi harus tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila dan prinsip keadilan sosial. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memastikan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

“Transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan harus tetap menjaga nilai-nilai kebangsaan dan bertujuan menciptakan kemakmuran yang berkeadilan,” kata Pontjo.

Dalam forum tersebut, ia juga menekankan pentingnya penyusunan peta jalan yang jelas sebagai panduan transformasi ekonomi nasional. Peta jalan tersebut perlu memuat pilar-pilar strategis, kebijakan utama, tahapan implementasi, serta mekanisme sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan. (Boy)

Related posts