JAKARTA (Suara Karya): Institut Pariwisata (IP) Trisakti menjadi tuan rumah perhelatan Olimpiade OMNI Sains Indonesia (OSI) II tingkat Provinsi DKI Jakarta, yang diikuti 2.358 siswa dari jenjang TK hingga SMA se-Jabodetabek.
Kepala Bagian Kemahasiswaan IP Trisakti, Dr RMW Agie Pradhipta MSc menjelaskan, pihaknya bersedia mengelola kegiatan tersebut karena selaras dengan keilmuan yang diajarkan di kampus, terutamq bidang ‘event management’.
“Momen lomba ini kami pergunakan sebagai sarana implementasi ilmu bagi mahasiswa. Acara ini dikelola mahasiswa sesuai dengan program studinya, terutama dari Prodi Usaha Perjalanan Wisata, Perhotelan dan Wirausaha,” ujarnya.
Kepala Sub Bagian Kemahasiswaan IP Trisakti, yang juga PIC dari kampus IP Trisakti dalam OSI II, Fifi Nofiyanti M.Pd, M.Par menjelaskan, IP Trisakti menyiapkan sekitar 22 ruang kelas untuk menampung 2.358 peserta.
“Setiap kelas diisi sekitar 30-40 siswa dan pelaksanaan lomba dibagi menjadi tiga sesi waktu, sejak pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB,” tutur FIfi.
Fifi mengaku bangga IP Trisakti terpilih sebagai tuan rumah OSI II, karena selain bisa menerapkan keilmuan, kegiatan tersebut juga bisa menjadi ajang promosi kampus kepada siswa sejak dini, khususnya siswa SMP dan SMA yang mulai menentukan jalur pendidikan untuk masa depan.
“OSI merupakan kompetisi yang sudah berjalan selama 2 tahun dan telah terkurasi di Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,” ungkapnya.

Status terakurasi menjadi penting, karena sertifikat yang dikeluarkan panitia bisa digunakan untuk jalur prestasi ke jenjang pendidikan berikutnya, mulai dari SD hingga perguruan tinggi.
“Itu yang membuat orangtua sangat antusias mengajak anaknya untuk ikut OSI,” ucap Fifi.
Adapun bidang lomba yang dipertandingkan dalam OSI II meliputi Matematika dan bahasa Inggris untuk jenjang TK; Matematika, bahasa Inggris, IPA, dan IPS untuk jenjang SD dan SMP; dan Matematika, bahasa Inggris, IPA, IPS, Sosiologi serta Geografi untuk jenjang SMA.
Selain medali dan penghargaan, panitia juga menyediakan hadiah utama berupa perjalanan ke luar negeri seperti Dubai, Taiwan, dan Thailand bagi peraih nilai tertinggi dari seluruh jenjang.
Seleksi OSI dilakukan berjenjang, dimulai dari tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional. Pelaksanaan tahun ini digelar serentak di beberapa wilayah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan.
Salah satu peserta, Raffi Akbar Maulana dari SMP Al-Azhar Syifa Budi Cibinong yang ditemui di sela kegiatan mengatakan tertarik untuk ikut OSI karena selain dorongan orangtua, juga ingin menyiapkan jalur prestasi ke SMA negeri.
“Saya sudah belajar, browsing materi, dan konsultasi juga dengan keluarga. Yang paling penting adalah berdoa sebelum lomba,” kata Raffi yang sering ikut lomba-lomba bidang sains semacam ini untuk mencari pengalaman dan sekaligus meningkatkan kepercayaan dirinya.
Pernyataan senada disampaikan Shanti (45) saat sedang menunggu tiga anaknya tengah mengikuti OSI. Meski ketiga anaknya bersekolah BPK Penabur Depok, lokasi lomba memilih ke Jakarta.
“Dibanding harus ke Bandung, kami pilih ke IP Trisakti karena lebih dekat. Cuma butuh waktu sekitar 1 jam ke sini,” tuturnya.
Ia mengaku rajin mengantar ketiga anaknya (2 anak di jenjang SD dan 1 anak di Jenjang SMP) ikut kompetisi yang terakurasi Kemdikdasmen agar mereka bisa masuk ke pendidikan yang lebih tinggi lewat jalur prestasi.
“Persaingan masuk ke SMA negeri yang bagus-bagus sangat ketat. Dari sekarang, penting ikut lomba-lomba agar anak lebih percaya diri dan portofolio prestasinya juga bagus,” kata Shanty menandaskan. (Tri Wahyuni)
