Suara Karya

KLH dan APP Group Ajak Generasi Muda Kenali Pengelolaan Ekosistem Gambut di Jambi

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama APP Group, melalui unit usahanya PT Wira Karya Sakti (WKS) mengajak generasi muda untuk mengenal lebih dekat pengelolaan ekosistem gambut di Jambi.

Acara bertajuk KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda) itu dilaksanakan di area operasional PT WKS, di Distrik VII, Provinsi Jambi, Selasa (3/2/26).

Kegiatan tersebut dilakukan sekaligus memperingati Hari Lahan Basah Internasional.

KELANA merupakan program inisiasi KLH/BPLH yang dirancang sebagai platform edukasi lingkungan bagi generasi muda, dengan melibatkan dunia usaha sebagai mitra kolaboratif.

Pada pelaksanaannya di Jambi, PT WKS berperan sebagai tuan rumah kegiatan, sekaligus membuka akses pembelajaran lapangan bagi peserta.

Puluhan pelajar SMA perwakilan dari beberapa daerah di Indonesia mengikuti rangkaian diskusi interaktif dan field trip yang berfokus pada perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, mulai dari aspek hidrologi, pencegahan kebakaran, hingga pemanfaatan ekonomi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH/BPLH, Edy Nugroho Santoso menjelaskan, KELANA menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas edukasi ekosistem gambut kepada generasi muda melalui pendekatan kolaboratif.

“Gambut butuh perhatian dari berbagai kalangan karena memiliki fungsi ekologis sekaligus potensi ekonomi. Kami ingin menunjukkan, pemeliharaan gambut dapat berjalan seiring dengan manfaat ekonomi,” ujarnya.

Selain gambut, peserta juga diperkenalkan pada keterkaitan fungsi ekosistem mangrove sebagai bagian dari lahan basah, terutama dalam konteks keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan fungsi hidrologis.

“Baik gambut maupun mangrove memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim, meski berada pada lanskap yang berbeda,” ucapnya.

Pemilihan lokasi kegiatan di Distrik VII PT WKS, lanjut Edy, didasarkan pada praktik pengelolaan hidrologis gambut yang telah berjalan dengan baik. Selain adanya pemberdayaan masyarakat di sekitar area konsesi, yang sejalan dengan arah kebijakan KLH dalam mendorong kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.

Sementara itu, Deputy Director of Corporate Strategic & Relations APP Group, Iwan Setiawan mengatakan, keterlibatan APP Group dalam KELANA merupakan bentuk dukungan terhadap program edukasi lingkungan yang diinisiasi pemerintah.

“Melalui KELANA, kami mendukung upaya KLH untuk mengajak generasi muda melihat langsung pengelolaan lahan gambut dilakukan secara bertanggung jawab. Pengelolaan gambut di area budidaya selain memberi manfaat ekonomi, juga menjaga fungsi lingkungannya,” kata Iwan.

Ia menambahkan, pengalaman langsung di lapangan diharapkan dapat membangun pemahaman yang utuh dan mendorong peserta untuk menyebarkan narasi positif mengenai pengelolaan gambut yang benar dan berkelanjutan.

Salah satu peserta KELANA dari SMA Negeri 1 Manado, Princessa Erilca Ratu mengaku, banyak mendapat pembelajaran yang berkesan karena dapat melihat dan merasakan langsung pemanfaatan lahan basah.

“Kami senang sekali berada di sini, karena bisa merasakan langsung madu dari lahan basah dan belajar bagaimana ekosistem gambut dikelola hingga memiliki nilai ekonomi,” tuturnya.

Dari kegiatan itu, Princessa semakin sadar bahwa lahan basah itu dekat dengan kehidupan masyarakat dan perlu dijaga bersama demi masa depan yang berkelanjutan.

Apresiasi serupa disampaikan Puteri Indonesia Lingkungan, Sophie Kirana. Ia menilai KELANA memberi pemahaman yang komprehensif bagi generasi muda tentang pentingnya ekosistem gambut.

“Kami belajar gambut bukan sekadar lahan kosong, tetapi memiliki peran besar bagi lingkungan. Harapannya, semakin banyak anak muda yang sadar dan ikut menjaga kelestarian gambut sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan KELANA di PT WKS meliputi pemaparan pengelolaan tata air gambut, peninjauan pembangunan sekat kanal, praktik pengeboran gambut, dan pengenalan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (MPA).

Selain itu, siswa juga melihat pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) madu, kegiatan penanaman, serta kunjungan ke situation room untuk memahami sistem pemantauan dan kesiapsiagaan di lapangan. (Tri Wahyuni)

Related posts