JAKARTA (Suara Karya): Upaya memperkuat literasi sekaligus pemberdayaan perempuan terus digaungkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).
Berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemdikdasmen, Badan Bahasa menggelar bedah buku berjudul ‘Kedahsyatan Bahasa’ karya Atikah Solihah, di Gedung Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (1/4/26).
Kegiatan yang dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai kalangan pendidikan, terutama perempuan merupakan bagian dari rangkaian Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Tahun 2026.
Hadir tokoh pendidikan nasional Wardiman Djojonegoro yang ikut memberi dukungan terhadap penguatan literasi perempuan.
Forum bedah buku menghadirkan penulis bersama dua pembedah, yakni Ivan Lanin dan Asma Nadia, serta dimoderatori Ni Luh Anik Mayani.
Diskusi berlangsung dinamis, membahas peran strategis bahasa dalam membentuk cara berpikir, berkomunikasi, hingga memperkuat posisi perempuan di ruang publik.
Dalam paparannya, Atikah Solihah menjelaskan, buku setebal 240 halaman itu dibangun atas tiga perspektif utama, yaitu bahasa sebagai kajian ilmiah, sebagai alat komunikasi dan interaksi, serta sebagai representasi realitas.
Ia menekankan, bahasa memiliki peran penting dalam menjelaskan berbagai peluang, termasuk ribuan jenis pekerjaan yang tercatat dalam data statistik nasional.
“Bahasa seharusnya mampu menjelaskan dan membuka akses terhadap berbagai peluang tersebut, sehingga masyarakat dapat memahaminya secara lebih luas,” ujarnya.
Sementara itu, Ivan Lanin menyoroti hubungan erat antara bahasa dan pemberdayaan perempuan. Ia menilai, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana untuk membangun eksistensi dan identitas diri.
Menurutnya, perempuan memiliki kekuatan bahasa yang khas, yakni relasional dan empatik, yang justru mencerminkan kecakapan moral tinggi. “Ide tentang bahasa perempuan sering dianggap kurang berwibawa, padahal justru di situlah letak kekuatannya,” kata Ivan.
Ia juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan ‘bahasa perempuan’, karena lebih banyak dilatih dari teks formal dan institusional.
Pandangan senada disampaikan penulis kondang Asma Nadia. Ia menegaskan, bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk relasi, termasuk dalam keluarga. Pilihan kata, dapat menjadi perekat hubungan atau justru sebaliknya.
“Bahasa bisa mempererat hubungan, tapi juga bisa menjadi sumber retakan. Karena itu, penting bagi kita untuk bijak dalam berbahasa,” ujarnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi makna peringatan Hari Kartini yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diisi dengan aktivitas edukatif yang berdampak nyata. Melalui literasi, perempuan diharapkan semakin berdaya, kritis, dan mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
Bedah buku ‘Kedahsyatan Bahasa’ pun menjadi ruang temu antara isu perempuan, bahasa, sastra, dan pendidikan. Literasi adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berdaya. (Tri Wahyuni)
