JAKARTA (Suara Karya): Rajungan menjadi salah satu komoditas seafood dengan potensi ekspor yang sangat besar. Karena tekstur dagingnya yang lembut dan cita rasanya yang luar biasa.
“Rajungan hingga saat ini menjadi salah satu produk unggulan Aruna. Hewan laut itu laris keras, baik di dalam maupun luar negeri,” kata Quality Assurance Aruna, Apris Modica di Jakarta, Kamis (25/5/22).
Agar tak mudah terkontaminasi bakteri yang menyebabkan kerusakan prosuk, Rajungan produksi Aruna menggunakan pengawetan dengan teknik pasteurisasi.
Pasteurisasi adalah teknik pengolahan makanan untuk mengurangi jumlah mikroorganisme patogen melalui proses pemanasan dengan suhu tertentu untuk jangka waktu yang ditentukan.
Pada proses pasteurisasi, daging rajungan harus dibersihkan lebih dulu. Setelah itu, pisahkan antara cangkang dengan dagingnya. Daging rajungan akan dipanaskan pada suhu sekitar 86-87 derajat Celsius selama 140 menit.
“Tahap ini sangat krusial, karena itu suhu dan waktu pasteurisasi harus dilakukan tepat agar daging rajungan aman dari mikroorganisme patogen,” ujarnya.
Setelah itu, daging rajungan didinginkan dengan suhu nol hingga dua derajat Celcius selama 120 menit sebelum dikemas.
Apris memaparkan manfaat pasteurisasi pada daging rajungan. Pertama, proses itu dapat menghancurkan mikroorganisme patogen, seperti Salmonella dan E-coli yang berpotensi besar menyebabkan penyakit.
Kedua, pasteurisasi juga memperpanjang umur simpan daging dengan mengurangi pertumbuhan bakteri yang bersifat destruktif.
“Proses ini memungkinkan daging rajungan tetap terjaga kualitas dan kesegarannya, baik selama pengiriman maupun penyimpanannya,” tuturnya.
Selain menjaga kualitas pangan, lanjut Apris, pasteurisasi juga dapat meningkatkan rasa gurih dan menghasilkan tekstur yang lebih lembut pada daging rajungan.
Sengan berbagai manfaat itu, tak heran pasteurisasi memainkan peran penting dalam industri pengolahan makanan rajungan.
Kelezatan rajungan produksi Aruna untuk pasar ekspor, kini masuk pasar domestik dengan merek Boon. Produk yang dikemas secara higienis itu siap diolah menjadi masakan yang lezat. (Tri Wahyuni)
