Suara Karya

UT Kembangkan Aplikasi Posyandu Digital SI MAMY, Rawakalong jadi Desa Percontohan

BOGOR (Suara Karya): Universitas Terbuka (UT) resmi meluncurkan aplikasi SI MAMY (Smart Integrated Maternal and Mom Young/Yandu) sebagai inovasi digital untuk memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak di tingkat desa.

Aplikasi Posyandu Digital berbasis android tersebut mulai diimplementasikan di Desa Rawakalong, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Desa Rawakalong diharapkan dapat menjadi percontohan (pilot project) untuk Posyandu Digital Nasional.

Peluncuran SI MAMY merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT, dengan dukungan pendanaan bersama dari UT dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Melalui program ini, UT tidak hanya menghadirkan solusi digital bagi Posyandu, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem desa sehat berbasis data dan teknologi, yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka, Kani, S.Kom, M.Kom, menjelaskan, pengembangan SI MAMY berangkat dari kebutuhan untuk memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan layanan kesehatan ibu dan anak yang selama ini masih dilakukan secara manual.

“Setahun lalu kami mulai membahas bagaimana digitalisasi desa dapat dilakukan melalui layanan yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu Posyandu. Lahirlah gagasan untuk mengembangkan SI MAMY, sebagai sistem untuk membantu kader Posyandu melakukan pencatatan, pemantauan, dan pelaporan secara digital,” ujar Kani.

Pernyataan Kani disampaikan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Rawakalong, Jumat (20/6/26).

Menurut Kani, awalnya sistem dirancang berbasis komputer. Namun setelah berdiskusi dengan aparat desa dan kader Posyandu, tim pengembang memutuskan mengalihkannya menjadi aplikasi berbasis perangkat mobile agar lebih mudah digunakan di lapangan.

“Kami ingin aplikasi ini sederhana dan mudah diakses. Kader Posyandu tidak perlu menggunakan laptop. Cukup dengan handphone atau tablet berbasis android yang harganya terjangkau, mereka sudah bisa menjalankan seluruh fungsi aplikasi,” katanya.

Ditambahkan, SI MAMY dirancang untuk menghubungkan data dari tingkat Posyandu hingga pemerintah desa, bahkan berpotensi terintegrasi dengan sistem yang lebih luas di tingkat nasional.

“Kami berharap ke depan data yang diinput di Posyandu tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi dapat terhubung dengan desa, kecamatan, hingga kementerian. Karena itu diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk membangun sistem integrasi data yang kuat,” tuturnya.

Kani menegaskan, Rawakalong dipilih bukan hanya sebagai lokasi implementasi, tetapi juga sebagai fondasi lahirnya model digitalisasi Posyandu yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

“Kami ingin membangun sistem lokal yang berdampak nasional. Rawakalong menjadi ‘pilot project’ sekaligus ‘living laboratory’ bagi pengembangan transformasi digital desa berbasis layanan kesehatan masyarakat,” kata Kani.

Ditambahkan, selama ini Posyandu masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari pencatatan manual di buku, pengolahan data yang memakan waktu, keterlambatan pelaporan, hingga kesulitan memantau perkembangan kesehatan ibu hamil dan balita secara berkelanjutan.

“Melalui aplikasi ini, data ibu hamil dan balita dapat dicatat secara digital dan terintegrasi. Sistem juga mampu menghitung status gizi secara otomatis berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Permenkes Tahun 2020,” ujarnya.

Kader Posyandu cukup memasukkan data berat badan, tinggi badan, usia balita, atau hasil pemeriksaan ibu hamil. Selanjutnya sistem akan mengolah data secara otomatis dan memberikan rekomendasi tindak lanjut yang dapat menjadi referensi bagi kader maupun tenaga kesehatan.

Selain itu, aplikasi dilengkapi fitur pengingat (reminder) dan notifikasi otomatis apabila terdapat balita yang belum ditimbang, ibu hamil yang belum menjalani pemeriksaan rutin, atau kondisi yang memerlukan perhatian khusus seperti risiko stunting dan gangguan gizi.

Keunggulan lainnya, sebagian besar fitur aplikasi tetap dapat digunakan tanpa koneksi internet. “Hampir seluruh fitur utama dapat berjalan secara offline,” pungkasnya.

Menurutnya, hal itu penting karena tidak semua wilayah di Indonesia memiliki kualitas jaringan internet yang sama. Data tetap bisa dicatat dan akan tersinkronisasi ketika perangkat terhubung dengan internet.

SI MAMY juga memungkinkan pembuatan laporan secara otomatis sehingga kader tidak perlu lagi menyusun laporan secara manual sebagaimana yang selama ini dilakukan.

Peluncuran SI MAMY juga menjadi bagian dari kegiatan FGD dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat yang melibatkan pemerintah desa, kader Posyandu, PKK, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Camat Gunung Sindur, Muhamad Jamaluddin, S.IP, M.Si, dan dihadiri oleh Kepala Desa Rawakalong H Wardi, Sekretaris Desa Jawanih, SH, M.Hum, serta pakar Sistem Informasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Irman Hermadi, SKom, MS, PhD.

Selain menyosialisasikan hasil pengembangan aplikasi, forum tersebut juga dimanfaatkan untuk merumuskan arah transformasi digital Desa Rawakalong dalam lima tahun ke depan.

“Kami ingin melihat bagaimana digitalisasi desa dapat berkembang secara berkelanjutan. Posyandu menjadi pintu masuk, tetapi ke depan transformasi digital dapat diperluas ke berbagai sektor pelayanan publik lainnya,” kata Kani

Kepala Desa Rawakalong, H Wardi, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan UT selama beberapa tahun terakhir.
“Terima kasih kepada Universitas Terbuka yang telah mempercayai Desa Rawakalong sebagai lokasi pengembangan program ini,” ungkapnya.

Wardi mengaku pihaknya terbantu, karena digitalisasi memang sudah menjadi kebutuhan dalam tata kelola pemerintahan maupun pelayanan masyarakat.

“Aplikasi SI MAMY akan sangat membantu kader Posyandu dan Tim Penggerak PKK dalam melakukan pemantauan kesehatan ibu hamil, balita, serta pencegahan stunting secara lebih efektif,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Gunung Sindur Muhamad Jamaluddin menyatakan, inovasi yang dikembangkan UT sejalan dengan program digitalisasi yang sedang didorong pemerintah daerah.

“Kami mengapresiasi Universitas Terbuka yang telah menjadikan Desa Rawakalong sebagai pilot project. Ini menjadi kebanggaan bagi kami,” ucapnya.

Ia menilai masyarakat Gunung Sindur cukup siap menerima transformasi digital, karena wilayah tersebut berada di kawasan penyangga perkotaan yang berbatasan dengan Kota Tangerang Selatan dan Kota Depok.

Menurut Jamaluddin, jika implementasi SI MAMY berjalan baik di Rawakalong, model serupa sangat memungkinkan untuk diperluas ke desa-desa lain di Kecamatan Gunung Sindur.

“Harapannya program ini tidak berhenti di satu desa saja. Ketika manfaatnya terbukti, tentu bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui teknologi digital,” katanya.

Melalui SI MAMY, Universitas Terbuka berharap digitalisasi Posyandu tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga menjadi langkah awal membangun desa berbasis data, memperkuat tata kelola pemerintahan, serta terwujudnya pembangunan desa yang berkelanjutan di Indonesia. (Tri Wahyuni)

Related posts